FeaturedJalan Pinggir

World War Z: Cara Berpikir Menghadapi Wabah

Oleh: Delianur

Sebagaimana Contagion, World War Z juga berbicara tentang wabah virus yang menjadi pandemi. Hanya saja bila kita menonton Contagion, apa yang diperlihatkan relatif lebih mendekati dengan keadaan sekarang dibanding ketika kita menonton World War Z.

Dalam Contagion kita jadi tahu notasi R sebagai rumus penyebaran, kelelawar sebagai asal muasal virus, China sebagai awal penyebaran, perlunya tracking penyebaran virus, sampai dengan penemuan pembuatan dan distribusi vaksin yang membutuhkan waktu lama. Meski pastinya akan ada yang dilebih-lebihkan sebagaimana layaknya sebuah film. Karena konon Contagion mendasarkan filmnya pada riset yang cukup kuat. Sehingga tidak aneh, bila mantan semua bintang film ini beberapa waktu lalu sempat reuni dan berkampanye bahayanya pentingnya tinggal di rumah untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona. Sementara World War Z, adalah film berdasar novel.

Sementara unsur dramatisasi World War Z sangat kuat. Tiba-tiba saja kita disuguhi ada orang yang berubah menjadi zombie karena digigit zombie lainnya. Ternyata karena ada virus yang membuat orang bisa berubah menjadi zombie.

Namun ada hal menarik dalam World War Z. Tentunya dengan memakai dramatisasi, film ini sempat menceritakan tentang gagalnya Amerika membendung wabah, Israel yang sempat sukses kemudian gagal, serta Korea Utara yang berhasil membendung wabah. Beserta sebab-sebab kenapa negara-negara itu gagal dan sukses.

Amerika bukan hanya meremehkan sebuah nota yang menyebutkan datangnya sebuah virus berbahaya, tetapi juga tidak membaca nota itu. Karena nya hancur lah kota-kota di Amerika sampai Presiden nya pun meninggal. Berbeda dengan Korea Utara dan Israel yang mengindahkan nota kedatangan virus itu dan membuat tindakan antisipatif.

Meskipun Korea Utara mempunyai banyak senjata dan zombie bisa dihancurkan dengan senjata, ternyata Korea Utara tidak memakai senjata untuk membasmi virus. Korea yang otoriter dan kejam terhadap rakyatnya menangkal wabah dengan cara menyuruh 23 Juta warganya mencabut gigi mereka semua. Karena penyebaran virus itu melalui gigitan. Dalam waktu 10 detik setelah digigit zombie, orang akan berubah menjadi zombie.

Sementara Israel lain lagi. Negara kecil yang senantiasa berada dalam ancaman ini, berhasil melawan wabah karena menerima semua informasi dan dengan sangat hati-hati menseleksi kebenarannya.

Menurut Israel, mereka sudah lama merubah cara berpikir dalam menghadapi setiap ancaman. Dulu setiap mereka menerima informasi datangnya ancaman terhadap negaranya, mereka akan menyuruh 10 orang untuk menganalisanya. Bila 9 dari 10 orang itu menyatakan bahwa ancaman itu bohong, maka mereka akan membiarkannya. Tetapi ternyata pengalaman berkata lain. Dari sekian kejadian, ternyata argumen satu orang yang berbeda itulah ternyata yang benar.

Israel pun merubah cara berpikirnya. Sekarang bila ada informasi ancaman terhadap negara, mereka tetap meminta pendapat 10 analis. Bila 9 dari 10 analis itu mengatakan itu bukan ancaman, maka 1 orang analis yang mempunyai pendapat berbeda itulah yang disuruh membuktikan kebenaran analisanya sampai tingkat yang paling dalam. Dalam World War Z, keberhasilan Israel menghadapi wabah karena mereka menguji lebih detail pendapat minoritas yang mengatakan bila itu ancaman.

Hal menarik dari Israel juga ketika dia menerima penduduk Mesir, orang Islam, dan juga Kristen masuk ke kotanya. Padahal sebagaimana diketahui, Mesir adalah negara tetangga yang selalu mereka waspadai. Sementara orang Islam dan Kristen adalah penganut Agama yang tidak pernah berhenti berseteru dengan penganut Yahudi sebagai pemeluk Agama terbanyak di Israel.

Ternyata alasan Israel menerima mereka sederhana. Menurut Israel, menerima satu manusia yang belum terinfeksi virus, berarti mengurangi 1 zombie yang menjadi musuh mereka. Jadi meredam permusuhan, bagi Israel sangat pentjng di masa pandemi.

Selanjutnya

Artikel Terkait

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: