Jalan Pinggir

Via Vallen dan Lagu Jawa

Oleh Damar Shasangka

Kali ini saya akan membahas sesuatu yang bisa dianggap tidak penting juga bisa pula dianggap penting. Sebagai orang Jawa yang sadar sastra Jawa, sebenarnya sudah lama saya merasa terganggu dengan hal yang hendak saya bahas ini. Namun ketergangguan tersebut mampu saya pendam sedemikian rupa dengan rapat. Hingga akhirnya ketergangguan itu meletup keluar ketika mendapati obyek yang membuat saya terganggu mendadak saja beroleh penghargaan dalam ajang Anugerah Dangdut Indonesia 2017 yang diselenggarakan oleh salah satu stasiun TV swasta sebagai penyanyi solo wanita populer. Pasti sampeyan sudah bisa menebak siapa sosok yang tengah saya bicarakan. Ya, Via Vallen. Penyanyi pendatang baru di kancah nasional, namun bukan penyanyi baru di kancah lokal, khususnya di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Penyanyi yang kini tengah mendapatkan keberuntungan karena kebetulan saja dirinya sempat melagukan satu lagu berbahasa Jawa (campuran dengan bahasa Indonesia) dan tanpa disangka-sangka lagu tersebut mendapat sambutan hangat serta disukai di panggung nasional. Bukan penampilan dia yang mengundang keterusikan saya, bukan pula suara merdu dia yang mengganggu saya, bukan juga keberuntungan dia yang membuat saya kurang enak, semua sudah sempurna, tak ada yang perlu lagi untuk dikoreksi apalagi dikritik, hanya saja ada sedikit yang masih saya anggap mengganggu semenjak pertama kali kemunculannya menyanyikan lagu Jawa, jauh sebelum dikenal publik nasional seperti sekarang ini.

Ketergangguan tersebut menyangkut pengucapan beberapa fonem Jawa yang salah. Satu kesalahan khas ABG Jawa saat ini yang sok kota (atau setidaknya ingin dianggap seperti orang Jakarta) sehingga dengan sengaja mengelirukan atau berpura-pura tidak bisa mengucapkan beberapa fonem Jawa dengan benar. Ini berbeda dengan penyanyi-penyanyi lokal lain yang juga tak kalah cantik, tak kalah merdu dalam bernyanyi, serta tak kalah sempurna dalam berpenampilan, sebut saja, Ratna Antika, Nella Kharisma dll. Sayang mereka ini tidak mendapat keberuntungan seperti Via Vallen walau mereka sebenarnya telah banyak menyanyikan lagu-lagu Jawa jauh-jauh hari sebelum Via Vallen sendiri. Mereka ini dengan tepat mampu mengucapkan fonem Jawa dengan artikulasi yang sempurna, tanpa dibebani oleh perasaan enggan atau malu-malu untuk mengucapkan, atau tanpa sok berlagak tidak bisa mengucapkan agar dianggap seperti anak Jakarta.

Ada empat fonem Jawa yang saya soroti yang sering keliru diucapkan oleh seorang Via Vallen. Yaitu fonem konsonan apiko-dental yang terdiri dari fonem /d/ dan /t/ serta fonem konsonan apiko-palatal, yang terdiri dari fonem /dh/ dan /th/. Empat macam fonem ini jika tertukar pengucapannya akan mengakibatkan arti yang salah dan fatal dalam berbahasa Jawa. Pengucapan dari fonem konsonan apiko-dental dengan cara menyentuhkan ujung lidah ke gigi atas sedangkan pengucapan dari fonem konsonan apiko-palatal dengan cara menyentuhkan ujung lidah ke langit-langit mulut. Sebagai orang Jawa asli –kalau memang Via Vallen ini berdarah Jawa- pasti tidak akan kesulitan untuk mengaplikasikan pengucapan tersebut. Terkecuali jika dia tidak berdarah Jawa asli.

Contoh kata yang mengandung fonem apiko-dental /d/ adalah : /d/u/d/u (bukan), /d/a/d/i (jadi), /d/a/d/ar (dadar), /d/alan (jalan), wê/d/i (takut), mên/d/êm (mabuk), tan/d/ur (tanam), wa/d/i (rahasia), dll.

Contoh kata yang mengandung fonem apiko-dental /t/ adalah : /t/u/t/uk (mulut), /t/u/t/ur (ucap), /t/uwuh (tumbuh), /t/andur (tanam), /t/ampa (terima), /t/amba (obat), man/t/uk (pulang), dll.

Contoh kata yang mengandung fonem apiko palatal /dh/ adalah : /dh/a/dh/u (dadu), /dh/uwur (tinggi), wê/dh/i (pasir), mên/dh/êm (mengubur), dll.

Contoh kata yang mengandung fonem apiko-palatal /th/ adalah : /th/u/th/uk (dipukul dengan benda tepat pada kepala), ba/th/uk (kening), /th/ukul (tumbuh), man/th/uk (mengangguk), /th/ênguk-/th/ênguk (duduk dengan nyaman sendirian), dll.

Dik Via ini seringkali mengucapkan fonem apiko-dental /d/ menjadi fonem apiko-palatal /dh/. Sehingga menjadi tidak ada beda lagi antara fonem apiko-dental /d/ dengan fonem apiko-palatal /dh/. Juga kerap kali mengucapkan fonem apiko-palatal /th/ menjadi fonem apiko-palatal /t/. Sehingga tidak ada beda lagi antara fonem apiko-palatal /th/ dengan fonem apiko-dental /t/. Jauh-jauh hari gejala seperti ini terjadi pada anak-anak muda Jawa yang sok kota. Satu gejala yang bisa mengacaukan bahasa Jawa karena jika dibiar-biarkan maka tidak akan ada lagi perbedaan pengucapan: wê/d/i (takut) dengan wê/dh/i (pasir). Kedua kata tersebut akhirnya dipukul rata diucapkan menjadi: wêdhi (pasir). Tidak ada perbedaan lagi kata: Mên/d/êm (mabuk) dengan mên/dh/êm (mengubur). Kedua kata ini dipukul rata diucapkan menjadi: mêndhêm (mengubur). Jika terus-menerus begini, rusaklah bahasa Jawa akhirnya.

Dan menjadi sangat bermasalah ketika sosok Via Vallen yang kini telah menjadi figur sekaligus icon baru penyanyi Jawa yang menasional, malah seringkali salah dalam mengucapkan beberapa fonem Jawa secara tepat. Yang menjadi ketakutan saya, banyak anak muda Jawa yang terlanjur mengidolakan Via Vallen akhirnya ikut-ikutan salah kaprah karena mencontoh apa yang diucapkan oleh idolanya dan semakin tidak bisa membedakan pengucapan beberapa fonem Jawa sebagaimana mestinya. Karenanya saran saya kepada Via Vallen, cobalah belajar lagi mengucapkan fonem Jawa dengan tepat, jangan dibuat-buat, sebagai orang Jawa pasti sampeyan bisa. Sepanjang belum benar sampeyan mengucapkan, selama itu pula saya belum bisa mengidolakan sampeyan. Saya tetap konsisten mengidolakan Nella Kharisma atau Ratna Antika yang selain cantik, suaranya juga merdu sekaligus yang terpenting, sangat tepat ketika mengucapkan fonem-fonem Jawa ketika menyanyikan lagu-lagu Jawa. Jika suatu saat nanti Via Vallen sudah bisa memperbaiki pengucapan beberapa fonem Jawa yang seringkali salah dia ucapkan, sudah barang tentu saya akan ikut mengidolakannya juga. Sekali lagi, sebenarnya suaranya khas dan bagus, namun sayang, masih kurang tepat dalam pengucapan beberapa fonem Jawa.

Love You Dik Via.

Damar Shashangka.
13 Januari 2018

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya
Scroll Up