Jalan Pinggir

Ustadz Abdul Somad dan Kaum Miskin Kuota

Oleh Ahmad Basansi

Jika KH Zainuddin MZ dikenal dengan Kyai Sejuta Umat, maka ustadz Abdul Somad (UAS) layak disebut ustadz sejuta viewer. UAS adalah mubaligh generasi baru era internet yang populer dengan jutaan viewer. Berawal dari dunia maya khususnya melalui laman youtube, UAS kini tidak saja populer media sosial tapi sudah merambah ke TV Siaran. Bahkan ribuan massa siap menyambut kedatangannya ketika tampil di darat.

Sebagai ustadz yang populer melalui dunia maya, UAS punya jargon jargon yang khas seperti kata kuota (maksudnya kuota internet). Artinya dibutuhkan kuota data Internet yang cukup untuk bisa menikmati ceramah-ceramah UAS. Ceramah UAS menjadi viral karena banyak yang like and share. Makanya dalam banyak ceramah UAS sering mengajak khalayak untuk like and share.

Tentu saja tidak semua netizen dan masyarakat dunia maya menerima atau setuju dengan materi ceramah UAS. Beberapa materi ceramah UAS menjadi kontroversi. Bahkan karena masyarakat netizen yang terbelah banyak yang kemudian antipati kepada UAS.

Apalagi ketika keberpihakan UAS kepada umat Islam dan dukungan kepada Habib Rizieq, penolakan kepada UAS tidak hanya muncul di dunia maya. UAS pun ditolak ceramah di beberapa tempat.

Dalam beberapa ceramah UAS mengaku ada memang yang sengaja mencari cari kesalahan isi ceramahnya. Kepada mereka UAS berpesan: Makanya isi kuota dua giga, biar menonton dengan lengkap dan tidak mengambil sepotong potong isi ceramahnya. Maksudnya mungkin agar memahami secara penuh dan menghilangkan prasangka.

UAS bahkan dalam beberapa ceramahnya pernah menantang mereka yang suka mencari-cari kesalahan. Maksudnya tentu menegaskan bahwa tidak ada materi materi yang aneh yang ia sampaikan. Memang naif juga jika ustadz yang beberapa kali tampil di kantor-kantor elit pemerintah, Mabes TNI, di depan Hakim Agung, Gedung MPR RI dan tempat tempat strategis lainnya masih ditolak dengan anggapan anggapan minor seperti anti toleransi, anti NKRI dan tuduhan minor lainnya.

Sehingga sangat wajar ajakan kepada para penolak kehadiran UAS untuk membeli kuota dua giga. Juga siapkan hati dan pikiran yang terbuka untuk menerima pencerahan. Tetapi memang agak susah jika yang menolak itu bukan karena miskin kuota internet, tapi kuota hati dan kebesaran jiwa untuk menerima pencerahan. Kepada mereka, kita hanya bisa berdoa semoga “mendapat hidayah” sehingga kuota hatinya bertambah.

Seperti sinyalemen seorang budayawan bahwa bangsa ini sedang krisis rasa humor dan krisis ini lebih berbahaya dari krisis ekonomi atau krisis akibat harga dollar.

Dengan kata lain miskin kuota masih gampang diatasi dibanding miskin kuota hati. Karena itu, perbesar kuota hatimu biar siap menerima perbedaan dan tidak apatis kepada mereka yang berbeda pandangan. Gitu aja.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait