Jalan Pinggir

Tragedi Pak Guru Budi, PII Jakarta Usul Hidupkan Semangat Pendidikan Lingkar Tiga

Kanigoro.com – Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PW PII) Jakarta menyesalkan terjadinya kasus murid menganiaya guru yang terjadi di Sampang Jawa Timur. Namun PII Jakarta mengajak semua pihak untuk menggunakan kasus ini untuk melakukan oto kritik terhadap praktik pendidikan kita sehingga kasus-kasus kekerasan masih juga terjadi di dunia pendidikan.

“PW PII Jakarta menilai bahwa tindakan MH ini tidak bisa disalahkan sepenuhnya kepada pribadi MH itu sendiri, banyak faktor yang mengakibatkan perilaku MH menjadi seperti itu. Yang perlu dipertanyakan juga adalah bagaimana proses pendidikan dan pengawasan terhadap MH di sekolah atau di rumah, dan bagaimana proses pendidikan dan pengawasan saat MH berada di luar dunia sekolah dan rumah?” ujar Yusuf Salam, Ketua PW PII Jakarta, Minggu (4/2/2018).

Yusuf berpendapat saat ini sudah saatnya menghidupkan semangat pendidikan lingkar tiga, yakni proses pendidikan dan pengawasan yang berjalan saat anak di sekolah, di luar dunia sekolah dan rumah.

“Sehingga anak tidak pernah lepas dari proses pendidikan dan pengawasan, dengan begitu dapat meminimalisir hal-hal kejadian memalukan yang serupa”, Kata Yusuf Salam.

Untuk melaksanakan pendidikan lingkar tiga, pemerintah bisa menggandeng organisasi eksternal untuk terlibat dalam proses pendidikan dan pengawasan terhadap anak atau pelajar, khususnya pada saat anak berada di luar sekolah atau di luar rumah. “Pihak Pemerintah harus memperhatikan bagaimana proses pendidikan dan pengawasan anak pada saat di luar dunia sekolah dan rumah. Dimana dunia itu cenderung lebih bebas dan liar”, tambah Yusuf.

Sebagaimana diketahui, seorang guru tewas dipukul oleh muridnya sendiri karena tidak terima ditegur dan diberi sanksi. Ini adalah catatan hitam dalam dunia pendidikan untuk yang kesekian kalinya. Ahmad Budi Cahyono atau yang kerap dipanggil Bapak Guru Budi adalah guru honorer kesenian  di SMAN 1 Torjun, Sampang, Jawa Timur.

Sesuai dengan hasil rekontruksi Polres Sampang dan hasil otopsi RS. Dr. Soetomo Surabaya, Pada hari Kamis, 01 Februari 2018, Guru budi meninggal akibat pukulan ke tengkuknya. MH diketahui memukul karena tidak iterima setelah ditegur dan diberi sanksi atas perbuatannya yang kerap mengganggu temannya yang sedang belajar.

MH memukul Guru Budi dari depan menyamping dengan tangan kanannya, pukulan itu mengenai tengkuk belakang Guru Budi. Tidak disangka pukulan itu berakibat fatal, pukulan itu mengenai organ vitalnya yang menyebabkan mati batang tengkorak sehingga membuat semua organ tubuh Guru Budi tidak berfungsi.

Berbagai pihak bereaksi keras terhadap peristiwa ini. Publik kembali mempertanyakan masalah moral dan pendidikan anak yang semakin menurun sehingga berani melakukan penganiayaan kepada gurunya hanya karena persoalan sepele. (t)

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up