FeaturedJalan Pinggir

The Lost Smiles and Covid-19 Post-truth

Oleh: Prof. Dr. Daniel Mohammad Rosyid (Direktur Rosyid College of Arts Maritime Studies)

Semenjak WHO menyatakan Covid-19 sebagai pandemi, maka dunia menyerah dalam konstitusi Global Protocol Covid-19: menggunakan masker dan menjaga jarak sosial serta lockdown. Lalu kebutuhan masker mendadak naik. Harganya melonjak. Bersama protokol menjaga jarak, perlahan tapi pasti senyum hilang di planet bumi ini. What a huge loss.

Covid-19 memang sudah terbukti jelas berbahaya bagi kelompok rentan tapi relatif tidak berbahaya bagi kelompok muda dan sehat. Tapi menyatakannya sebagai pandemi adalah soal lain sama sekali. Menyatakannya sebagai pandemi dan memaksakan protokol yang gebyah uyah adalah keputusan WHO yang patut dipertanyakan. Terutama justru oleh Ikatan Dokter Indonesia yang anggotanya menjadi garda depan penanganan pasien Covid-19. Liputan media secara bertubi-tubi berhari-hari tentang statistika Covid-19, drama ruang ICU penuh pasien berventilator, paramedik berpakaian APD ala astronot, dan rentetan korban dokter dan perawat, serta pemakaman dengan protocol Covid-19 adalah fenomena post-truth : a firehose of falsehood, jika tidak bisa disebut legalised bioterorrism. Akibatnya tidak cuma dokter dan perawat hidup tertekan luar biasa, juga masyarakat luas secara sosial dan ekonomi. Manajemen penanganan atas pandemisasi WHO ini keliru dan harus diperbaiki.

Adalah tidak masuk akal jika penularan melalui droplet harus dicegah dengan meminta hampir semua orang menggunakan masker sekaligus menjaga jarak. Mobil hanya boleh berdua dengan istri di jok belakang. Bahkan ada usulan larangan bercengkrama di angkutan umum. Ongkos yang dipikul manusia seantero planet sebagai makhluq ekonomi, sosial dan budaya tidak sebanding dengan resiko kesehatan yang lebih kecil dari TBC yang anehnya tidak pernah dinyatakan oleh WHO sebagai pandemi. WHO memiliki pandangan kuda melihat manusia hanya makhluq biokimia belaka. Protokol-protokol Covid-19 itu praktis mengabaikan manusia sebagai makhluk sosial budaya. Tanpanya manusia bukanlah manusia.

Dalam Islam, senyum bernilai sedekah. Sedekah atau shadaqah berarti bukti iman. Namun senyum juga bernilai kesehatan karena meningkatkan berbagai hormon positif bagi kesehatan tubuh. Yang dibutuhkan untuk tersenyum atau bertukar senyum adalah wajah yang terbuka tidak tertutup masker. Tidak bisa kita hitung betapa selama 2-3 bulan terakhir kita kehilangan kesempatan untuk hidup lebih sehat secara fisik dan mental hanya karena kita tidak bisa bertukar senyum. Bagi perempuan, wajah adalah bagian yang boleh dibiarkan terbuka.

Islam juga menganjurkan agar sholat berjamaah di masjid dengan merapatkan barisan. Jangankan sholat berjamaah di Masjid, dengan protokol WHO saat ini masjidpun dipaksa atau diintimidasi untuk ditutup. Menyaksikan masjid kosong dan sholat berjamaah abnormal, Ummat Islam harus segera sadar ini adalah penggerusan iman ummat Islam. Sholat adalah teknik membina iman dan sholat berjamaah di masjid dengan shaf yang rapat dan lurus adalah teknik pembinaan iman terbaik.

Sebagai negara berdaulat dan manusia merdeka yang memiliki hak-hak konstitusional, kita perlu mempertanyakan wewenang WHO untuk menyandera negeri ini dengan pandemisasi Covid-19 beserta seluruh protokolnya. Pandemisasi ini telah dimanfaatkan oleh anasir tertentu di negeri ini untuk mengail di air keruh. Krisis Rumah Sakit tidak disebabkan oleh virus ini, tapi oleh pandemisasi dan protokol yang mengikutinya. Kita tidak bisa menerima begitu saja pernyataan-pernyataan WHO soal kapan Covid-19 ini akan reda. Kita pastikan PSBB ini yang terakhir di manapun di Indonesia. Ummat Islam Indonesia bisa segera bekerja kembali dengan wajar, lebih menjaga kebersihan, dan hidup wajar bertukar senyum tanpa masker, serta kembali sholat berjamaah di masjid-masjid dengan shaf yang lurus dan rapat.(Sudono Syueb/ed)

Gunung Anyar, 29/5/2020

Selanjutnya

Artikel Terkait

Check Also

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: