Jalan Pinggir

Sumantri Ngenger dan Visi Orang Jawa

Oleh Didik Achmadi

Orang Jawa selalu punya pengharapan baik atas kehidupan yang akan dijalani di masa mendatang. Dan juga dengan segala pemahamannya, mereka mengerti apa yang perlu dijadikan bekalan bekalan bagi dirinya. Itulah visi.

Penanaman visi kehidupan yang diberikan kepada orang Jawa dilakukan melalui kisah kisah kepahlawanan baik itu sosok yang benar hidup dulu pada zamannya, ataupun melalui kisah cerita, misalnya kisah pewayangan.

Orang Jawa memiliki cara pandang positif atas profesinya dan berpengharapan baik bahwa kariernya akan menanjak sampai pada puncaknya. Dalam lakon pewayangan, sosok orang desa datang ke kota yang kemudian mengembangkan profesinya digambarkan dengan sesosok Sumantri, pada lakon terkenalnya “Sumantri Ngenger”.

Awalnya Sumantri adalah sesosok pemuda desa yang digembleng oleh begawan Suwandagni di Padepokan Jatisrana. Kemudian dia ngenger di kerajaan Maespati ikut mengabdi kepada Prabu Arjuna Sasrabahu. Dan, pada puncak kariernya Sumantri menjadi seorang Patih dengan sebutan Patih Suwanda.

Bekalan yang dia miliki ada tiga karakter: guna, kaya lan purun. Sebagaimana yang tersurat dalam serat Tripama, “Yogyanira kang para prajurit..”

Yogyanira kang para prajurit,
Lamun bisa samya anulada,
Kadya nguni caritane,
Andelira sang Prabu,
Sasrabau ing Maespati,
Aran Patih Suwanda,
Lalabuhanipun,
Kang ginelung tri prakara,
Guna kaya purunne kang denantepi,
Nuhoni trah utama,
{Seyogianya para prajurit,
Bila dapat semuanya meniru,
Seperti masa dahulu,
(tentang) andalan sang Prabu,
Sasrabau di Maespati,
Bernama Patih Suwanda,
Jasa-jasanya,
Yang dipadukan dalam tiga hal,
(yakni) pandai mampu dan berani (itulah) yang ditekuninya,
Menepati sifat keturunan (orang) utama.}
–*–
Lire lalabuhan tri prakawis,
Guna bisa saniskareng karya,
Binudi dadi unggule,
Kaya sayektinipun,
Duk bantu prang Manggada nagri,
Amboyong putri dhomas,
Katur ratunipun,
Purunne sampun tetela,
Aprang tandhing lan ditya Ngalengka aji,
Suwanda mati ngrana.

{Arti jasa bakti yang tiga macam itu,
Pandai mampu di dalam segala pekerjaan,
Diusahakan memenangkannya,
Seperti kenyataannya,
Waktu membantu perang negeri Manggada,
Memboyong delapan ratus orang puteri,
Dipersembahkan kepada rajanya,
(tentang) keberaniannya sudahlah jelas,
Perang tanding melawan raja raksasa Ngalengka,
(Patih) Suwanda mati dalam perang.}

 

Begitulah, sangat baik bagi kita, khususnya generasi muda untuk memiliki visi ke depan, dalam bentuk mobilitas vertikal, bahwa karier profesi itu akan terus menanjak bila ditekuni.

*Penulis pemerhati kebudayaan

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya
Scroll Up