FeaturedJalan Pinggir

Sengsara Membawa Nikmat; Birokrat Sebagai Penguasa

Oleh: Delianur

Ketika seorang tuan tanah, penenun, atau pembuat sepatu memperoleh lebih besar daripada yang dia butuhkan untuk menafkahi keluarganya sendiri, dia menggunakan kelebihan itu untuk mempekerjakan lebih banyak asisten, guna semakin meningkatkan labanya. Semakin banyak laba yang di peroleh, semakin banyak asisten yang bisa dia pekerjakan. Begitu kata Adam Smith di tahun 1776 ketika menulis The Wealth of Nation. Jadi menurut ekonom Skotlandia ini, kenaikan laba pengusaha adalah dasar peningkatan kekayaan dan kemakmuran kolektif.

Bagi kita yang hidup di abad-21, tentunya tidak ada yang aneh apalagi spesial dengan pernyataan insiprator kapitalisme diatas. Bahwa laba produksi harus diinvestasikan kembali untuk meningkatkan produksi, itu sudah menjadi kredo ekonomi yang menjadi pegangan sekarang. Seperti itulah ekonomi diatur. Namun bagi masyarakat ekonomi di abad ke-18, apa yang diungkapkan Smith diatas adalah sesuatu yang menggugat kontradiksi moralitas dan keagamaan, anti mainstream, serta memicu perubahan sosial yang besar.

Kredo ekonomi yang digariskan Smith menggugat perdebatan moralitas dan keagamaan bahwa orang kaya adalah orang yang susah masuk surga. Karena menurut Smith, menjadi kaya itu bukan dengan cara mencuri tapi dengan meningkatkan produktivitas. Menjadi kaya juga berarti membantu orang lain. Karena dengan menjadi kaya, berarti kita akan melibatkan lebih banyak orang untuk bekerja dan merasakan kue ekonomi. Mencari kekayaan memang bentuk egoisme. Namun egoisme adalah altruisme.

Ide Smith diatas juga bertentangn dengan kelaziman. Karena pada waktu itu, ekonomi adalah aktivitas linear produksi yang menghasilkan laba. Ekonomi tidak dilihat sebagai aktivitas sirkular di mana produksi menghasilkan laba, kemudian laba tersebut dikembalikan menjadi faktor produksi. Sebelum The Wealth of Nation ditulis, laba produksi dikumpulkan dan ditumpuk. Laba produksi dipakai untuk kegiatan non produktif seperti membeli pakaian sutra, perhiasan emas, mengadakan pesta, karnaval atau turnamen mewah.

Pandangan ekonomi Smith juga membawa perubahan sosial besar yang besar. Bila sebelumnya orang kaya adalah para tuan tanah atau bangsawan, maka selanjutnya orang kaya adalah para enterpreneur. Orang kaya bukanlagi para Land Lord atau Duke yang suka berjalan dari satu jamuan ke jamuan lainnya dengan memakai jas sutra berhiaskan emas, tapi mereka adalah para pemegang saham, direksi, atau pemilik perusahaan yang bergerak dari satu pertemuan ke pertemuan lain atau dari satu pabrik ke pabrik lain. Merekalah yang menjadi penguasa baru di tengah masyarakat. Para enterpreneur.

Di Indonesia, salah satu suku yang dikenal publik mempunyai image sebagai enterpreneur adalah orang Minangkabau. Tradisi merantau masyarakat Sumara Barat serta bertebarannya Rumah Makan Padang di Indonesia, menguatkan kesimpulan bahwa orang Minangkabau sejatinya adalah para enterpreneur.

Namun kalau kita membaca novel Sengsara Membawa Nikmat, justru bukan enterpreneur itulah yang menjadi ciri kuat masyarakat Minangkabau. Sengsara Membawa Nikmat sendiri adalah novel yang pertama kali diterbitkan Balai Pustaka pada tahun 1929. Novel ini ditulis Tulis St. Sati. Seorang Guru dan penulis yang dilahirkan di Bukit Tinggi. Sebagaimana kebanyakan novel Balai Pustaka dengan penulis orang Minangkabau, maka landscape ranah Minang menjadi latar novel ini. Kritik terhadap adat tentang hubungan antara Ayah-Anak-Keponakan, tetap muncul.

Hanya mungkin yang agak berbeda dengan citra orang Minangkabau yang dikenal sebagai enterpreneur, novel ini justru menceritakan konflik para ambtenaar. Midun mungkin menang secara personal dan sosial ketika berkonflik dengan Kacak. Namun secara politis, Midun kalah. Karena yang dihadapi adalah Kacak. Keponakan penguasa nagari (ambtenaar). Ketika Midun membangun kapasitas dirinya di perantauan, Midun sempat bersentuhan dengan aktivis perdagangan. Tapi ternyata gagal. Midun justru lebih sukses sebagai birokrat. Dengan status birokrat, asisten demang, itulah Midun mengalahkan modal politik Kacak. Jadi pertarungan antara Midun dan Kacak adalah pertarungan antar birokrat yang pada waktu itu adalah golongan penguasa dan dipandang masyarakat. Bukan konflik antar enterpreneur dan ambtenaar

Apakah ini karena enterpreneur belum menjadi penguasa baru masyarakat Minangkabau khususnya dan Indonesia umumnya pada awal abad-20, tentunya mesti ada bahan bacaan lebih lanjut.

Hanya saja beberapa temuan mengatakan bahwa fenomena enterpreneurship masyarakat Minangkabau dengan pendirian Rumah Makan Padang diperantauan, itu berkaitan dengan peristiwa politik PRRI/Permesta. Sebagaimana diketahui, PRRI/Permesta yang dideklarasikan pada Februari 1958 adalah gerakan protes terhadap pemerintah pusat yang berhasil dipadamkan. Basis gerakan ini bukan hanya dideklarasikan di Sungai Dareh Sumatra Barat, tapi juga melibatkan banyak tokoh masyarakat Minangkabau. Meski tokoh Minangkabau seperti Hajjah Rangkayo Rasuna Said, murid ayahnya Hamka dan santriwati Pesantren Perguruan Diniyyah Putri Padang Panjang menolak, citra Sumatra Barat sulit dihapuskan dari PRRI/Permesta.

Karena dikenal sebagai pemrotes pemerintah pusat tapi gerakannya berhasil dipadamkan, maka secara politik masyarakat Minangkabau bukan dipantau dan dibatasi geraknya, tapi secara sosial kerap diejek sebagai orang kalah. Untuk lepas dari kondisi ini, mereka pun berangkat ke luar daerahnya. Membangun Rumah Makan Padang di perantauan, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi tapi juga berkaitan erat dengan kebiasaan mereka yang suka dan pandai memasak. (Fn)

Selanjutnya

Artikel Terkait

Check Also

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: