FeaturedJalan Pinggir

Sebuah Visi Menjadi Übermensch

Oleh: Afian Dwi Prasetyo (Historian)

Gagasan Nietzsche tentang Übermensch adalah salah satu konsep yang paling signifikan dalam pemikirannya. Gagasan Übermensch diuraikan dalam sebagian besar Karya-karyanya khususnya dalam buku: Also sprach Zarathustra: Ein Buch für Alle und Keinen yang kemudian diterjemahkan dalam Bahasa Inggris berjudul Thus Spoke Zarathustra (Indonesia; Sabda Zarathustra) dan Die fröhliche Wissenschaft (Inggris: The Gay Science yang penulis singgung di tulisan sebelumnya). Manusia baru yang telah mengatasi tirani agama dan alasan modern “semakin tinggi aristokrasi masa depan”.

Gagasan Übermench yang dibuat oleh Nietzsche diperlakukan secara rinci dalam kedua bukunya (meskipun The Gay Science hanya merupakan sedikit pengantar). Melalui nabi Zarathustra ciptaannya, Nietzsche menguraikan diagnosis modernitasnya sebagai kemunduran dan nihilisme. Zarathustra mengumumkan kematian manusia modern dan kedatangan manusia baru, Übermensch, yang telah dibebaskan dari tirani akal.

Baca Juga: Kritik Nietzsche tentang Kebutuhan untuk Percaya dan Menghendaki Ketidakbenaran

St. Sunardi dalam bukunya Nietzsche menulis “Über pada Übermensch mempunyai peran yang menentukan dalam membentuk keseluruhan makna Übermensch, dimana penekanan penting di sini ada pada kehendak untuk berkuasa sebagai semangat untuk mengatasi atau motif-motif untuk mengatasi diri.” (1999:93).

Perlu diketahui bahwa Bagi Nietzsche, gagasan ” Übermensch” lebih seperti visi dari pada teori. Gagasan Itu muncul dalam kesadarannya selama musim panas yang tak terlupakan 1881 di Sils-Maria (Pegunungan Alpen Swiss), lahir dari pengalaman hari Epifani*. Momen di batas antara sadar dan tidak sadar, dari masa lalu dan sekarang, rasa sakit dan kegembiraan.

Nietzsche tidak pernah sepenuhnya menjelaskan apa yang dia maksud dengan ” Übermensch “; Dia hanya mengisyaratkan itu dalam bukunya. Penulis juga tidak memaknai Übermensch sebagai manusia super seperti yang ditulis dalam banyak penelitian. Sebab manusia super menurut penulis telah tereduksi maknanya menjadi satu karakter saja dalam film Super Man.

Mengutip A Budiwiarto dalam Skripsinya berjudul Ajaran Friedrich Wilhelm Nietzsche Mengenai Manusia, (Fakultas Filsafat UGM 1983:28), ia menulis “Sepanjang menjelajahi alam pikiran Nietzsche, nyatalah bahwa ia berkemauan untuk mencapai tingkat yang tinggi dan lebih tinggi lagi. Di sini, manusia bukan menjadi tujuan untuk hidupnya. Manusia sebagai manusia tidaklah sempurna, akan tetapi ia dapat dan harus menjadi sempurna, kalau manusia menempatkan dirinya dan hidup. Apabila manusia tidak mampu menyempurnakan dirinya sendiri, ia tidak ada gunanya. Sebab manusia itu hanya sebagai ‘tali’ atau ‘jembatan’ saja, yang menghubungkan antara binatang dan manusia unggul.”

Nietzsche menyatakan bahwa hidup adalah kenikmatan yang harus dihayati sedalam-dalamnya. Dalam Thus Spoke Zarathustra juga sudah dikatakan bahwa manusia adalah Übermensch, asalkan ia mau terus menerus menjulangkan gairah setinggi-tingginya dan manusia harus bebas dari segala kekhawatiran dan rasa berdosa. Manusia harus cinta akan kehidupan, karena cinta kehidupan berarti sanggup menanggung kenyataan bahwa manusia bukanlah sesuatu yang sudah final. Ungkapan eksistensialis Nietzsche mengartikan pentingnya manusia harus terus berkarya dan dinamis.

Mengambil tulisan dari buku Fuad Hassan, Berkenalan dengan Eksistensialisme, Manusia harus berani menghadapi segala tantangan yang ada di depan, dan manusia harus berani menderita guna mencapai tujuan hidupnya yaitu mencapai Übermensch, bahkan keberanian itu harus ditunjukkan dalam menghadapi maut dengan diungkapkannya semboyan Matilah pada Waktunya. Kematian itu, ketika datang harus disambut seperti kita menyambut kelahiran atau kebahagiaan (1992: 58).

Menjadi Übermensch tidaklah sulit. Kita hanya perlu percaya dengan potensi diri kita dan tidak mudah mengeluh atau selalu berharap pada bantuan orang lain. Übermensch adalah pesan bahwa kita harus memiliki cita-cita, tidak perlu menanggung kekesalan berlarut-larut dan semboyan-semboyan kesedihan masa lalu. Kita harus bisa menerima kenyataan hidup dan bangkit dari keterpurukan. Bagi yang masih jomblo, tanggunglah kenyataan itu dan Übermensch mungkin bisa kamu raih. Hehehe…..

Lihatlah, aku mengajarkan Übermensch kepadamu. Übermensch adalah makna dunia ini. Biarkanlah kehendakmu berseru. Hendaknya Übermensch menjadi makna dunia ini. – Demikianlah Sabda Zarathustra.

***

Catatan

* Dalam kalender gerejawi, awal Januari sebenarnya masih merupakan bagian dari masa raya Natal. Akhir masa Natal baru terjadi pada saat perayaan Epifani, yang jatuh pada tanggal 6 Januari. Atau dalam tradisi yang lebih modern, pada hari minggu pertama setelah tanggal 1 Januari.

Tags
Selanjutnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: