FeaturedJalan Pinggir

Sebuah Refleksi : Apakah Kita Masih Punya Kesamaan Misi?

Oleh: Aisyah Chairil (Ketua Korps Wilayah PII Wati Yogyakarta Besar)

Sebuah oraganisasi terbesar dan tertua itu bernama Pelajar Islam Indonesia (PII). Kini usianya dalam keadaan memomong cucu (bahkan cicit-ed). Tepat pada tanggal 4 Mei 1947 lalu, organisasi ini didirikan oleh lima orang pemuda cerdas yang ikut andil dalam memikirkan nasib anak bangsa di masa depan. Beliau yang bernama Yoesdi Ghozali bersama empat orang teman visionernya, dalam gelapnya malam dan situasi sosial yang tidak karuan, mengharap sinar dan secercah cahaya Illahi, menemukan sebuah inspirasi untuk mewujudkan persatuan dikalangan para pelajar. Mengapa persatuan? Bukankah kita sudah merdeka dan bersatu? Pada 1947, bangsa Indonesia memang telah merdeka secara de jure. Namun, secara de facto masih banyak hal yang harus dilakukan. Bangsa boleh merdeka diatas kertas putih bertinta hitam tapi kemerdekaan berfikir dan kemerdekaan soal mental masih dalam situasi merangkak.

Dalam suasana yang penuh tantangan, saya menyadari bahwa perjuangan seorang Pemuda yang masih menuntut ilmu di Universitas Islam Indonesia kala itu merupakan sebuah gagasan besar. Karena gagasan tersebut bukan sebatas konsep yang diadu antar perorangan, tapi sebuah konsep yang dieksekusi dalam bentuk kenyataan. Dalam realisasi konsep sepanjang zaman, saya termasuk salah satu hasil dari konsep tersebut karena masih diberi kesempatan untuk merasakan perjalanan di PII. Maka beliau adalah salah satu guru dalam sejarah, mata tak pernah bertemu namun hati merasakan betapa tulus dan sejatinya perjuanganmu. Semoga Allah mengangkat derajatmu hingga ke tempat termulia di Sisinya.

Sudah banyak dosa yang dilakukan oleh anak-cucu ideologismu. Engkau mampu bertahan dalam kuantitas yang sedikit namun kualitasnya kian bermutu. Engkau mengapresiasi pelajar agar beradab terhadap Ilmu, namun kami malah merasa sombong merasa tahu akan segalanya. Engkau berfikir dan berdzikir untuk mewujudkan kesatuan diantara kami para pelajar, dan melatih orang-orang terdahulu apa yang harus mereka lakukan saat telah bersatu. Jalannya, metodenya boleh berbeda namun tujuan kita tetap sama.

Saya akhirnya paham, mengapa PII hadir ditengah situasi politik pendidikan yang cukup runyam, yakni untuk melahirkan pemimpin-pemimpin yang terpelajar, mampu menghadapi problematika yang ada, menghargai ilmu pengetahuan, tidak membeda-bedakan golongan yang berbeda harokah karena semuanya satu dalam hal aqidah, mengapresiasi, memotivasi dan menginspirasi generasi setelahnya dalam segala bidang, mengikhtiarkan diri untuk tidak merasa paling banyak berjuang dan paling banyak berkorban, berfikir soal kaderisasi organisasi adalah miniatur atau simulasi yang bersifat futuristik. Sehingga, tak heran lagi para kader PII saat itu mereka menjadi Pemimpin yang Muslim Cendikia. Karena para founding father sangat paham betul situasi dan tantangan yang akan dihadapi kedepan. Sehingga PII sebagai Organisasi Pelajar mengkader anggotanya untuk mampu dan siap mengambil peran dan tanggung jawab untuk memimpin bangsa ini kedepan.

Siap dalam situasi apapun dan dalam bidang apapun. Maka PII berangkat dari harapan untuk mempersiapkan calon pemimpin yang akan bertanggung jawab kepada agama, bangsa dan negara. Mulai dari ustadz dan ulama, praktisi, politisi, akademisi, musisi, ekonom, TNI dan Polri yang semuanya itu berangkat dari sebuah kata “Literasi!”

Maka jangan heran, banyak tokoh-tokoh luar biasa yang dari akar rumput telah menjalankan amanah literasi sebagai Khalifah : pemimpin, yang mampu menyelesaikan persoalan umat, persoalan bangsa, persoalan agama tanpa melupakan persoalan diri dan keluarganya.

Islam tidak akan pernah terpisah dari PII. Karena Islamlah sumber kebijaksanaan seorang pemikir negri ini. Maka, saatnya kita refleksi? Apakah kita masih punya kesamaan misi? Atau kita berbeda?

Kita mungkin memang sudah bersatu, tapi apa yang harus kita lakukan setelah itu, masihkah peduli pada organisasi besar ini?

Selanjutnya

Artikel Terkait

google.com, pub-7568899835703347, DIRECT, f08c47fec0942fa0