Jalan Pinggir

Saya Harus Hadir Reuni 212

Oleh H. Mangarahon Dongoran*

SAMPAI Pukul 21.00, saya belum memutuskan apakah ikut atau hadir dalam Reuni Akbar 212 dan sekaligus Peringatan Maulid Nabi Muhammad Sallalahu ‘alaihi wasallam. Saya belum berani memutuskan ikut, karena kondisi kesehatan saya yang kurang mendukung sejak pulang dari Yogjakarta, awal bulan November lalu. Saya tidak mengerti, meski sudah tiga kali ke dokter, satu kali bekam dan dua kali dikusuk pada ahlinya, kok badan belum juga membaik.

Sabtu (1 Desember 2018) kemarin, saya pun berusaha ke tukang pijat, Pak Edi. Saya sempat mengatakan, ingin ikut reuni, tapi kondisi badan masih belum baik. Sampai semalam pun badan (perut dan kepala masih terasa sakit.). Hanya saja, ada dua hal yang membangkitkan semangat saya, Pertama, istri saya yang sudah kepingin ikut bersama teman-temannya yang dulu ikut aksi 2-12-2016. Istri saya bilang, temannya ingin ikut, tetapi gak ada yang membawa kendaraan, Maklum, yang ikut emak-emak, yang suaminya sebagian lagi dinas hari minggu dan dinas ke luar kota. Mereka mau naik kereta pagi-pagi.

Hati saya sejak awal terenyuh dengan semangat emak-emak yang mau ikut. Saya hanya berdoa agar diberikan kesehatan. Dan teman-teman istri saya pun selalu mengirimkan do’a ke WA istri, agar saya lekas sembuh.

Kedua, adalah saat saya menghubungi sahabat saya Sanihu Munir. Siang kemarin, saat saya buka FB, dia sudah berada di dalam pesawat dari Kendari menuju Jakarta. Sanihu saya kenal saat meliput KTT APEC di Manila tahun 1996. Saat itu, dia wartawan Republika di Manila, sambil menyelesaikan kuliah S2 (kalau tidak salah).

Semalam saya menghubunginya lewat telefon. Saat itu, dia mengabarkan telah tiba di Jakarta Sabtu siang dan tinggal di daerah Manggarai. Usianya jauh lebih tua dari saya. Ada yang membuat saya langsung bersemangat ikut. Kami berkomunikasi sekitar pukul 21.20 dan setelah komunikasi itu, saya langsung katakan kepada istri, “Siap-siap, besok insya Allah berangkat.”

**

Kenapa saya begitu bersemangat? Sahabat saya Sanihu Munir datang dari jauh, sementara jarak saya dengan Monas hanya sekitar 40 menit. Saya sakit, ternyata sahabat saya itu juga dalam kondisi sakit pinggang. “Saya juga sakit pinggang. Tapi, karena mau reuni 212, saya semangat. Sakit pinggang, saya paksakan saja. Sekarang agak enak, walau tidak bisa duduk lama,” kata sahabat saya itu.

Ya, selain faktor kedua di atas, tentu faktor utama adalah ridho dari Allah Subhanahu wata’ala. Niat saya ikhlas reuni, tanpa diembel-embeli kepentingan politik. Saya ingin berzikir, berdo’a, shalat bersama dan mendengarkan tausiah/ceramah agama dari para tokoh-tokoh agama.

Kalau ada yang mengatakan ditunggangi kepentingan politik, saya tidak ada tunggangan itu. Peduli amat. Setiap kali ada reuni, siapa pun Presidennya kelak, kalau saya sehat, panjang umur dan ada di Indonesia, saya akan hadir.

Saya ingin merasakan bagaimana syahdu dan indahnya saat-saat Aksi 2-12-2016, yang katanya juga syarat muatan politik, karena ingin menumbangkan Basuki Tjahya Purnama, si penista agama, yang akhirnya tumbang dan dipenjara. Saya tidak dalam kapasitas politik saat itu, tetapi kehadiran saya yang juga membawa emak-emak adalah membela Al Qur’an, yang dihina oleh orang kafir.

Kalau dibilang ada kepentingan politik, saya itu orang Tangerang, dan tidak terlibat pemilihan DKI Jakarta. Demikian juga saudara yang datang dari Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, NTB/NTT, Ambon, Bali dan dari berbagai daerah di Pulau Jawa.

Kehadiran saya dalam reuni 212 yang kedua ini adalah ingin mengenang masa-masa pertama dulu. Saat itu juga banyak ancaman dan intimidasi dari aparat kepada saudara yang dari daerah. Tetapi semangat mereka tidak surut. Reuni yang kedua ini, ingin mengenang betapa Monas dan sekitarnya menjadi “lautan manusia putih”. Pagi hari awan mendung, seolah menyambut keadatangan umatnya. Menjelang siang hari, seusai Ustadz Arifin Ilham memanjatkan do’a agar diturunkan hujan, maka hujan deras pun turun dan bisa digunakan mengambil air wudu’, untuk shalat Jum’at.

Demikian juga kehadiran saudara-saudara dari daerah lain. Selain reuni, tentu sekaligus sebagai ajang silaturrahmi dan rekreasi. Mumpung ke Jakarta, biasanya ada saja yang mampir ke rumah saudaranya, atau janjian bertemu di tempat yang dianggap cukup memungkinkan.

Tidak hanya reuni, tidak sedikit juga di antara peserta yang akan hadir sebenarnya tidak ikut dalam Aksi Bela Islam 2-12-2016. Mereka hadir, karena diajak teman (seperti keponakan saya yang baru kuliah di Depok). Ayahnya meng SMS saya mengabari kalau anaknya akan ikut. Abang ipar saya itu menanyakan, Bagaimana pendapat saya kalau anaknya ikut ke Jakarta, Bela Tauhid 212.”
Saya balas, “Tidak apa-apa. Hadir saja. In sya Allah aman. Saya dan istri juga in sya Allah hadir.”

Saya masih terkenang, ketika 2-12-2016 yang jatuh pada hari Jum’at. Imam Besar FPI, Habib Riziq Sihab yang menjadi khatib (menggantikan Ma’ruf Amin yang berhalangan), menyampaikan khotbah dengan semangat, agar membela Islam, membela Al-Qur’an, dan jangan menghina dan menistakan agama dan kitab suci agama lain. Presiden Joko Widodo beserta sejumlah menterinya ikut dalam shalat Jum’at itu.

Di tengah rintik hujan, semangat para jamaah tidak kendur mengikuti shalat Jum’at. Bahkan, ketika Iman shalat membacakan do’a Qunut Nazilah, tidak sedikit yang meneteskan air mata. Ada yang menarik dalam kegiatan itu. Umat bersatu. Tidak lagi melihat dari ormas manapun.

Niat yang ikhlas menjadi hal paling utama dalam keigatan tersebut. Acara Reuni Akbar 212 tahun 2018 ini berjalan damai dan lancar. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan perlindungan. Hanya kepada-Nya jualah seluruh niat dan amalan kita tujukan. ***

*Penulis adalah Wartawan Senior

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait