Jalan Pinggir

Ramadhan dan Generasi Rabbi Radliya Seperti Nabi Yahya yang dirindu Dunia

Oleh: Sudono Syueb (Dosen Fikom Unitomo Surabaya & Alumni Pesantren YTP Kertosono)

Ramadhan yang penuh barokah ini, dimana pahala ibadah dilipatgandakan, dosa dosa diampuni dan semesta doa diijabah, kita berharap agar setiap ramadhan mampu melahirkan generasi rabbi radliya yang siap meneruskan risalah ilahiyah seperti Nabi Yahya ‘alaihis salam.

Umat Islam tentu sudah sangat mengenal tentang kisah Nabi Yahya. Seorang anak yang telah dinanti oleh keluarganya selama 70 tahun. Penantian panjang itu bukan hanya karena bapaknya, Nabi Zakaria ‘alaihis salam, ingin anak saja agar nasabnya tidak putus (kepaten obor), tapi lebih dari itu, Nabi Zakaria tidak ingin risalah kenabian itu putus dan tidak ada lagi generasi muda yang siap melanjutkan.

Karena itu Nabi Zakaria memohon kepada Allah agar diberi keturunan yang siap mewarisi Risalah Kenabiannya. “Dia berdoa, “Yaa Rabbi, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa, kepada Engkau, yaa Rabbi. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku (penerus dakwah Islam) sepeninggalku, sedang istriku adalah mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra. Yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya’kub, dan jadikanlah dia, yaa Rabbi, seorang yang diridloi” QS Maryam ayat 4-6.

Doa Nabi Zakaria dikabulkan Allah dengan lahirnya Nabi Yahya. Dan ketika masih muda sudah ditugaskan Allah untuk berpegang teguh pada Al Kitab dan mendakwahkannya, seperti firman-Nya, “Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak, (QS Maryam: 12)

Selanjutnya kisah Nabi Yahya telah dinarasikan dengan apik oleh ustadz Hamas seperti dikutip laman dakwatuna.com berikut:

Al Qur’an selalu ajaib. Lebih ajaib lagi, ketika dalam ayat-ayatnya kita menemukan rumus hidup yang menggairahkan, menginspirasi, menjadi ilham dalam menjalani ruang dan waktu. Salah satu keajaibannya adalah; Alquran banyak menceritakan kisah-kisah pemuda. Baginda Ibrahim, ketika beliau menghancurkan berhala-berhala, beliau sedang remaja. Nabiyullah Daud, memenangkan perang melawan Goliath, ketika beliau sedang remaja.

Nabi Ismail, ketika beliau ridho dan sabar rela menerima perintah penyembelihan dirinya, beliau sedang remaja. Ashabul Kahfi yang melegenda, bersembunyi di goa dan Allah istirahatkan mereka selama 309 tahun menjaga keyakinan mereka, Allah dengan paripurna menjelaskan dengan gagahnya, “Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk” (Al-kahfi: 13)

Kepada para pemuda
Yang merindu lahirnya kejayaan
Kepada umat yang tengah
Kebingungan di persimpangan jalan…
Kepada para pewaris peradaban yang kaya raya,
Yang telah menggoreskan catatan membanggakan
Di lembar sejarah umat manusia…
(Hasan Al-Banna)

Dalam roda sejarah ini, Allah mengilhamkan pada kita satu hal yang begitu penting. Dari kalam-Nya Allah jelaskan 6000 ayat cerita yang sebagian besarnya menjadikan pemuda sebagai aktor inti sejarah. “Oleh karena itu”, tulis Ustadz Hasan Al-Banna, “sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan, pemuda merupakan rahasia kekuatannya. Dalam setiap fikrah, pemuda adalah pengibar panji-panjinya.”

Yahya The Inspiration

Termasuk Nabi Yahya bin Zakaria. Seorang yang “membenarkan kalimat yang datang dari Allah, menjadi teladan, menahan diri dari hawa nafsu dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh”, dalam firman Allah di Ali Imran ayat 39.

Beliau lahir dari penantian panjang dan doa-doa yang tidak pernah terputus. Beliau adalah regenerasi lelaki sholeh penjaga Masjid Al-Aqsha, Nabi Zakaria ‘alaihis salam. Nabi Yahya bukan sekadar sseseorang yang lahir dari proses yang biasa. Kelahirannya dihiasi dengan sejarah yang melegenda; tentang Nabi Zakaria yang tak berhenti berharap, tentang kuasa Allah membuat Istri Nabi Zakaria yang telah sepuh ternyata bisa kembali mengandung, dan tentang keberkahan Baitul Maqdis.

Mengapa membahas Nabi Yahya menjadi sesuatu yang istimewa? Sebab beliau menjadi gambaran remaja yang dianugerahi Allah ilmu dan kebijaksanaan. Ketika remaja lain masih sibuk bermain-main, Allah memberi Yahya muda sebuah resep hidup khusus, yang kelak akan melahirkan kepribadian melampaui zamannya, melampaui usianya.

Alquran menggambarkan nilai hidup Nabi Yahya dengan bahasa yang memikat, “Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan, pada hari ia meninggal, dan pada hari ia dibangkitkan kembali” terabadikan dalam ayat 15 Surah Maryam. Perhatikan, Allah memberkahi Nabi Yahya dalam 3 keadaan yang didambakan kebaikannya oleh semua manusia;  Satu, awal hidupnya disayangi. Dua, ketika ia wafat pun dicintai. Dan tiga, bahkan ketika ia bangkit di hari penghakiman nanti, rahmat turun menghiasi.

Apa sebab keistimewaan Nabi Yahya itu? Ayat-ayat ini menjawabnya cerdas.

Masa Muda, In Search Of Wisdom

Dan kami berikan padanya hikmah selagi dia masih kanak-kanak” (Maryam: 12)

Ketika kita menengok sejarah orang-orang besar, mereka menjalani sebuah percepatan cara berfikir yang melebihi kawan-kawan seusianya. Soekarno, ketika usianya 18 tahun, telah berkeliling Jawa menemani HOS Tjokroaminoto dalam rapat-rapat dan diskusi menentukan konsep sebuah negara. Badiuzzaman Said Nursi, ia digelari ‘keajaiban zaman’ sebab di usianya yang belia -umur 5 tahun- ia telah menjadi rujukan ulama di zamannya, memenangkan debat, dan menguasai banyak cabang keilmuan.

Menjadi bijaksana pada saat remaja adalah salah satu tanda kebesaran jiwa, berhasilnya pendidikan orangtuanya, dan buah dari penjelajahan dirinya atas keadaan masyarakatnya. Begitulah kisah Ibrahim yang peka melihat bulan, mentari dan bintang. Begitulah kisah Musa yang menggugat kezaliman Firaun atas sebuah bangsa. Begitulah kisah Daud yang menduduki peringkat teratas kualitas bani Israil kala melawan Jalut.

Maka sejatinya, bukan kesalahan jika seharusnya generasi muda Islam dibekali kemampuan nalar yang baik, dididik untuk mempunyai narasi yang tertata dan lihai dalam menciptakan sebuah ide. Sebab begitulah mata air sejarah bicara, kisah orang besar diawali dari masa muda cemerlang. Kisah para pahlawan diawali dari kebijaksanaannya semenjak remaja. Bukan karena ia tak mau bermain, tapi karena ia sadar hidupnya harus bernilai untuk semesta.

“Orang yang bertambah pengetahuannya, bertambahlah pula kebijaksanaannya”, kata Ustadz Anis Matta melengkapi narasi kebijaksanaan.

See Beyond The Eyes Can See

“Dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi kami dan kesucian dari dosa” (Maryam: 13)

Nabi Yahya semenjak belia telah dianugerahi Allah rasa kasih sayang-Nya. Pula, dengan karunia itu, Nabi Yahya menjadi orang yang punya kepribadian harmoni. Ia suka berbagi, gemar memberi, inti dari hidupnya adalah menebar cinta dan keadilan. Dan satu yang menonjol; kepekaan nurani.

Tidak mungkin seorang pemikir besar bisa menemukan ide-idenya jika ia tak peka melihat keadaan sekitarnya. Kepekaan adalah sumber inspirasi, dan juga akar kegelisahan spiritual. Jika tidak peka, mana mungkin Nabi Muhammad ber-uzlah menyendiri di Gua Hira? Jika tidak gelisah memikirkan Kaumnya, Nabi Yunus akan lebih memilih apatis dan masa bodoh ummatnya mau diapakan.

Kepekaan adalah bakat bagi para pahlawan, akar gagasan bagi para pemikir, dan tanda tinggi ilmu para ulama. Sebab “hanya ahli mutiaralah yang tau tinggi kadar mutiara”, kata ulama. Seorang awam akan biasa saja melihat langit mendung, tapi bagi seorang petani awan mendung adalah hidup baru bagi tanaman padi, bagi ahli sains adalah wujud sirkulasi air dari laut membentuk awan, bagi ulama adalah tanda kekuasaan Allah. Kepekaan adalah hasil dari tajamnya mata hati, sebab pengetahuan.

Mencari Ridha Ke Mata Airnya

“Dan dia adalah seorang yang bertaqwa, dan banyak berbakti pada kedua orangtuanya” (Maryam: 14)

“Ridha Allah”, kata Rasulullah, “ada pada ridha orangtua, dan kebencian Allah ada pada kebencian Orangtua”. Ada sebuah jarak yang memisahkan antara mimpi kita dan kesuksesan kita, dan di jarak itulah kita selalu ditimpa kegelisahan, dijarak itulah banyak tantangan yang membadai datang silih berganti. Namun ada satu jalan yang membuat kegelisahan itu terkikis, ada satu cara yang membuat kita melaju menuju pintu sukses lebih awal; ridha ayah dan ibu.

Nabi Yahya taat betul pada ayahnya, Zakariya ‘alaihis salam. Mereka berdua adalah teladan ayah dan anak yang memiliki kesatuan visi dan misi, satu cita-cita agung dan soliditas yang rekat. Dalam naungan Baitul Maqdis Palestina, Nabi Zakariya dan Nabi Yahya menjadi duo penjaga Al-Aqsha yang menebarkan keadilan dan ajaran taurat, juga menyelesaikan masalah-masalah masyarakat.

Mengapa taat pada Orangtua?

Sebab doanya selalu ajaib. Jika ayah dan ibu murka, maka saat itu juga Allah akan memporak porandakan mimpi kita, yang tadinya kelihatan lancar dan mulus menjadi lebur dan pupus. Betapa banyak kisah sudah cukup jadi cermin hidup, agar kita tak main-main dalam mencari ridha, agar lisan dan perbuatan tak boleh membuat hati orangtua kita teriris.

Jika kita lihat ada orang yang tanpa ridha orangtuanya bisa berjaya, sebenarnya Allah sedang bersiap menjatuhkannya dari ketinggian agar makin sakit penderitaannya. Percayalah, akan banyak keajaiban dan percepatan hidup jika kita memutuskan untuk hidup membahagiakan ayah dan ibu kita.

Pribadi Yang Membumi, Jiwanya Melangit

“dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka.” (Maryam: 14)

Ketika diberi kebijaksanaan, diberi anugerah melimpah nan berkah, Nabi Yahya bukan menjauh dari manusia, justru beliau berjalan di tempat rakyat berjalan, menyeru dengan bahasa yang sederhana. Itulah mengapa ia menjadi pemimpin rakyat yang menunjukkan mereka pada gerbang-gerbang keadilan.

Karakter pemuda dengan ilmu yang dalam selalu menjadi bintang dimasyarakatnya. Begitulah sejarah bicara dan memberikan satu teladan; Nabi Yahya walaupun beliau masih muda, beliau telah diberi amanah oleh Allah untuk mengajarkan Taurat. Sifat-sifat bijaksana, kepekaan yang tajam, bertaqwa dan berbakti pada ayah ibunya, membuat Nabi Yahya menjadi pemuda dengan karakter pengayom, sebuah role model untuk ditiru oleh masyarakat disekitarnya.

Jika orang dengan kecerdasannya malah angkuh, berarti cerdasnya cerdas ompong. Jika orang dengan ketinggian gelarnya malah sewenang-wenang, berarti gelarnya gelar dusta. Jika orang dengan ketinggian namanya malah sombong, berarti sejatinya ia rendah. Tak perlu jauh-jauh mencari teladan ke Barat dan ke Timur, Alquran telah berikan model terbaiknya. Nabi Yahya inspirasinya.

Apa Muara Inspirasi Yahya?

Lalu akhirnya timbul sebuah tanda tanya besar. Apa yang membuat Nabi Yahya dianugerahi kebijaksanaan di waktu belia? Apa yang membuat beliau begitu taqwa dan patuh pada Ayah Ibunya? Apa yang membuat beliau begitu membumi dan santun bersikap, tak sombong dan tak pula durhaka?

Sebelum sifat-sifat mulia itu muncul, Allah mula-mula memberinya satu kaidah paripurna.

Hai Yahya, pelajarilah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh” (Maryam: 12)

Sungguh-sungguh dalam memahami, sungguh-sungguh dalam mengemban dan berdakwah, sungguh-sungguh dalam mengamalkan dan kesabaran, serta sungguh-sungguh dalam keimanan dan keyakinan pada Kitabnya”, tulis Syaikh Muhammad Said Hawwa dalam bukunya Shinaatus Syabab. Kini Taurat telah tersempurnakan oleh Alquran. Hingga benarlah jika Alquran adalah muara inspirasi bagi setiap pemuda yang ingin berkarya dan berjaya.

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait