Jalan Pinggir

PRICELESS STONE

Istri saya mengunggah video yang diperoleh dari youtube untuk dikirim ke whatsapp anak-anak kami. Video ini bercerita tentang dialog seorang ayah dan anak di suatu senja menjelang maghrib. Dialog dimulai dengan awal kalimat yang baik dari dialog seorang anak dengan ayahnya. Anak bertanya pada ayahnya, ”what is the price of my life”.

Ayahnya kaget kok ada anak bertanya begitu. Ia tak punya jawaban pasti. Sebab pertanyaan anaknya juga sering hinggap di benaknya.

Kebetulan ayahnya seorang Geolog, ahli batu batuan yang juga rajin mengumpulkan germstone dan tak ketinggalan batu akik dari berbagai penjuru wilayah Nusantara.

Ayahnya kemudian memberikan dua buah batu sekepalan tangan. Ia minta anaknya untuk membawa batu itu ke pasar. Ia minta anaknya pergi ke toko kelontong dan menunjukkan batu itu dalam genggaman tanpa bicara apa-apa kecuali membuka jari telunjuk, jari manis dan jari tengah. Tiga jari sebagai tanda.

Seorang pengunjung yang kebetulan melihat anak membawa batu langsung bertanya. Hei buyung apa kau mau jual batu itu? Kalau kau jual abang beli. Si anak mengangguk tapi tidak keluar suara. Ia hanya mengangkat tiga jarinya.

Si abang langsung terkekeh kekeh tertawa. Oh mau dijual 30 ribu rupiah. Ini duitnya. Mari batunya.

Sang anak kemudian pulang bertemu ayahnya. Ia langsung bilang, wah Ayah tadi batunya laku 30,000 rupiah. Uangnya sudah habis kutabung di kantor pos.

Ayah tak menjawab dan langsung ambil dua batu lagi dengan ukuran sama dan pesan yang sama. Jika ditanya tak boleh bersuara hanya boleh mengganguk angkat tiga jari. Tapi kali ini ia minta anaknya pergi ke museum untuk menunjukkan batu tersebut.

Di museum anak bertemu seorang ahli batu akik. Ia bertanya ke anak itu. Hai Bung mau kau jual batu itu? Anak mengangguk dan angkat tiga jari tanpa suara. Sang ahli langsung membuka dompet nya. Oh tiga juta rupiah harganya. Baguslah Aku ambil ya, ini uangnya.

Sang anak berlari kesenangan sambil melompat kegirangan ia memeluk ayahnya. Aku dapat harga jauh lebih baik Ayah. Tiga juta rupiah.

Ayah diam saja kemudian kembali Ayah memberikan dua batu berukuran sekepalan tangan dengan pesan yang sama. Kali ini ia minta anaknya pergi ke pemilik toko “germstone” batu mulia.

Ketika pemilik toko melihat batu dalam gengaman ia meloncat kaget. Ini batu langka. Luar biasa bagusnya. Langsung ia berkata mau dijual Bung? Si anak mengangguk dan mengangkat tiga jari. Pemilik toko langsung bilang begini, “memang pantas jika batu ini berharga 300 juta”.

Sang anak langsung loncat berlari kencang kembali ke pangkuan Ayahnya dan pingsan. Ia tak habis mengerti mengapa batu yang sama memiliki harga berbeda di pasar yang bervariasi.

Mungkin inilah contoh arti kata “priceless”, komoditi atau benda tanpa “price tag”. Nilai intrinsik nya ditentukan oleh lingkungan tempat ia beredar. Di tempat mereka yang tidak mengerti nilai sebuah batu mulia. Harga batu dianggap sama seperti batu bata. Tak lebih dari 30 ribu. Di tempat di mana ada mereka yang ahli batu mulia tetapi bekerja sebagai penjaga museum harganya meningkat 100 kali jadi tiga juta.

Hanya di tangan mereka yang ahli dan mencintai batu mulia harganya meningkat jadi 10000 x. Tiga ratus juta.

Kita sering lupa dengan istilah “priceless” , barang tanpa tagline price. Dikira priceless berarti tidak berharga. Padahal artinya harga ditentukan oleh persepsi makna tentang nilai suatu barang bagi yang membeli.

Value Creation atau penciptaan nilai tambah memerlukan proses bisnis yang dikelola ahlinya dan begitu juga pasar serta mekanisme transaksi perlu memiliki expert yang tepat.

Tanpa keahlian bagaimana mungkin kita dapat mengerti berapa nilai yang terkandung dalam pekerjaan yang itangani atau produk yang ada dalam genggaman.

Diperlukan langkah sistimatis bertahap dan berkesinambungan agar generasi muda kita menjadi manusia bersumber Daya Iptek yang mumpuni.

Agar setiap produk menjadi bernilai guna dan bernilai tambah tinggi.

Apa begitu? Wallahu alam.

(Jusman Syafii Djamal/FB)

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up