Jalan Pinggir

Pesona Busana Kerawang Gayo Mulai Merambah Jabodetabek

Masih banyak yang belum tahu, di Provinsi Aceh selain etnis Aceh masih ada etnis besar lainnya, yakni Gayo. Salah satu warisan budaya Gayo yakni Tari Saman, sudah ditetapkan dan diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda sejak 24 November 2011, dengan kriteria warisan budaya yang memerlukan perlindungan mendesak.

Dalam laman Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB atau United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) dijelaskan tentang Tari Saman (penarinya laki-laki) yang seringkali keliru dipahami masyarakat sebagai Tari Ratoh Jaroe (penarinya perempuan).

The Saman dance is part of the cultural heritage of the Gayo people of Aceh province in Sumatra. Boys and young men perform the Saman sitting on their heels or kneeling in tight rows. Each wears a black costume embroidered with colourful Gayo motifs symbolizing nature and noble values.

(Tari Saman adalah bagian dari warisan budaya masyarakat Gayo di Provinsi Aceh di Sumatra. Anak laki-laki dan laki-laki muda melakukan Saman duduk di tumit mereka atau berlutut di barisan yang ketat. Masing-masing mengenakan kostum hitam bersulam dengan motif Gayo warna-warni yang melambangkan alam dan nilai-nilai luhur.)

Penari Saman dengan kostum kerawang Gayo.

Seiring penghargaan UNESCO terhadap Tari Saman tersebut, kostum penari Saman mulai menarik perhatian. Pakaian hitam bersulam motif Gayo dengan warna-warni menyolok itulah yang disebut sebagai kerawang Gayo.

Semula kerawang Gayo hanya digunakan dalam upacara-upacara adat Gayo. Seiring mendunianya Tari Saman, pesona busana kerawang Gayo mulai menarik perhatian masyarakat umum termasuk dari luar Aceh.

Istri Presiden RI ke-6 Ani Yudhoyono bahkan pernah mengunggah foto cucunya, Airlangga, mengenakan baju dengan motif kerawang Gayo, melalui media sosial instagram (16 Januari 2016). Unggahan akun @aniyudhoyono yang diberi keterangan “Gaya Airlangga dengan baju dari Aceh Gayo Lues” mendapat respon positif, terbukti disukai lebih 31 ribu pengguna instagram.

Foto cucu SBY yang diunggah di Instagram.

Pada tahun 2016 juga, saat Aceh menjadi tuan rumah Peringatan HUT ke-41 TMII, sebenarnya sempat ada rencana pembagian bahan baju kerawang Gayo, kepada seluruh peserta yang terlibat dalam acara. Namun karena kendala waktu untuk memenuhi pengadaan kain yang jumlahnya mencapai 3.000 lembar tersebut, akhirnya rencana urung dan diganti dengan batik motif Aceh.

Kombinasi warna kerawang Gayo dengan dasar hitam memang membuat penampilan terlihat lebih dominan di tengah banyak orang yang mengenakan berbagai rupa pakaian dengan beragam motif dan komposisi warna. Sehingga ketika hanya ada satu dua orang yang mengenakan di tengah keramaian menjadi lebih mudah dikenali.

Seperti halnya peci Aceh yang juga sudah banyak dikenakan orang saat ke masjid-masjid di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek), demikian pula dengan kerawang Gayo. Dalam berbagai acara resepsi pernikahan di kawasan Jabodetabek, mulai ditemui tamu-tamu yang mengenakan busana kerawang Gayo dengan berbagai modifikasinya. Salah satunya seorang guru SMP di Jakarta, Rojana Ardianti, yang memilih mengenakan kerawang Gayo untuk bawahan dengan kombinasi atasan warna merah yang diberi bordiran motif kerawang Gayo yang sama dengan bawahannya.

Rojana Ardianti, seorang guru SMP di Jakarta, mengenakan busana kerawang Gayo (bawahan) dengan atasannya baju diberi bordiran motif kerawang Gayo.

“Kebetulan kombinasi warna dan motifnya saya suka, maka saya coba beli kerawang Gayo. Sayangnya kain dasarnya hitam semua, sehingga saya hanya membeli untuk bawahan. Untuk atasannya saya pilih kain warna merah. Karena selendang tidak saya pakai, bordiran motif kerawang Gayo pada selendang saya pindah untuk atasan yang menggunakan kain merah tersebut. Perpaduan yang bagus dan cocok dengan selera saya,” jelas Rojana.

Mengenakan busana motif kerawang Gayo, penampilan Rojana kelihatan penuh pesona, menarik perhatian tamu-tamu undangan lainnya. Satu dua orang menanyakan busana yang dikenakannya. Maklum, mereka belum mengenal kerawang Gayo, sehingga penasaran. Hal ini tentu peluang bagi para pengrajin kerawang Gayo untuk memperluas pasarnya sampai kawasan Jabodetabek.

“Wah, berarti saya sudah ikut mempromosikan kerawang Gayo nih. Kira-kira ada bonusnya tidak, ya?” guraunya sambil tersenyum.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya