Jalan Pinggir

Peringati Dies Natalis ke 37, Unitomo Tonjolkan Pemikiran ‘Jalan Tengah’ ala dr Soetomo dalam Perkembangan Kebudayaan

Laporan: Sudono Syueb
(Dosen Fikom Unitomo)

Kanigoro.com – “Tanggal 31 Juli, hari ini, adalah hari lahir Universitas Dr. Soetomo, Surabya, ke 37 tahun. Berarti Unitomo telah mengabdi dan berkiprah di masyarakat dalam dunia pendidikan, selana 37 tahun, suatu usia yang cukup panjang, dan telah melahirkan ribuan sarjana S1 dalam bidang Ekonomi, Pendidikan, Administrasi, Sastra Inggris dan Jepang, Komunikasi, Pertanian dan Perikanan serta Teknik Sipil dan Informatika. Dan ratusan sarjana S2 bidang Komunikasi, Hukum, Ekonomi, Pendidikan dan Administrasi”, demikian sambutan Dr. Bahrul Amiq, S.H, M.H, dalam Rapat Terbuka Senat dalam Rangka Dies Natalis Universitas Dr. Soetomo, Surabaya, yang ke 37.

Lebih lanjut Bahrul Amiq menyatakan, sebetulnya kalau dilacak dari sejarah berdirinya Unitomo, sebetulnya diklarasi berdirinya Unitomo itu pada tgl 30 Juli dengan ditandai ritual potong tumpeng dan pidato pendiri Unitomo, yaitu Ki H. Muhammad Saleh. Tapi peringatan Dies Natalis Unitomo pada tanggal 31 Juli. Ini menunjukkan bahwa Unitomo lebih mementingkan kerja, kerja dan kerja ketimbang formalitas SK. Sekarang di Unitomo kondisinya terbalik, tidak mau kerja sebelum ada SK, baik dari Dekan ataupun Rektor. Kita ini harus berani kerja mendahului SK, kalau kita analogkan, kata Bahrul Amiq, seperti Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, diprolamasikan dulu tanggal 17 Agustus 1945, baru kemudian pada tgl 18 Agustus merumuskan UUD 1945.

“Karena kerja keras itu, maka hibah penelitian dari Menristek Dikti, tahun lalu hanya dapat 600 juta, tahun ini dapat 2,4 M. Sedang penelitian DIPA Unitomo, tahun ini bisa ditingkatkan hibahnya sampai 15 juta per dosen.
Bahkan hanya buat Proposal saja akan dapat honor. Silakan dicoba”, ujar Bahrul Amiq.

Sementara itu Pembina Yayasan Cendekia Utama Prof. Dr. M. Edy Yunus, MM, menyatakan perbedaan tanggal deklarasi dan Dies Natalis Unitomo tidak perlu dipermasalahkan, yang penting memikirkan perkembangan Unitomo di masa depan.

Sementara itu Dr Redi Panuju dalam dalam pidato ilmiahnya mengharapkan agar mahasiswa Unitomo menjadi sarjana yang mengambil jalan tengah seperti pahlawan nasional dr. Soetomo, yang namanya kita pakai brand perguruan tinggi kita ini.

Dalam polemik kebudayaan tahun 1933~1935, kata Redi Panuju, ada dua aliran kebudayaan, Pertama, aliran Westernisasi yang diwakili Sutan Taqdir Alisyahbana dan, kedua, Aliran kearifan lokal yang diwakili Ki Hadjar Dewantara. Dr. Soetomo mengusulkan jalan tengah lalu ditambah pendidikan pesantren. “Ini menunjukkan, simpul sikap moderasi dari dr. Soetomo. Maka itu kita harus meniru sikap moderasi dr. Soetomo tersebut. Tegar dalam prinsip ilmiah tapi luwes dalam penampilan”, tambah Redi Panuju.

Peringatan dies natalis Unitomo yang ke 37 tahun ini juga diwarnai berbagai kegiatan, seperti:
1. Kuliah Kebangsaan oleh Prof. Dr. Mahfud MD, mantan Ketua MK, pada 8 Mei 2018 oleh Unitomo.
2. Seminar hasil penelitian DIPA dari Dosen pada 27~28 Juni 2018 oleh Lemlit Unitomo
3. Seminar Nasional tentang Kebijakan Pendidikan di Era Milenial pada tgl 7 Juli 2018 oleh FKIP
4. Seminar Nasional “Revolusi Industri 4.0: Peluang atau Ancaman?”oleh FEB
5. International Seminar on Enrichmen of Career by Knowledge of Language Literature, by Fakultas Sastra.
6. Internasional Conference of Communication Science Research”, by Fakultas Ilmu Komunikasi, 24~25 Juli 2018.

Di samping itu juga diselenggarakan kegiatan olahraga, kegiatan sosial budaya dan Temu Alumni akbar pada tanggal 29 Juli 2018.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya