Jalan Pinggir

Pengorganisasian dan Sains

Oleh: Delianur

Abad ke-16 ketika koneksi internasional bersandar pada Kapal Laut, dunia pelayaran menghadapi ancaman penyakit misterius dan mematikan. Namanya Skorbut. Misterius karena penyebab dan obatnya tidak diketahui. Mematikan karena penyakit ini akan memakan korban nyawa bagi setidaknya setengah awak kapal yang sedang berlayar jauh.

Tahun 1747, sebetulnya sudah ditemukan obat bagi Skorbut. Melalui penelitian eksperimental, James Lind menemukan bahwa Skorbut bisa diobati dengan memakan buah Jeruk dan beberapa tanaman tradisional. Di kemudian hari ditemukan bahwa Vitamin C dalam Jeruk itulah yang menjadi penangkal Skorbut. Sayangnya, temuan James Lind ini tidak dipercaya Royal Navy, Angkatan Laut Britania.

Namun beberapa puluh tahun berikutnya ada perubahan sikap Royal Navy. Awalnya adalah ketika Royal Society of London for Knowledge Improvement, akan mengadakan ekspedisi sains pada tahun 1771. Royal Society mau mengirim ilmuwan menjelajahi Kepualaun Pasifik dan mengunjungi Australia serta Selandia Baru untuk sebuah penelitian astronomi. Mengingat besarnya biaya yang dikeluarkan, Royal Society merasa mubazir bila penelitian itu hanya untuk astronomi saja. Karenanya diikutsertakan lah delapan ilmuwan lainnya dari berbagai bidang. Lalu untuk menekan biaya, Royal Society bekerjasama dengan Royal Navy. Angkatan Laut Britania ini disamping menyediakan kapal, juga menyediakan banyak bala tentara, peralatan tempur serta Kapten Kapal bernama James Cook. Seorang militer yang juga pakar geografi.

Berbeda dengan Royal Navy, Cook adalah perwira militer yang mempercayai temuan Lind. Melalui ekspedisi ini, Cook ingin membuktikan kebenaran temuan Lind. Karenanya Cook pun membawa perbekalan buah Jeruk dan berbagai macam tanaman tradisional yang disarankan Lind untuk menangkal Skorbut. Ternyata upaya Cook berhasil. Awak kapalnya bebas dari Skorbut. Kedokteran adalah diantara disiplin ilmu yang mendapat sumbangsih dari ekspedisi Cook ini.

Royal Navy pun gembira melihat hasil ekspedisi ini. Skorbut yang selama ini menjadi ancaman pelayaran, bisa diobati dengan Vitamin C. Selain itu, Royal Navy pun mendapat tambahan data tentang Kepulauan Pasifik, Australia dan Selandia Baru baik secara ekonomi, politik, sosial maupun budaya. Berkat temuan diatas, Royal Navy pun lebih leluasa lagi mengirimkan armada laut nya ke berbagai penjuru dunia. Ekspedisi Cook adalah cikal bakal kolonialisasi Britania terhadap Australia dan Selandia Baru. Karena selain sudah mempunyai data-data diatas, Royal Navy juga sudah mempunyai bekal menghadapi wabah Skorbut.

Sintesa antara Sains dan Militer inilah yang kemudian menjadi cikal bakal kolonialisme Eropa dan awal sebuah negara membangun imperium. Perkawinan antar sains dan militer ini terus berlanjut. Apa yang dipraktekan Inggris, ditiru oleh negara kolonial Eropa lainnya. Ketika Spanyol mengirim Kapal Laut untuk menaklukan Suku Aztek yang menguasai Mexico, Spanyol juga menyertakan para Antropolog dan Linguist. Begitu juga Belanda. Setelah kas Belanda terkuras habis karena peperangan di Jawa, ancaman pengeluaran besar mengemuka melihat potensi keras dan sulitnya mengakhiri perang di Aceh. Karenanya untuk mengatasi Perang Aceh, Belanda membutuhkan jasa konsultan seorang ilmuwan bernama Snouck Hurgronje.

Cara ini terus berlangsung dan bahkan lebih massif. Pada abad ke-19 misalnya. Amerika menggelontorkan uang Jutaan Dollar untuk riset bidang Nano Teknologi. Temuan militer Amerika pun berubah. Bukan hanya pembuatan Tank atau Bom atom, tapi membuat lalat pengintai. Alat ini bisa dikirim ke gua-gua di bukit Toa Bora, tempat bersembunyi Osamah bin Laden, untuk memantau aktivitas keseharian pimpinan Al-Qaedah ini.

Menurut Yuval Noah Harari, sintesa sains dan industri militer ini sudah menjadi obsesif. Namun sebetulnya ini fenomena abad ke-19. Sebelumnya, landasan revolusi militer itu berpusat pada perbaikan organisasi bukan temuan senjata. Cara orang Arab-Islam menaklukan Sisinia bukan karena memiliki pedang yang lebih tajam. Begitu juga dengan cara orang Romawi mengalahkan Makedonia atau cara Monggol menaklukan China. Bahkan mesiu sebagai temuan penting militer Tiongkok kuno, adalah temuan tidak disengaja ahli kimia Taoisme ketika mencari air kehidupan. Karena bukan diniatkan sebagai industri militer, orang Tiongkok memakai senyawa mesiu untuk membuat petasan. Sementara di Barat, senyawa mesiu dikembangan menjadi dinamit, meriam sampai kemudian menjadi bom atom.

Temuan Harari ini tidak berbeda dengan temuan Philip K. Hitti ketika menceritakan sejarah Arab-Islam. Dalam The History of Arab-Islam, untuk menggambarkan kondisi psikologis umat Islam ketika menaklukan Alexandria Ibu Kota Mesir pada abad ke-7, respon umat Islam tidak berbeda dengan respon orang dusun melihat kota New York di abad 21.

Ketika Amr bin Ash bersama pasukannya memasuki Alexandria, mereka takjub melihat arsitektur di kota itu. Mulai dari benteng yang megah dan sulit ditembus, perpustakaan Alexandria yang besar, Kathedral St. Mark yang indah, sampai menara Alexandria yang dikemudian hari dikenal sebagai satu dari 7 keajaiban dunia dan replika nya ada di pinggiran sungai Thames London dan Central Park New York.

Jadi ketika menaklukan Mesir, umat Islam adalah umat yang tertinggal secara sains dibanding Mesir. Tidak ada apa-apanya. Tetapi kenapa meski tertinggal tapi umat Islam bisa menaklukan Mesir yang lebih maju?

Menurut Hitti, Arab-Islam pada waktu itu adalah generasi baru yang lebih segar, bersemangat, penuh antusiasme setelah mendapat ajaran Nabi. Namun selain hal itu, ada faktor lain yang juga menentukan, yaitu penguasaan teknik perang ala Asia Tengah dan Afrika Utara yang tidak pernah diketahui orang. Teknik dan strategi perangnya mungkin dianggap primitif, tapi semuanya dilakukan dengan disiplin, rapi, tertib, konsisten, dan penuh antusiasme. Ada pengorganisasian yang baik dari cara berperang orang Arab. Hal yang juga ditunjukan oleh bangsa Monggol ataupun Romawi.

Jadi kalau kita membaca uraian Harari dan Hitti, ada dua hal yang membuat sebuah negara menjadi unggul dan bisa menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya; pengorganisasian yang baik serta sains. Di masa pandemi ini, bila kita lihat pola negara-negara yang berhasil menangani wabah, maka polanya tidak jauh berbeda dengan dua hal diatas; sains dan pengorganisasian yang baik.

Amerika yang kaya dan mempunyai teknologi, menjadi epicentrum wabah karena buruknya pengorganisasian. Alih-alih mengkonsolidasikan diri menghadapi pandemi, Trump justu terlihat lebih rajin berkonfrontasi dengan WHO, China dan Gubernurnya. Italia bisa menurunkan angka infeksi setelah mengorganisasikan rakyat untuk disiplin tinggal di rumah. Vietnam tidak kaya dan teknologinya biasa saja, tapi karena bisa mengorganisasikan dirinya dengan rapi, mereka bisa menangkal wabah dengan angka nol kematian. Padahal berbatasan dengan China. Begitu juga dengan Taiwan. Pengorganisasian yang dipadukan dengan pemakaian Big Data, membuat mereka bisa mengontrol wabah tanpa harus lock down. Padahal mereka berdekatan dengan Wuhan dan kerap dipandang sebelah mata WHO. (Fn)

Selanjutnya

Artikel Terkait

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: