FeaturedJalan Pinggir

Kritik Nietzsche tentang Kebutuhan untuk Percaya dan Menghendaki Ketidakbenaran


Oleh: Afian Dwi Prasetiyo (Historian)

Friedrich Nietzsche (Lahir pada 1844 dan meninggal pada 1900) adalah tokoh filsafat yang menolak dengan kritis berkaitan dengan cara pandang manusia modern pada zamannya. Misnal Munir dalam Jurnal Filsafat, Volume. 21, No. 2 berjudul Pengaruh Nietzsche Terhadap Perkembangan Filsafat Barat Kontemporer, menulis Nietzsche sebagai filsuf yang berhasil menggoyang dan mendongkel tradisi filsafat barat yang telah mapan. Salah satunya adalah dogma teologi Kristen dan Kebudayaan Barat. (2011: halaman 135).

Mengutip Betrand Russel dalam bukunya yang diterjemahkan oleh Sigit Jatmiko berjudul Sejarah Filsafat Barat: Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik Hingga Sekarang, Nietzche dalam beberapa gagasannya, dia tidak berusaha menemukan sebuah teori teknis baru dalam kajian ontologi atau epistemologi, tetapi yang menjadi titik tekan Nietzsche adalah segi etika dan kemudian sebagai kritikus historis yang akut (Pustaka Pelajar, 2002: halaman 989).

Salah satu kritik Nietzsche yang popular terhadap situasi zamannya adalah gagasan tentang nihilis*. Gagasan ini berpandangan tidak adan satupun orientasi atas kepercayaan yang dapat dijadikan patokan. Salah satu contohnya adalah Tuhan.

A. Setyo Wibowo dalam Jurnal Kanz Philosophia berjudul Permasalahan Iman: Kritik Atas Iman dalam Filsafat Barat dan Tawaran Jawaban, menulis, “Akan tetapi berbeda dengan kaum pencerahan, yang di pikirannya masih beriman pada rasio. Di sini Nietzsche memiliki pandangan lain. Menurutnya kata Tuhan dalam teisme sama dengan kata “Deutschland Deutschland” dalam patriotisme Jerman atau rasio dalam saintisme.” (Vol. 3, No. 1, 2018: halaman 18).

Maka sebagai kepercayaan (isme), Tuhan, Tanah Air, Rasio, bahkan Sains adalah bentuk dari isme-isme. Nietzsche memandang kepercayaan di dalamnya membutuhkan sesuatu, yakni kebutuhan untuk percaya dan sesuatu yang dikehendaki oleh masyarakat zamannya adalah bentuk manisfestasi “kebutuhan untuk percaya” di zaman nihilis.

Nietzsche dalam bukunya The Gay Science (New York: Cambridge University Press 2001: halaman 205) menulis, “Believers and their need to believe. – The extent to which one needs a faith in order to flourish, how much that is ‘firm’ and that one does not want shaken because one clings to it – that is a measure of the degree of one’s strength (or, to speak more clearly, one’s weakness).” Menurutnya, kebutuhan manusia untuk percaya adalah sebuah sikap moral yang menandakan bahwa manusia memiliki kehendak yang lemah.

Kebutuhan manusia untuk percaya yang menjadi sasaran kritik Nietzsche adalah sebuah sikap pasif yang hanya tunduk dan menerima semua ajaran atau gagasan dalam sistem kepercayaan. Di halaman yang masih sama, Nietzsche melanjutkan kalimatnya, “Christianity, it seems to me, is still needed by most people in old Europe even today; hence it still finds believers. For that is how man is: an article of faith could be refuted to him a thousand times; as long as he needed it, he would consider it ‘true’ again and again, in accordance with that famous ‘proof of strength’ of which the Bible speaks.

Kritik Nietzsche dalam kalimat diatas bukan mengartikan ia tidak percaya terhadap sebuah aliran kepercayaan (dalam hal ini Kristen), pertama, ia mengkritik sebuah sikap pasif yang hanya tunduk dan menerima semua ajaran atau gagasan dalam sistem kepercayaan yang dapat menyebabkan fanatisme berlebihan terhadap kepercayaan. Kedua, Nietzsche mengajak untuk menciptakan manusia super.

Kebutuhan untuk Percaya

Bagi manusia, kehendak untuk percaya menjadi kebutuhan primer (KBBI: yang pertama; yang terutama; pokok). Kebutuhan yang besar akan sandaran terhadap kebenaran eksterior (di luar diri) yang bersifat absolut menyingkap ketidakberaniannya menghadapi realitas yang plural dan chaos (kacau). Bagi Nietzsche, realitas itu pada manusia bersifat immoral*, dia tidak baik dan tidak buruk sekaligus baik dan buruk, terbuka bagi beragam sudut pandang secara perspektif. Maka yang menjadi persoalan utama bukanlah benar atau salah sebuah isi dari kepercayaan. Meskipun isi kepercayaan dikritik habis-habisan oleh kepercayaan lainnya, lantas hal itu tidak membuat kepercayaan tersebut kehilangan kuantitas jumlah pengikut.

Dalam The Gay Science, Nietzsche menulis dengan terjemahnya sebagai berikut “Beberapa orang masih membutuhkan metafisika; tetapi secara deras luar biasa, keinginan akan kepastian meledak di kalangan masa saat ini dalam bentuknya yang saintifiko-positivistik. Ada keinginan hendak memiliki sesuatu yang stabil secara absolut. Sekali lagi, itu semua adalah saksi akan kebutuhan sebuah pegangan, kebutuhan akan sandaran. Adanya insting lemah yang tidak mengkreasi melainkan mengkonservasi kepercayaan apapun bentuknya.” (halaman 205)

Nietzsche memandang semakin tinggi tingkat kebutuhan manusia untuk percaya maka itu adalah cermin lemahnya kehendak seseorang untuk percaya terhadap dirinya sendiri. Nietzsche sendiri memahami bahwa manusia tidak akan mampu menangkap kebenaran realitas secara mutlak. Baginya benar dan salah harus diterima apa adanya karena keduanya berguna bagi manusia. Maka Nietzsche mengangap manusia harus memiliki pandangan untuk melampaui hal itu.

“Sebaliknya, kegembiraan dan kekuatan sebuah determinasi diri masih bisa dibayangkan: sebuah kebebasan untuk menghendaki, yang dengannya roh akan melepaskan semua bentuk kepercayaan, semua keinginan akan kepastian. Dan dilakukan seumpama menjaga keseimbangan diri di atas kemungkinan. Bahkan dilakukan dengan menari karena energi berlebih di bibir jurang. Roh semacam itu adalah roh bebas par excellen.” (The Gay Science halaman 344), tutup Nietzche dalam paragraf terakhirnya.

Nietzsche berpendapat bahwa manusia tidak hanya menghendaki kebenaran saja, tetapi menghendaki ketidakbenaran juga, jika keduanya memiliki kegunaan. Apabila salah satu dari keduanya diingkari, maka realitas yang plural tidak lagi dipandang universal.

Kebenaran dapat terasa seolah-olah itu bukan sekadar gagasan, tetapi karena memiliki kekuatan metafisik, khususnya ketika kita mengatakan: ‘Kebenaran akan membebaskan Anda’ atau ‘Keadilan akan terjadi.’ ‘Ketika tidak terjadi, kita menjadi kecewa. Namun, alih-alih menyalahkan diri sendiri, sebaliknya kita menyalahkan realitas karena tidak hidup sesuai dengan nilai-nilai yang kita harapan.

Jika manusia percaya dengan kebenaran tentang Tuhan dan sifat-sifatnya, maka manusia juga mengendaki ketidakbenaran tentang Tuhan dan sifat-sifatnya. Tetapi pengetahuan kebenaran dan ketidakbenaran yang manusia capai bukanlah pengetahuan absolut, karena kebenaran dan ketidakbenaran pengetahuan tentang Tuhan yang absolut hanya Tuhan sendiri yang mengetahui.

Nietzsche mengajak manusia untuk mengambil jarak terhadap realitas, sehingga manusia dapat mengambil jarak terhadap kebenaran yang bersifat absolut. Pengetahuan kita akan realitas hanyalah satu di antara sekian banyak sudut pandang lainnya, sehingga realitas yang dipandang oleh kita sebetulnya tidak menyentuh titik akhir (kebenaran absolut). Akhir kata saya ucapkan, eling, waspodo, andhap asor, lan ojo kemaki di depan realitas.

Catatan:

*Dalam istilah nihilisme, kata nihil tidak menunjukkan ketidakberadaan, namun menunjukkan nilai nol. Kehidupan memiliki nilai nol sejauh ia ditolak dan didepresiasikan (diperosotkan). Lihat, Gilles Deleuze, Nietzsche and Philosopy, ter. Basuki Heri Winarno, Filsafat Nietzsche, (Yogyakarta: Ikon Teralitera, 2002), hlm 207.

Meskipun terbaca nyaris sama, amoral dan immoral sesungguhnya bukan sinonim karena dua kata sifat ini maknanya berbeda. Amoral berarti “having no moral sense; not concerned with the rightness or wrongness of behavior” (tidak punya sense moral; tidak ada kekhawatiran apakah suatu perbuatan baik atau buruk secara moral), sedangkan immoral berarti “not morally good” (tidak baik secara moral; immoral). Contoh: Korupsi merupakan salah satu tindakan immoral dan koruptor adalah orang yang amoral.

Selanjutnya

Artikel Terkait

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: