Jalan Pinggir

Menimbang Sisi Gelap Pariwisata

Oleh Didik Akhmadi

Pariwisata atau lebih luasnya kepariwisataan secara umum dipandang sebagai sarana untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Kalkulasi ekonominya sangat meyakinkan karena pariwisata membawa orang-orang memasuki suatu wilayah wisata dengan membawa uang dan membelanjakannya untuk layanan jasa kepariwisataan di lokasi wisata yang bersangkutan. Hanya saja dalam perspektif sosial budaya, model wisata yang dikembangkan perlu diseleksi dan dipilih agar pariwisata tak menimbulkan dampak buruk bagi masyarakat karena pariwisata bisa memiliki sisi sisi gelap.

Pilihan model kepariwisataan yang dikembangkan Bupati Abdullah Azwar Anas (AAA) sangat bagus untuk dicontoh. Secara strategis, AAA telah menetapkan bahwa pariwisata yang dikembangkannya adalah eco-tourism. Dan, bahkan beranjak menuju pariwisata syariah. TGB yang juga mengembangkan pariwisata di wilayah NTB juga mengenalkan wisata halal. TGB misalnya membatasi atau bahkan melarang peredaran minuman keras di wilayah NTB, khususnya di daerah wisata. Wisata halal juga diterapkan pada aktivitas layanan pariwisata yang lainnya. Kedua pemangku wilayah tersebut baik AAA maupun TGB ingin menciptakan diferensiasi yang kuat dibandingkan dengan kepariwisataan yang berlangsung di tetangganya. Sri Sultan HB X juga punya pilihan kebijakan kepariwisataan, yaitu pariwisata yang berkebudayaan. Semoga saja pilihan-pilihan itu bisa menghindarkan diri dari sisi-sisi gelap pariwisata.

ECO Tourisme

Tanpa perlu menyebut daerah mana sisi gelap wisata itu terjadi, namun kita perlu mewaspadai bagaimana sisi gelap pariwisata itu terjadi.

Di satu daerah, ada indikasi gegar budaya itu terjadi. Ditandai dengan perbedaan kemampuan pemahaman antara generasi tua dengan generasi remajanya atas internet. Karena keterbatasan kemampuan dan pemahaman generasi tua atas perkembangan teknologi informasi, mereka kemudian tidak bisa mengarahkan generasi remaja untuk mengembangkan internet sehat. Bagaimana dampak tidak berjalannya internet sehat di sebuah daerah wisata yang berkembang pesat? Remaja-remaja di daerah wisata tersebut menjadi korban akibat bersentuhannya mereka dengan orang orang luar yang membawa budaya ‘baru’. Suasana menjadi lebih buruk dengan ketidakmampuan pemerintahannya untuk mengendalikan tumbuhnya budaya ‘buruk’ dan ketidakjelasan pemerintah untuk memilih model pariwisata yang dikembangkan.

Ketika kepariwisataan tidak bisa dikendalikan; minuman minuman keras akan berkembang, panti panti pijat dan pub pub karaokean bertumbuh cepat. Dampaknya secara nyata terlihat banyak gadis-gadis muda hamil di luar pernikahan, pernikahan dini berkembang untuk menutupi peristiwa buruk yang terjadi, angka perceraian pun meningkat. Lalu, apalagi? Angka kesehatan menurun ditandai dengan munculnya penyakit penyakit yang berasal dari berkembangnya virus virus perusak. Semisal AIDS.

Seorang investor sudah melihat dengan mudah, apa bisnis yang akan dikembangkan ketika kejadian itu terus berlanjut, di tengah kegiatan pariwisata yang semakin semarak? Instink bisnisnya berjalan, dia akan mendirikan dan mengembangkan rumah sakit di sekitar lokasi wisata.

Pelajaran bisa diambil dari keberadaan sisi gelap pariwisata. Pariwisata yang dikembangkan adalah pariwisata yang berkebudayaan. Syukur ditambahkan dengan konsep pariwisata halal. Pengembangan kepariwisataan yang akan dijalankan perlu didukung dengan penguatan penguatan budaya, termasuk penyiapan dan pembekalan terhadap SDM kepariwisataan yang akan berperan dan bekerja di dalamnya. (T)

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up