Jalan Pinggir

Mengapa Pesawat Dilarang Terbang jika Gunung Meletus

Banyak teman bertanya kepada saya, mengapa Bandara Ngurah Rai dan Lombok ditutup akibat letusan gunung Agung memuntahkan laharnya dan memproduksi debu vulkanik ?

Debu vulkanik yang dilemparkan ke atmosfer oleh letusan gunung berapi memiliki efek merusak pada pesawat terbang. Partikel debu dapat masuk ke dalam permukaan lapisan kulit luar. Termasuk menutupi kaca jendela dan kaca depan pilot, meresap ke permukaan pesawat terbang, terhisap ke dalam bilah kipas kompresor turbin mesin pesawat. Debu vulkanik cukup dapat memberikan dampak sangat berbahaya bagi keselamatan penumpang pesawat terbang.

Debu vulkanik mengandung butiran partikel kaca mungil atau silica dan bubuk batuan yang dimuntahkan puluhan ribu kaki ke udara akibat letusan gunung api. Letusan gunung api yang memuntahkan Abu vulkanik dapat beredar dalam gumpalan awan yang mencapai ketinggian jelajah penerbangan pesawat jet komersial.

Debu vulkanik cukup abrasif dapat mengikis bilah kompresor. Abu yang masuk ke ruang bakar bisa meleleh, menghasilkan zat seperti cairan gelas kaca. Titik temperature leleh bahan kaca silikat yang terkandung dalam gumpalan awan abu vulkanik lebih rendah dibanding suhu pembakaran mesin jet modern. Akibatnya, partikel abu yang tersedot ke dalam mesin dapat meleleh dengan cepat dan menumpuk sebagai deposit tergumpal di bagian yang lebih dingin turbin pesawat. Yang kemudian membeku pada bilah turbin, menghalangi aliran udara, dan berpotensi mesin flame out atau mati mendadak.

Di luar skenario pada kemungkinan pesawat kehilangan seluruh daya dorong pada ketinggian terbang jelajah 30000 kaki itu, abu vulkanik juga bisa mengacaukan sensor kecepatan pesawat terbang. Menghalangi pandangan pilot keluar akibat kaca depan tertutup abu. Mengotorkan udara di kabin, yang semuanya membuat kondisi terbang semakin sulit.

Dalam Guidance Flight Safety and Volcanic Ash yang ICAO document 9974 /ANB 487 terbitan 2012 dinyatakan sebagai berikut: abu vulkanis secara seketika dapat menyebabkan:

1). the malfunction or failure of one or more engines leading not only to reduction, or complete loss,of thrust but also to failures of electrical, pneumatic and hydraulic systems.

2). Volcanic ash contains particles whose melting point is below modern turbine engine burner temperature; these particles then fuse in the turbine section reducing the throat area and its efficiency leading to engine surge and possibly flame-out, the blockage of pitot and static sensors resulting in unreliable airspeed indications and erroneous warnings, windscreens rendered partially or completely opaque and contamination of cabin air requiring crew use of oxygen masks.

Organisasi Penerbangan Sipil Internasional memiliki catatan untuk 83 “incident” akibat pesawat terbang terkena abu vulkanik tahun 1935 dan 2008. Delapan menyebabkan kerusakan mesin sementara.

Kasus yang paling terkenal adalah bulan Juni 1982, ketika keempat mesin pada British Airways 747 gagal setelah pesawat terbang terjebak dalam awan abu yang dihasilkan oleh letusan Gunung Galunggung di Indonesia. Pilot berhasil menghidupkan kembali tiga mesin dan mendarat darurat dengan aman di Halim Perdana Kusuma.

Kompilasi Insiden yang diketahui dan tercatat pada kurun waktu 1953-2009 memperlihatkan ada 79 insiden abu vulkanik yang merusak pesawat terbang. Dua puluh enam secara signifikan memperlihatkan kerusakan pesawat yang sangat parah. Sembilan kegagalan mesin terjadi saat penerbangan.

Untungnya di masing-masing kasus kegagalan mesin, setidaknya satu mesin dapat dihidupkan kembali, dan karenanya tidak ada catatan kecelakaan fatal yang diketahui akibat abu vulkanik.

Misalnya, pada Pagi Kru KLM Flight 867 berjuang untuk menghidupkan kembali mesin pesawat yang tiba-tiba mati mendadak. Sementara “asap” dan Bau belerang yang kuat memenuhi kokpit dan kabin. Selama lima menit pesawat jet Boeing 747, menuju Anchorage, Alaska, dengan 231 penumpang yang ketakutan terdiam, tak berdaya terbang menuju Talkeetna. Sebuah deretan Pegunungan terjal dan tertutup salju. Gunung berapi Redoubt mulai meletus 10 jam lebih awal pada pagi hari tanggal 15 Desember 1989.

Setelah pesawat jet lumpuh terjatuh dari ketinggian 27.900 kaki menjadi 13.300 kaki Pilot dapat menghidupkan kembali semua mesin. Dan mendaratlah pesawat dengan selamat di Anchorage.

Pesawat tersebut membutuhkan $ 130 juta untuk perbaikan, termasuk penggantian keempat mesin yang rusak.

Pertemuan berbahaya dan mahal di antara Pesawat terbang dengan abu vulkanik bisa terjadi karena awan abu sulit dibedakan dari awan biasa, baik secara visual maupun radar.

Selain itu, awan abu vulkanik bisa melayang jauh dari sumbernya. Misalnya, dalam waktu kurang dari 3 hari, awan abu akibat Letusan Gunung Pinatubo di Filipina tanggal 15 Juni 1991, menempuh perjalanan lebih dari 5.000 mil ke pantai timur Afrika

Awan abu ini merusak lebih dari 20 pesawat terbang, yang sebagian besar terbang berjarak lebih dari 600 mil dari gunung berapi sepanjang rute udara Pasifik Utara.

Jusman Syafii Djamal
Chairman at Garuda Indonesian and Chairman at Matsushita Gobel Foundation

(sumb: fb)

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait

Check Also

Close
Scroll Up