Jalan Pinggir

Mengapa Banyak Acara Jadi Batal atau Ditunda Gara-gara Kasus Corona?

Kanigoro.com – Setelah badan kesehatan dunia World Health Organization (WHO) menetapkan Coronavirus Disease (COVID-19) sebagai pandemi (wabah penyakit global) pada 11 Maret 2020, sejumlah even besar terpaksa harus ditunda. Komite Eksekutif Asosiasi Sepakbola Uni Eropa atau Union of European Football Associations (EUFA) telah memutuskan penundaan penyelenggaraan UEFA EURO 2020 menyusul pertemuan konferensi video dengan ke-55 anggotanya pada Selasa (17/3/2020). Sedianya even sepakbola tersebut akan diselenggarakan pada 11 Juni s.d 11 Juli 2020, akhirnya ditunda tahun depan.

Sebelum pengumuman WHO beberapa even olahraga juga sempat dihentikan atau dibatalkan. Seperti kejuaraan bulutangkis junior Decathlon Perfly Italian Junior pada 21-23 Februari 2020 yang dihentikan saat sebagian nomor memasuki semi final dan sebagian lainnya tinggal pertandingan final. Lalu kejuaraan bulutangkis Yonex German Open yang sedianya akan diadakan 3-8 Maret 2020 dibatalkan.

Di Indonesia, tampaknya masih banyak orang ragu untuk memutuskan menunda atau tidak acara yang akan diselenggarakannya. Dengan merujuk Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (COVID-19) yang diterbitkan Kementerian Kesehatan RI melalui Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian (P2P), bisa dipahami mengapa acara-acara yang menghadirkan banyak orang di suatu tempat mesti dihindari.

Buku tersebut awalnya diberi judul Pedoman Kesiapsiagaan Menghadapi Coronavirus Disease (COVID-19) yang diterbitkan akhir Januari 2020. Lalu direvisi menjadi Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (COVID-19) pada 17 Februari 2020. Terakhir direvisi lagi dan diterbitkan pada 16 Maret 2020. Meski pedoman tersebut diperuntukkan bagi petugas kesehatan, ada beberapa hal yang perlu diketahui publik agar bisa memahami mengapa kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak orang dalam suatu tempat mesti dihindari.

Hal itu dilakukan untuk mencegah apa yang dalam pedoman itu disebut dengan Kontak Erat yang didefinisikan sebagai seseorang yang melakukan kontak fisik atau berada dalam ruangan atau berkunjung (radius satu meter dengan kasus pasien dalam pengawasan (PDP), probabel atau konfirmasi) dalam 2 hari sebelum kasus timbul gejala hingga 14 hari setelah kasus timbul gejala.

Kontak erat dikategorikan menjadi dua, pertama, kontak erat risiko rendah untuk kontak dengan kasus PDP. Dan kedua, kontak erat risiko tinggi untuk kontak dengan kasus konfirmasi atau probabel.

Termasuk kontak erat adalah:

a. Petugas kesehatan yang memeriksa, merawat, mengantar dan membersihkan ruangan di tempat perawatan kasus tanpa menggunakan alat pelindung diri (APD) sesuai standar.

b. Orang yang berada dalam suatu ruangan yang sama dengan kasus (termasuk tempat kerja, kelas, rumah, acara besar) dalam 2 hari sebelum kasus timbul gejala dan hingga 14 hari setelah kasus timbul gejala.

c. Orang yang bepergian bersama (radius 1 meter) dengan segala jenis alat angkut/kendaraan dalam 2 hari sebelum kasus timbul gejala dan hingga 14 hari setelah kasus timbul gejala.

Berdasarkan pengertian tentang kontak erat tersebut maka untuk sementara acara-acara yang menghadirkan banyak orang dalam suatu lokasi ditiadakan. Kalau terpaksa harus diadakan sebelum memasuki lokasi, peserta dilakukan pemeriksaan temperatur badannya terlebih dahulu, untuk memastikan tidak memenuhi kriteria sebagai orang dalam pemantauan (ODP) atau PDP, atau pernah melakukan kontak erat, baik resiko rendah maupun tinggi.

Berikutnya ada beberapa kategori orang terkait kasus corona yang perlu dipahami.

Pasien Dalam Pengawasan (PDP)
Orang dengan kategori sebagai pasien dalam pengawasan (PDP) inilah yang selanjutnya disebut suspek corona. PDP terdiri dari tiga tipe.

Pertama, seseorang dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yaitu demam (≥38⁰C) atau riwayat demam; disertai salah satu gejala penyakit pernapasan seperti: batuk, sesak nafas, sakit tenggorokan, pilek atau pneumonia ringan hingga berat. Berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan tidak ada penyebab lain. Pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala, memiliki riwayat perjalanan/tinggal di luar negeri yang melaporkan transmisi lokal atau memiliki riwayat perjalanan/tinggal di area transmisi lokal di Indonesia.

Kedua, seseorang dengan demam (≥38⁰C) atau riwayat demam atau ISPA dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi atau probabel COVID-19.

Ketiga, seseorang dengan ISPA berat/ pneumonia berat di area transmisi lokal di Indonesia yang membutuhkan perawatan di rumah sakit, dan tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan.

Orang dalam Pemantauan (ODP)
Yang masuk kategori ini adalah seseorang yang mengalami demam (≥38⁰C), riwayat demam, atau gejala gangguan sistem pernapasan seperti pilek, sakit tenggorokan atau batuk. Tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan. Pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala, memiliki riwayat perjalanan/tinggal di luar negeri yang melaporkan transmisi lokal atau memiliki riwayat perjalanan/tinggal di area transmisi lokal di Indonesia.

Kasus Probabel
Pasien dalam pengawasan yang diperiksa untuk COVID-19 tetapi inkonklusif (tidak dapat disimpulkan).

Kasus Konfirmasi
Seseorang terinfeksi COVID-19 dengan hasil pemeriksaan laboratorium positif.

Semoga bermanfaat.

Kang Juki, pegiat media sosial.

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker