Jalan Pinggir

Mengakhiri Kampanye dan Merampungkan Debat dengan Meruwat Buto

Kanigoro.com – Masa kampanye Pemilu 2019, baik Pemilihan Legislatif (Pileg) maupun Pemilihan Presiden (Pilpres) akan berakhir pada Sabtu, 13 April 2019. Bersamaan dengan itu akan digelar pula Debat ke-5 Pilpres 2019. Selama masa kampanye dan pasca keempat debat pilpres sebelumnya, masyarakat diwarnai hiruk pikuk perbincangan politik terkait dukungan masing-masing.

Polemik akibat perbedaan dukungan kadang berujung saling bully dan berakhir dengan putusnya silaturahim. Media sosial (medsos) yang semula berhasil menyambungkan kembali hubungan yang terputus, di masa kampanye ikut menjadi ajang caci maki dan tak jarang berakhir dengan saling blokir akun. Putuslah hubungan melalui akun medsos.

Masyarakat cenderung menjadi lebih sensitif dengan perbedaan pendapat dan kritikan. Sehingga tanpa banyak pertimbangan, kadang dengan mudah mengumbar kemarahan kepada orang yang berbeda pendapat, apalagi sampai mengritik tokoh yang didukungnya.

Dalam masyarakat Jawa, perilaku pemarah, gampang mengamuk identik dengan tindak kejahatan yang divisualkan dengan figur buto, raksasa yang buruk rupa. Mata melotot besar, mulut bertaring tak bisa menutup, hidung pesek berlubang besar dan rambut panjang tak beraturan. Rahwana, Bethara Kala dan Bethari Durga adalah nama-nama buto yang dianggap menjadi simbol kejahatan itu.

Meskipun demikian, buto juga bisa mempunyai rasa kasih sayang. Seperti budayawan Sudjiwo Tejo yang menyebut dalam sosok Rahwana juga bermukim perasaan cinta suci kepada Dewi Shinta.

Beranjak dari situasi dan kondisi tersebut, Koalisi Untuk Rakyat Madani (KURMA) akan melakukan reinterpretasi terhadap buto sebagai simbol kejahatan, melalui sebuah pementasan bertajuk Ruwatan Buto Angkoro Obong. Menurut Sekjen KURMA Arist Munandar, reinterpretasi dilakukan karena ada kekhawatiran masyarakat terjebak dalam simbol yang keliru.

“Perilaku politisi yang halus, lembut namun nyolongan itu jelas lebih jahat. Kalau buto itu kejahatannya lebih ksatria. Nah para politisi ini kejahatannya double karena dilakukan dengan kesadaran penuh bertindak munafik. Pura-pura baik tapi mematikan,” kata Arist Munandar.

 

Nindito Nugroho, pelaku teater di Kabupaten Magelang menambahkan, butuh kecerdasan dan kejernihan hati untuk bisa membedakan kejahatan dan kebaikan.

“Buto itu meskipun digambarkan seram, namun ada nilai estetis secara seni rupa. Bahkan ketika berbuat jahat, ia mendeklarasikan diri hendak berbuat jahat. Ada kesantunan pula, yakni ketika akan membunuh lawannya ia akan bertanya nama dan alamatnya agar bisa mengantar jenazah atau memberi kabar keluarganya,” kata Nindito Nugroho.

Sementara itu, para politisi kadang sangat baik terutama menjelang pemilu. Mereka akan menghamburkan hadiah kepada pemilihnya, bisa berupa uang, fasilitas, atau janji-janji lain.

“Tapi hakekatnya adalah mencari legitimasi saja untuk apapun yang diperbuatnya,” kata Nindito.

Berpijak dari pemahaman itu, Ruwatan Buto Obong digelar. Buto sebagai simbol kejahatan kasar akan dibakar sehingga hanya akan menyisakan estetika dan kelembutan saja.

“Barangkali ini yang terjadi ketika Buto tersinggung dan terhina. Karena mereka tetap dianggap jahat tanpa melihat sisi baiknya. Celakanya yang menganggap jahat adalah manusia yang ternyata kejahatannya lebih berbahaya,” lanjut Nindito.

Perhelatan itu akan digelar bersamaan dengan pelaksanaan debat pilpres 2019, 13 April 2019 di Pendopo Candran Danurejo, Mertoyudan Magelang. Tujuannya untuk pembelajaran publik.

“Debat menjadi tak begitu penting, karena kebenaran yang disampaikan pasangan calon tetap akan diragukan oleh pendukung pasangan lawannya. Menutup diri dari kebenaran pihak lain dan sikap permisif atas kejahatandari teman, itu yang kami kritisi,” pungkas Arist Munandar.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait