FeaturedJalan Pinggir

McDonald Dalam Hukum Perkembangan Industri 4.0. Review Film Founder

Oleh: Delianur

Berbeda dengan ide Society 5.0 Jepang yang memulai pembabakan kehidupan manusia jauh ke masa Hunter-Guthered, dimana tulisan sebagai tanda munculnya peradaban manusia belum ditemukan, pembabakan kehidupan manusia versi Industri 4.0 dari Jerman dimulai dari peristiwa yang lebih dekat; Revolusi Industri.

Sebagaimana terbaca dari namanya, istilah Industri 4.0 diperkenalkan sekelompok orang yang tergabung dalam Working Group on Industry 4.0 yang memaparkan rekomendasi pengembangan Industri 4.0 ke pemerintah federal Jerman pada Oktober 2012. Ide yang memperkenalkan pentingnya big data dan komputerisasi pabrik sebagai strategi tercanggih mutaakhir untuk mengembangkan industri, diungkap kembali di Hannover Fair setahun kemudian. Ide inilah yang menyebar ke seluruh dunia dimana pemerintah Indonesia sendiri mengikutinya dengan membuat “Making Indonesia 4.0” sebagai road map Industri 4.0

Industri 4.0 sebagai sebuah tahapan terkini kehidupan, dimulai ketika Mesin Uap ditemukan. Bila sebelumnya proses produksi bergantung kepada tenaga manusia, tenaga angin dan tenaga air yang memiliki keterbatasan dari segi waktu dan tempat, Mesin Uap mengubahnya. Tenaga uap bisa digunakan dimana saja, dan kapan saja selama 24 Jam dan menjadikan proses produksi lebih efisien dan murah. Masa inilah yang disebut dengan Industri 1.0. Ketika mesin uap menggantikan manusia, mempermudah proses produksi dan menjadi cikal bakal massifikasi produksi. Mekanisasi dan penggunaan Mesin Uap menjadi ciri masa ini.

Memasuki Abad 20, Mesin Uap yang sudah banyak dipakai banyak orang dianggap mempunyai kelemahahan sangat mendasar; membutuhkan ruang sangat besar dan kotor. Debu dan asap yang dikeluarkan Mesin Uap bukan hanya mencemari udara, tetapi juga mengancam kesehatan manusia. Pada masa inilah muncul pengganti mesin uap yang lebih murah, lebih efektif dan bersih tidak menimbulkan pencemaran; listrik.

Namun kedatangan listrik yang menggantikan mesin uap, tidak serta merta bisa memenuhi kebutuhan massifikasi produksi yang sudah mulai muncul ketika Mesin Uap dipakai. Proses produksi di pabrik dianggap belum modern dan tidak bisa memenuhi kebutuhan konsumsi yang kiat meningkat.
Dalam produksi mobil misalnya. Pada masa itu proses pembuatan mobil dilakukan dengan paralel. Karena berat, setiap komponen mobil harus dibawa ke tukang rakit. Seorang tukang rakit mobil dilatih menjadi generalis karena dia mesti memproses mobil dari awal hingga akhir. Dari merakit ban, pintu, setir, lampu sampai lengkap menjadi mobil. Setiap orang harus diajari banyak hal. Proses ini membutuhkan banyak orang dalam waktu bersamaan sehingga tidak efektif dan lambat.

Perubahan proses produksi terjadi ketika orang menciptakan sistem “Assembly Line”, Lini Produksi, dengan menggunakan “Conveyor Belt”, ban berjalan. Melalui sistem ini proses produksi berubah total. Perakit mobil tidak lagi menyelesaikan satu mobil dari awal hingga akhir tapi dia hanya mengurus satu bagian saja. Seperti hanya memasang ban, atau lampu. Perakit dilatih menjadi spesialis bukan generalis. Mobil yang dirakit secara paralel, diubah polanya menjadi serial.
Perubahan sistem paralel ke sistem serial terasa ketika produsen mobil Ford mengeluarkan “Ford Model T”yang dikenal sebagai mobil murah pertama dunia. Ketika Ford mengeluarkan model ini, Ford kebanjiran pesanan sampai tidak bisa memenuhi permintaan. Karena Ford yang waktu itu memakai sistem paralel, membutuhkan waktu sekitar 12 Jam 30 Menit untuk memproduksi satu “Ford Model T”. Dalam setahun Ford hanya bisa memproduksi Ford Model T sejumlah 68.773.

Ford pun merubah proses produksinya memakai “Assembly Line” dengan menggunakan “Conveyor Belt” di tahun 1913. Perakit mobil menjadi spesialis bukan generalis. Produksi “Ford Model T” dipecah menjadi 45 pos dimana komponen mobil-mobil tersebut dipindahkan ke setiap pos dengan “Conveyor Belt” yang menggunakan tenaga listrik. Pola produksi seperti ini menurunkan waktu produksi secara drastis. Mobil bisa dirakit hanya dalam waktu 95 menit sehingga produks Ford Model T melonjak dari 68 ribuaan tahun 1912 menjadi 170 ribuan tahun 1913 sampai akhirnya menembus 1 juta mobil pada 1922 dan nyaris 2 Juta mobil pada 1925.

Dalam runtutan seperti diataslah mungkin kita bisa melihat proses berdiri dan besarnya McDonald, rumah makan siap saji terbesar di dunia. Meski mungkin dua bersaudara Dick dan Mac McDonald pendiri awal McDonald, tidak menyebutkan sistem “Assembly Line” dan sistem produksi secara Serial menjadi inspirsasi mereka, tetapi sistem itulah yang terlihat ketika mereka membuat resturan siap saji ini. Setidaknya sistem ini juga yang diungkap Ray Koc (Michael Keaton) yang mengembangkan McDonald hingga mendunia.

Koc yang kagum melihat sistem yang dikembangkan Dick dan Mac di restaurannya, menyebutkan bahwa dia seperti melihat sistem produksi “Ford Model T”. Duo McDonald bersaudara tidak hanya memikirkan makanan siap saja yang enak disantap, tetapi juga memikirkan sistem yang cepat, tepat dan menghasilkan produksi yang banyak dengan kualitas kontrol terjamin. Speedy system McDonald bersaudara diciptakan dengan mempertimbangkan harmonisasi antara ruang, waktu dan gerak setiap karyawan McDonald ini.

Berkenaan dengan kecepatan, ketepatan dan waktu, adalah menarik bila kita membaca kembali karakter masyarakat Industri yang diungkap Yuval Noah Harari dalam bukunya : “Sapien: Riwayat Singkat Umat Manusia”.

Menurut Harari, di era pertanian Jadwal bagi manusia berarti musim dan siklus Matahari. Para petani mengenal musim sebagai waktu untuk menanam sesuatu dan siklus Matahari sebagai penanda mulai dan selesainya aktivitas.

Namun memasuki era industri semuanya berubah. Mekanisasi yang terjadi di era industri, membuat manusia didikte mesin. Aktivitas kesehariannya mesti disesuaikan dengan kerja-kerja mesin yang menuntut presisi dan akurasi. Dalam sistem kerja berdasar mesin, keterlambatan selama 5 menit berarti keterlambatan produksi. Jadwal menjadi sangat penting dalam proses produksi.

Pentingnya jadwal yang semula dipakai pabrik inilah yang kemudian menyebar ke institusi lain seperti sekolah, kantor pemerintah atau toko kelontong. Jadwal menjadi raja. Bila giliran kerja di pabrik berakhir pukul 5 sore, tempat minum-minum setempat sebaiknya sudah buka pada pukul 5.02.

Transportasi adalah mata rantai penyebaran pentingnya sistem Jadwal. Bila pekerja memulai giliran kerja pada pukul 08.00, maka Kereta atau Bus harus mencapai gerbang pabrik paling lambat pukul 7.55. Keterlambatan berarti penurunan produksi dan berujung pemecatan. Jadwal transportasi disesuaikan dengan proses produksi.

Puncak dari pentingnya jadwal ini adalah ketika pada tahun 1847 perusahaan-perusahaan kereta Britania berembuk dan menyetujui bahwa sejak saat itu semua Jadwal kereta akan dicocokan dengan waktu Observatorium Greenwich. Tidak adalagi berpatokan pada waktu lokal yang berbeda antara Liverpool, London, Canterbury atau Manchester. Puncaknya adalah tahun 1880 ketika pemerintah Britania menetapkan bahwa Jadwal di Britania harus mengikut Greenwich. Inilah kali pertamanya sebuah negara mengadopsi waktu nasional dan mewajibkan penduduknya untuk hidup brdasarkan Jam artifisial, bukan jam-jam lokal atau siklus Matahari terbit sampai terbenam.

Jam dan kecepatan inilah yang kita lihat dalam proses produksi Burger di McDonald. Setiap pekerja McDonald bukan hanya menjadi spesialis dalam tugasnya, tetapi juga memikirkan jadwal. Burger tidak hanya harus diproduksi memenuhi quality control, tetapi juga memenuhi kebutuhan akan kecepatan dan ketepatan yang kala itu menjadi ciri masyarakat industri.

Founder sendiri adalah film produksi tahun 2016 yang menceritakan proses awal berdirinya restaruant siap saja McDonald. Namun Film berdurasi 115 menit ini menceritakan sisi gelap dari perjalanan McDonald di masa awal. Proses awal ketika Ray Koc yang agresif dan mempunyai visi membesarkan McDonald hingga ke seluruh Amerika, bisa menyisihkan Dick McDonald (Nick Offerman) dan Mac McDonald (John Linch) yang menciptakan speedy system dan menu Burger yang menjadikan McDonald digemari banyak orang.

Melihat hubungan Ray Koc dan McDonald bersaudara kita seperti melihat hubungan antara Steve Wozniak dan Steve Jobs ketika mengembangkan Apple. Steve Wozniak yang tekun mempelajari komputer, mirip seperti McDonald yang tekun memikirkan menu dan speedy system McDonald. Sementara Ray Koc yang agresif dan berpikir ekspansif, seperti melihat Steve Jobs yang juga berpikir ekspansif ketika mengembangkan Apple. Hanya saja saja Jobs masih berpikir tentang pentingnya inovasi dan kreasi dalam mengembangkan Apple, bukan semata-mata ekspansi dan keuntungan seperti yang ditunjukan Koc. Hubungan Steve Jobs dan Steve Wozniak pun berakhir lebih manis dibanding hubungan Koc dan McDonald bersaudara.

Untuk menggambarkan hubungan antara Ray Koc dan McDonald bersaudara, Robert Siegel menyebut bahwa Koc “He took someone else’s idea and America ate it up”.

Selanjutnya

Artikel Terkait

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: