FeaturedJalan Pinggir

Mahasiswa KKN UNS Ubah Limbah Jadi Berkah

Kanigoro.com – Bantu tingkatkan kapasitas petani, Mahasiswa KKN Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta adakan pelatihan, Salah satunya Pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dari Limbah Nasi Basi. Pelatihan tersebut dilaksanakan pada Senin siang (29/6) di kediaman Ketua RT 002/001 Dusun Sendang Tliko Desa Mojorembun.

Hadir dalam pelatihan tersebut Kepala Desa Mojorembun dan 4 orang yang tergabung dalam Kelompok Tani Sendang Tliko. Pelatihan ini dilaksanakan karena melihat fenomena yang terjadi di masyarakat, bahwa mereka belum optimal dalam pengolahan limbah terutama limbah nasi basi. Masyarakat secara umum hanya memanfaatkan limbah nasi basi sebagai pakan hewan ternak saja, serta masih rendahnya penggunaan pupuk organik dalam budidaya tanaman.

Pemateri, Winda Puspita Dewi yang merupakan mahasiswa KKN UNS sendiri ini, menjelaskan cara mengubah limbah nasi basi menjadi pupuk organik cair beserta bahan yang dibutuhkan; nasi basi dan cairan gula. Selain itu, pemateri juga menjelaskan ciri-ciri keberhasilan pembuatan pupuk organik sampai dengan cara penggunaan dari pupuk organik cair tersebut.

“Gula digunakan sebagai makanan untuk perkembangan mikroorganisme yang terkandung dalam nasi, sedangkan nasi basi dimanfaatkan sebagai starter (kultur mikroorganisme) pembuatan pupuk organik cair”, jelas Winda.

Winda memaparkan proses pembuatan pupuk organik cair, “Nasi basi taruh dalam stoples (selama 5 hari) ditutup tidak terlalu rapat, supaya gas yang terbentuk dalam proses fermentasi dapat keluar dan terjadi sirkulasi udara. Setelah nasi basi terfermentasi 5 Hari, siapkan air gula Dengan cara merebus 250 gram gula pasir dalam 1 liter air.”

Winda melanjutkan, setelah air gula tersebut dingin, tuangkan air gula ke dalam toples nasi basi. Aduk hingga tercampur merata, diamkan campuran tersebut selama seminggu. Setelah satu minggu, saring campuran tersebut. Langkah terakhir, larutan yang dihasilkan dari penyaringan dicampur dengan air dan pupuk cair siap digunakan.

Menurut Winda, keberhasilan pupuk cair bisa dicium dari baunya yang manis seperti tapai, “sedangkan pupuk yang gagal baunya seperti comberan.” imbuh Winda.

Sumito, Ketua Kelompok Tani Sendang Tliko, menceritakan bahwa ia dan warga anggota kelompok lainnya belum pernah mengikuti ataupun mendapatkan pelatihan tentang pembuatan POC dari limbah nasi basi sebelumnya.

“Pelatihan yang pernah saya ikuti adalah pembuatan pupuk organik padat, sedangkan pembuatan pupuk organik cair belum pernah mengikuti; termasuk dari bahan baku limbah nasi basi. Saya ikuti baru kali ini”, tuturnya.

Moch Syaifudin Zuhri, kepala Desa Mojorembun, berharap adanya pelatihan pembuatan POC dapat menjadikam petani bisa memproduksi POC sendiri, mengingat harga pupuk kimia yang sangat mahal. Selain itu, dengan adanya POC ini bisa membantu dalam menekan jumlah pengeluaran biaya operasional dalam berusaha tani.

“Harapannya, setelah pelatihan pembuatan pupuk organik cair ini, selanjutnya kita bisa membuat demplot atau kebun percontohan untuk melihat dampak yang dihasilkan dari tanaman setelah diberi pupuk organik cair tersebut.” tambah Kepala Desa yang sudah dua periode menjabat itu. (Fn)

Selanjutnya

Artikel Terkait

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: