Jalan Pinggir

Kunti: Bait Puisi 4

Oleh: Choirul Aminuddin (Mantan Wartawan Tempo)

Jarum di arloji Sarjan merk “Garuda” yang tak pernah lepas dari pergelangan tangan kanannya mulai bergerak ke arah pukul 03.15. Itu artinya fajar tak lama lagi bakal menyingsing, disusul azan subuh muadzin di Musholla Panggung. Sementara itu, sepasang ayam hutan yang berasik-asikan semalaman di peraduan belukar mulai menggeliat menyambut pergantian hari.

Kendati demikian, tidak ada tanda-tanda Kunti menampakkan diri. Sarjan hanya bisa menebak curiga bahwa perempuan berambut hingga lima centi meter di atas bokong itu sudah tak mencintai lagi. Kecurigaan Sarjan berikutnya, kuat dugaan Kunti tak suka dia bersenda gurau dengan Lana. Canda tawa Sarjan dan Lana pada malam Jumat pekan lalu dianggap Kunti sebagai sebuah pengkhianatan cinta suci.

Lana, bagi Kunti, sesungguhnya masih kerabat dekat. Ketika dia lahir di sebuah rumah gedek di tepi Hutan Pring, Lana adalah ari-arinya yang menjelma menjadi perempuan berkulit bersih. Hidungnya mancung seperti yang dimiliki gadis-gadis di Eropa, matanyanya pun kecoklat-coklatan sebagaimana kaum perempuan di negeri Bavaria.

Selanjutnya, Kunti dan Lana, tumbuh bersama. Kemanapun pergi, boleh dikata, hampir selalu dilakukan bareng. Bahkan kegiatan ritual membersihkan diri di Kali Dawa pada malam bulan purnama senantiasa bersama-sama. Di sungai yang tak berarus deras itu, Kunti dan Lana acap kali pamer aurat.

“Idiihh….itumu kecil. Liat niih punyaku montok kan?” kata Kunti sembari mengelus dadanya di depan Lana yang tersenyum girang.

“Engga apa-apa kecil, yang penting aduhai….” balas Lana sembari menyentil udelnya yang terlihat bodong.

Semenit kemudian, keduanya tertawa ngakak.

Keakrabatan kedua gadis ini, belakangan, mulai retak. Kunti selalu menghindar bila berpapasan dengan Lana. Kalaupun harus bertemu, Kunti menekuk tengkuk diiringi muka masam. Demikian pula Lana. Dia tak kalah geram jika melihat perempuan yang suka mengenakan gaun putih tipis sepanjang mata kaki itu.

Lana akan mempertontonkan empat gigi gingsulnya sebagai pertanda kebencian kepada Kunti. Memperlihatkan empat gigi gingsul bisa dimaknai lain yakni sebagai bentuk permusuhan, siap menggigit, siap menerkam dan siap bertarung hingga nyawa tercerabut.

Perseteruan antara Kunti dan Lana ini sesungguhnya sangat tidak dikehendaki Sarjan, walaupun kadang-kadang menguntungkannya. Mengapa begitu?

Bila hari ini cemburu Kunti sampai ke ubun-ubun, Sarjan akan lari ke tempat Lana menyendiri. Di tempat ini, Sarjan mendapatkan layanan superprima dari Lana. Sarjan bakal disuguhi buah-buahan terbaik yang tumbuh di Hutan Pring, mulai dari duren, manggis, kecapi, rambutan, langsat, duku hingga kesemek, buah favoritnya. Sambutan luar biasa prima itu sengaja diberikan oleh Lana kepada Sarjan karena dia paham gebetannya itu sedang berantem dengan Kunti.

Sebaliknya jika Lana mengumbar murka, Sarjan selalu kabur ke lokasi Kunti bersemayam. Sarjan hafal betul beberapa tempat yang menjadi kawasan Kunti berada. Pada pertemuan tersebut, Sarjan akan disambut dengan bait-bait puisi langit oleh Kunti. Suara Kunti yang seirama dengan gesekan daun cemara ketika membacakan puisi membuat hati Sarjan tenteram usai kena damprat Lana.

Salah satu bait-bait puisi Kunti yang masih diingat Sarjan berbunyi kira-kira begini:

Duhai lelaki pemilik derap langkah yang tak kenal lelah
Hampir seribu tahun aku menantimu di rimbun pepohonan
Penantianku hanya punya satu tujuan, engkau bersedia memelukku sepenuh hati
Tetapi…..itu sulit kau lakukan, wahai kekasihku…..

Puisi Kunti tersebut kerap dibaca berulang kali oleh Sarjan terutama ketika dia dalam keadaan galau. Pada malam penantian yang membuat Sarjan sesak dada itu, dia sempat membacakannya meskipun hanya sepotong. Sebab dia keburu tak bisa membendung emosi lantaran Kunti tidak kunjung menampakkan diri, kecuali dengan suara lirih.

Dari balik semak ilalang Kunti bersuara, “Mas Sarjan, bolehkah saya mengajukan satu permintaan. Dan, saya berharap dengan sangat Mas Sarjan memenuhi permintaan itu. Maukah, Mas?”

“Oh tentu dengan senang hati, Kunti. Apapun permintaanmu akan aku penuhi demi menjaga cinta kita.”

“Bisakah pernyataan Mas Sarjan itu dipegang. Atau ini hanya bualan Mas Sarjan yang keseribu kalinya?”

“Tidak, sayang. Aku pasti memenuhi permintaanmu. Ajukanlah… darling.”

Bersambung…

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up