Jalan Pinggir

Konflik Batin Seorang Guru Ngaji yang juga Berprofesi Sebagai Badut. Kebayang Nggak?

Kanigoro.com – Meskipun Rasulullah SAW dikenal suka mencandai sahabat-sahabatnya, namun dilakukan dengan ucapan yang benar, tidak mengada-ada. Selain itu, dalam sebuah hadits Rasulullah SAW pernah menasehati Abu Hurairah ra supaya jangan banyak tertawa, karena tertawa bisa mematikan hati.

Di masa kini justru ada profesi yang pekerjaannya membuat orang tertawa. Ada yang dilakukan dengan penampilan terbuka, dalam arti yang melakukan kelihatan jelas identitasnya, seperti komedian, ada yang semi terbuka seperti dalam pantomim dan ada yang tertutup, semisal badut. Strata sosial profesi pembuat orang tertawa juga beragam. Namun, diakui atau tidak badut akan cenderung dianggap yang paling rendah, baik strata sosial maupun intelektualnya, dibanding komedian atau pemain pantomim.

Masalahnya, bagaimana bila profesi sebagai badut ini disandang oleh seorang guru ngaji?

Di desa yang belum terkontaminasi mental materialistis status sebagai guru ngaji masih dihormati. Meski penghormatan tersebut tak selalu berbanding lurus dengan nilai nominal penghasilan yang mereka terima dalam melaksanakan tugasnya. Karena itu, seorang guru ngaji juga perlu menjalani profesi lainnya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Ketika seorang guru ngaji bernama Mukri (Donny Damara) yang memilih profesi sebagai badut untuk menambah penghasilan guna menafkahi keluarganya, apa yang kemudian terjadi? Konflik batin dalam kehidupan seorang guru ngaji sekaligus berprofesi sebagai badut inilah yang kemudian diangkat Chanex Ridhall Pictures ke dalam sebuah film dengan judul “Guru Ngaji”.

Film arahan sutradara Arnada ini melibatkan sejumlah aktor dan aktris kawakan yang sudah tidak diragukan kemampuan aktingnya. Donny Damara sebagai Mukri, Ence Bagus sebagai Parmin, Dodit Mulyanto sebagai Yanto, Verdi Solaiman sebagai Koh Alung, Dewi Irawan sebagai Sophia, Tarzan sebagai Pak Kepala Desa, Andania Suri sebagai Rahma, serta pemain pendatang baru, Akinza Chavelier sebagai Ismail.

Konflik Batin Seorang Guru Ngaji

Bagaimana profesi sebagai badut hanya dipandang sebelah mata, diperlihatkan dengan apa yang dialami oleh Parmin, rekan seprofesi Mukri sebagai badut. Parmin yang menyukai Rahma, harus bersaing dengan Yanto yang juga naksir Rahma dan selalu berhasil satu langkah lebih dulu dalam mengajak Rahma jalan-jalan. Mengetahui pekerjaan Parmin sebagai badut, semakin membuat Yanto juga meremehkan Parmin.

Mukri pun merahasiakan pekerjaan sampingannya sebagai badut, Bagaimanapun dirinya masih membutuhkan uang untuk membiayai kehidupan keluarganya yang pas-pasan. Rahasia pekerjaan sampingan ini disimpannya rapat-rapat dari keluarga dan juga warga Desa Tempuran. Tapi sampai kapan, rahasia itu bisa disimpan rapat-rapat oleh Mukri?

Konflik batin yang dialami Mukri mencapai puncaknya, ketika menerima permintaan Pak Kepala Desa untuk tampil memimpin doa di ulang tahun anaknya. Repotnya, tak lama berselang, ia juga mendapat tawaran manggung menjadi badut di acara yang sama. Apa yang kemudian dilakukan Mukri?

Film garapan rumah produksi Chanex Ridhall Pictures mengajak umat Islam untuk mengingat dan mengenang para guru ngaji. Mereka berkomitmen untuk memberangkatkan 25 (dua puluh lima) guru ngaji pilihan penonton dan 2 (dua) orang penonton yang beruntung untuk beribadah umrah ke tanah suci. Selain itu, sebagian dari hasil penjualan tiket akan disumbangkan untuk guru ngaji seluruh Indonesia melalui Dompet Dhuafa.

Anda teringat dengan guru ngaji dan tertarik mengikuti program tersebut? Caranya gampang. Cukup menonton film “Guru Ngaji” yang sedang ditayangkan di bioskop sejak Kamis, 22 Maret 2018 dan menyertakan tiket nonton di dalam program tersebut. Untuk mengetahui jadwal tayang film “Guru Ngaji” di bioskop kota terdekat anda bisa diikuti link berikut:

 

Komentar Facebook

Via
Guru Ngaji
Tags
Selanjutnya