Jalan Pinggir

Ketika Penasaran dengan Kubur Pitu

Oleh: Amam Fakhrur
Wakil Ketua PA Jakarta Barat dan Alumni Pesantren YTP Kertosono

Siapa yang tidak kenal dengan Kerajaan Majapahit, seluruh lapisan masyarakat, mengenalnya. Ia adalah sebuah kerajaan besar yang pernah ada di nusantara, Kerajaan yang berdiri pada tahun1293 itu, pada abad XIII, pernah menjadi kerajaan yang disegani di wilayah Asia, selain kerajaan Tiongkok. Disebut-sebut, wilayahnya membentang di sebagian besar nusantara, bahkan sampai ke Vietnam. Cerita-cerita tentang sosial politik dan hankamnya menjadi tontotan khas di panggung kesenian rakyat, di drama-radiokan dan disinetronkan. Kisah cinta raja, ketokohan pejabat Majapahit, peperangan-peperangan yang dilakoni baik untuk perluasan wilayah maupun sekedar mempertahankan keutuhan dan eksistensi, begitu sangat melegenda di tengah-tengah masyarakat.

Tokoh Damar Wulan, yang berhasil mengalahkan pasukan yang dipimpin Minakjinggo yang berkedudukan di Blambangan, Patih Gajah Mada, yang dikenal sangat taktis, cerdas dan bijaksana, begitu sangat melegenda. Dan sumpah Amukti Palapa oleh Patih Gajah Mada, telah dipakai spirit untuk persatuan bangsa ini. Perang Bubat, yang terjadi antara pasukan Majapahit melawan Kerajaan Sunda, perang Paregreg antara Majapahit Barat dan Majapahit Timur, akrab di telinga masyarakat. Kerajaan yang beribu kota di Trowulan Mojokerto itu, pada akhirnya runtuh pada tahun 1500 M, yang dipicu oleh perang perebutan kekuasaan.

Majapahit dengan berbagai sisi denyut kehidupan sosial, politik, hankam dan keagamaannya masih banyak yang menjadi misteri dan masih perlu digali. Bagaimana dengan denyut Islam di tengah agama Hindu, Budha yang menjadi agama resmi kerajaan Majapahit ? Di pusat pemerintahan kerajaan Majapahit, Trowulan, Mojokerto terdapat komplek makam Troloyo, makam Islam kuno, dan di dalam komplek makam itu terdapat kubur pitu (tujuh makam). Meski saya bukan peneliti sejarah, apalagi arkeolog, dari berbagai penelitian dan hasil seminar para sejarawan yang pernah saya baca, tentang seluk beluk kubur pitu (tujuh makam), membuat saya penasaran dan ingin tahu langsung melihatnya.

Untuk mengobati rasa penasaran terhadap kubur pitu, di sela liburan sayapun memutuskan untuk mengunjunginya. Dengan ditemani dua anak lelaki saya, saya meluncur ke Trowulan Mojokerto, ibukota kerajaan Majapahit. Destinasi kami hanyalah komplek makam Troloyo yang terletak di Dukuh Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Mojokerto. Untuk sampai ke komplek itu, dari rumah saya, di Sidoarjo, Jawa Timur, memakan waktu sekitar satu setengah jam. Sesampai di Trowulan, situs Kolam Segaran, Museum Trowulan, sekedar kami lewati dan tidak kami kunjungi, kami langsung menuju destinasi, komplek makam Troloyo.

Jelang waktu Ashar kami sampai di komplek makam, suasana komplek makam sudah tidak terlalu ramai oleh pengunjung. Saat memasuki komplek makam, kamipun berdo’a dengan teks do’a autentik yang pernah diajarkan Nabi Muhammad SAW, yang berisikan permohonan keselamatan bagi mereka yang telah wafat dan pernyataan dimana kami juga sewaktu-waktu akan menyusul seperti mereka. Sebelum menuju kubur pitu, kami sempatkan masuk ke area makam yang diyakini sebagai Syech Jumadil Kubro, Area Syech Jumadil Kubro ini menjadi sasaran utama penziarah. Sepertinya, beragam motivasi penziarah, dari mulai sekedar ingin tahu, berdo’a untuk sang penyebar agama sampai mereka yang ingin ilmu religi dari para leluhur . Tidak lama di tempat itu, kamipun angkat kaki, dan menemui juru kunci dan saya berucap

“Saya datang ke sini bersama dua anak lelaki saya ini adalah untuk berkunjung, agar anak-anak saya tidak lupa sejarah (a historis), akan sejarah agamanya. Saya melanjutkan berucap dengan bertanya, ” Oh ya Pak, dimana letak kubur pitu?”. “Kubur pitu ada di komplek makam bagian belakang Pak!, Bapak lurus saja ke utara, kemudian bapak belok kanan”, Dengan santunnya ia memberi rambu petunjuk.

Kami tinggalkan area makam Syech Jumadil Kubro, dan kami ikuti petunjuk arah juru kunci, dan sampailah saya di kubur pitu. Suasana sepi, hanya kami bertiga yang ada di area itu. Area makam itu terbuka, tidak ada juru kunci khusus, makam hanya terlindungi bangunan beratap. Kubur pitu sepertinya tidak dianggap masyarakat sebagai makam keramat .Setelah kami masuk ke area makam, kami langsung mendekat, mengamati dan mencoba mencocokkan situs-situs dengan segala identitas yang ada di kubur pitu dengan sejumlah referensi yang pernah saya baca. Sebagian nisan ada yang ditutup dengan kain putih dan sebagian lainnya dibiarkan terbuka. Dengan agak granggam (sedikit grogi karena aroma mistis), saya buka satu persatu kain putih penutup nisan. Oh benar adanya, pada nisan-nisan itu beridentitas seputar tulisan tahun saka, tulisan Arab, dan lambang kerajaan Majapahit. Pahatan tulisan Arab yang bercirikan Islam, ada yang berpahat kutipan Alquran surat Ali Imron, ayat 182, yang tidak utuh dan hadits qudsi. Konon tujuh jasad yang berdiam di kubur pitu tersebut masing-masing adalah Pangeran Noto Suryo, Patih Noto Kusumo, Gajah Permodo, Naya Genggong, Sabdo Palon Emban Kinasih dan Polo Putro.

Para peneliti telah banyak meneliti tentang kubur pitu, dan mereka tidak meragukan keaslian makam dan segala identitasnya. Dari identitas tahun saka yang terpahat di batu nisan berarti makam itu ada sejak pertengahan tahun 1300 – an hingga pertengahan 1400 – an, dimana pada masa itu, terdapat masa keemasan dan kejayaan kerajaan Majapahit yang menjadikan agama resmi kerajaan adalah Hindu dan Budha.

Selesai dengan jejak kubur pitu, jelang magrib, kami tinggalkan komplek makam Troloyo, dan sesampai di rumah sayapun berkontemplasi masa lalu kehidupan keagamaan kerajaan Majapahit pada masanya. Dengan melihat langsung situs kubur pitu dengan segala identitas pahatan tulisannya, sayapun kemudian menjadi lebih yakin dengan anggapan bahwa, di saat Majapahit berada di puncak kejayaannya, di pusat kerajaan sudah ada komunitas muslim, meski dalam jumlah kecil, dan ini berarti denyut dan geliat Islam sudah ada. Belum meluasnya Islam saat itu, peneliti mengaitkan dengan tidak lengkapnya pahatan tulisan Arab Alquran Surat Ali Imron, ayat 18, pada kubur pitu, yang bisa dijadikan pertanda bahwa pengetahuan pemahat tentang Islam sangat terbatas, sesuatu yang nalar, di saat Islam memang belum dikenal luas. Dan sayapun membayangkan betapa tolerannya penguasa Majapahit yang membebaskan rakyat untuk memeluk suatu agama yang tidak sama dengan agama penguasa ketika itu. Subhanallah, Allahlah yang telah menggerakkan hati para penyebar Islam untuk menyampaikan kebenaran-Nya, entah dengan media perdagangan, asimilasi perkawinan ,dan media penyebaran lain, sehingga Islam tersebar ke seluruh penjuru dunia, termasuk di Trowulan, pusat pemerintahan Majapahit.

Usai ke kubur pitu, bukan berarti saya menganggap bahwa telah tiada misteri kehidupan keagamaan Islam di pusat kerajaan Majapahit. Ciri-ciri Islam baru dijumpai pada situs makam dengan segala identitas yang bercirikan Islam dan keberadaan koin yang bertuliskan arab, situs masjidpun belum ditemukan sampai saat ini. Pertanyaan bagaimana gambaran kehidupan keagamaan Islam secara gamblang pada masa itu, masih banyak menjadi misteri yang perlu dipecahkan. Tetapi sebagai penikmat sejarah, saya merasa lebih plong dan terobatilah penasaran saya, akan kubur pitu, sebuah kelezatan yang luar biasa.

Dan yang lebih penting, kami berharap, keberadaan kubur pitu yang bercirikan Islam yang telah kami kunjungi, bisa memperkuat sinyal bagi kami untuk senantiasa ber- Islam, sampai ajal datang.
Wallahu a’lam.

(Sudono Syueb/ed)

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait

Check Also

Close