Jalan Pinggir

Kereta Api: Jejak Makna Kultural Transportasi Publik

Oleh Jusman Syafii Djamal

Teman saya Hariman Siregar sedang mampir di museum kereta api Ambarawa, dari sana ia mengirim Whatsapp (WA) berisi foto ketika saya ikut menyemai lahirnya benih Dirjen PerkerataAPIan dan UU No 23/2007. Ia bilang: “Jusman ini fotomu gagah juga”. Saya hanya tertawa menerima WA itu. WA yang membuat saya kembali membalik balik buku karya Tony Judt yang berjudul Thinking Twentieth Century. Saya teringat Tony Judt, sebab ia menulis tentang datangnya kehidupan modern melalui media sejarah kereta API, dalam salah satu babnya.

Tony Robert Judt, adalah seorang sejarawan Inggris, esais, dan profesor yang mengkhususkan diri dalam sejarah Eropa. Judt pindah ke New York dan menjabat sebagai Erich Maria Remarque Professor di European Studies di New York University, dan Direktur NYU’s Erich Maria Remarque Institute. Dia sering menjadi kontributor New York Review of Books. Pada tahun 1996 Judt terpilih sebagai anggota American Academy of Arts and Sciences dan pada tahun 2007.

Bukan hanya kehidupan modern, yang ia ulas, tapi juga nasib keramahan modern dan kehidupan kolektif di masyarakat yang berjalan bersama kemajuan perkeretaapian di sebuah negara. Ia menemukan jejak korelasi antara kereta API dengan perjalanan sejarah peradaban kolektif suatu bangsa.

Perkeretaapian jejeak kultural transportasi publik
salah satu sudut Museum Kereta Api Ambarawa, kereta zaman dulu (Ist)

Sementara kita disini biasanya lupa akan kekayaan kultural tiap lintasan kereta API dan stasiun yang tersebar menghubungkan kota besar dengan kota kecil di pulau Jawa dan Sumatera. Kita selalu menganggap kereta api sama seperti kita membayangkan bis malam, kapal dan pesawat terbang. Tidak lebih sebagai wahana transportasi belaka.

Kita terlalu berfikir teknis fungsional, sementara Tony Judt menjelaskan jejak kultur dalam setiap pembangunan infrastruktur transportasi. Entah itu Kereta API, Terminal Bis Malam dan Trucking, Jalan Raya, Pelabuhan dan Bandara.

Kereta api, bagaimanapun juga, adalah pencipta keramahan kata Tony Judt.. Kedatangan perkeretaapian memfasilitasi kemunculan apa yang telah kita ketahui, sebagai kehidupan publik. Transportasi umum, stasiun, akses publik, bangunan pensinyalan dan sebagainya.

Gagasan bahwa orang-orang secara sukarela naik turun kereta api di setiap stasiun baik ketika ia mau pergi bekerja maupun belanja serta tingkat kenyamanan yang dinikmati sepanjang perjalanan, itu sendiri sebuah jejak kultur publik dan persahabatan yang tak lapuk dipanas tak lekang kena hujan.

Implikasi pembangunan infrastruktur terhadap kemunculan kelas sosial dan juga untuk tumbuhnya rasa solidaritas senasib sepenanggungan sebagai suatu komunitas melalui kebersamaan waktu tempuh dan jarak yang perjalanan, membuat setiap kehadiran infrastruktur trasportasi mengasah rasa kemanusiaan kita. Begitu kata Tony Judt.

Catatan tentang naik turunnya perekonomian yang didorong oleh bangkit dan tenggelamnya sebuah jalur kereta api di satu wilayah, mungkin merupakan cara yang baik untuk mempelajari kultur Amerika dan Inggris Raya.
Melalui perkerataApian, tiap kebijakan publik menjadi langkah alami menuju estetika kehidupan publik. Kehadiran tata ruang dan perencanaan kota, desain bangunan, penggunaan tata ruang publik dan sejenisnya merupakan karya cipta para arsitektur dan engineer yang ingin membuat kehidupan publik menjadi aman tentram, nyaman terkendali.

Perkeretaapian, stasiun Jakarta Pusat Beos
Stasiun Jakarta Kota, wajah Jakarta masa lalu (ist)

Jika kita mengunjungi Stasiun Kota, Stasiun KA Tanjung Priok, Lawang Sewu, Stasiun Jogja, Stasiun Solo, Medan dan Banda Aceh (yang sudah lenyap) semua jejak kultural itu muncul. Seperti juga ketika Toni Judt berada di Gare de l’Est , Stasiun KA di Paris. Pusat pergerakan transportasi umum yang dibangun pada tahun 1856 .Hingga hari ini masih berfungsi sempurna . Juga menyenangkan untuk dilihat. Ada jejak keindahan arsitektur dan rasa nyaman yang membuat kita tenggelam dimasa kejayaan masa silam.

Ada sesuatu tentang daya tahan kereta api. Infrastrukturnya, penumbra dan kegunaannya, yang mewakili dan menjelma menjadi yang terbaik dari modernitas suatu bangsa. Stasiun yang dibangun pada puncak kepercayaan diri para modernis seperti Stasiun Pancras di London, Centrale di Milan, Hlavní Nádraži di Praha , Gare Mont “parnasse, Penn Station atau Brussels Central menghadirkan kesan mendalam seperti itu. Begitu juga ketika berkunjung ke Satsiun Kereta API di Tokyo, Beijing, dan Moskow atau Berlin. Ada jejak kultural disana yang membuat kita terkesima.

Sementara ketika kita mengunjungi hampir semua bandara, terminal bis, pelabuhan atau pom bensin yang dibangun seratus tahun kemudian, tidak hadir kedekatan kultural dan dalam beberapa hal penampilannya menakutkan? Seolah bangunan itu hadir sebagai “processing zone”. Tempat orang berlalu lalang dengan sebuah tiket dalam genggaman, seperti benda yang digiring dengan “cap asal dan tujuannya”. Tidak hadir perasaan kolektif, yang muncul di tengah “rendezvous” kultural yang hadir disana.

Barangkali kisah tentang infrastruktur yang tidak ditempatkan dalam “fungsi kulturalnya sebagai pemersatu keanekaragaman dan penyejuk suasana batin” yang menyebabkan Toni Judt sebelum wafat dalam usia 60 tahun menulis begini “Ada sesuatu yang sangat salah dengan cara kita hidup di hari ini
Kita terus merasa dan percaya diri membuat pelbagai kebajikan sambil menyeimbangkan diri untuk mengejar kepentingan pribadi secara material. Usaha pengejaran ini merupakan sisa akal sehat dari upaya mencapai tujuan kolektif kita sebagai satu komunitas.

Perkeretaapian tenaga kerja pengisi air
Petugas sedang mengisi air di stasiun Cirebon (th)

Kita sangat mengetahui segala tata hitung ongkos dan untuk rugi tentang segala sesuatu yang kita bangun, kita juga mengetahui mana yang harganya mahal mana yang tidak, akan tetapi kita sulit memahami apakah sesuatu itu memiliki nilai dan berharga bagi kepentingan bersama.

Berjalan jalan di waktu pagi menghirup udara segar di puncak pegunungan tentu amat menyenangkan, begitu juga bersepeda di jalan yang mulus menarik untuk diikuti, menikmati perjalanan bus malam sangat membuat kita puas. Akan tetapi menikmati perjalanan melalui kereta API itu sangat surgawi rasanya. Ada jiwa yang tersentuh disana.
:”Something is profoundly wrong with the way we live today. For thirty years we have made a virtue out of the pursuit of material self-interest: indeed this very pursuit now constitutes whatever remains of our sense of collective purpose. We know what things cost but have no idea what they are worth.”
“Walking was pleasurable, cycling enjoyable, bus journeys was fun. But the train was very heaven.” Begitu kata Tony Judt dalam karyanya Memory Chalet dan Fares the land.

Apa begitu yang saya rasakan ketika melihat kembali foto kiriman teman saya itu? Saya tak tau pasti. Mohon maaf jika keliru. Salam

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya