FeaturedJalan Pinggir

Kenapa Kamu Gampang Marah?

Oleh: Syarifudin Yunus (Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka)

Kamu lagi marah ya? Emang kenapa sih?

Capek atau kelamaan antri. Atau sebab kecewa. Apalagi kesal sama orang lain ya. Tapi marah kamu juga bisa karena stress atau depresi lho. Kadang dalam hidup ini, ada saja masalah yang bikin orang gampang marah. Setuju enggak? Tapi enggak masalah kok marah. Karena itu manusiawi banget. Hanya hati-hati saja, jangan sampai marah tanpa sebab. Maka marah, harus ada sebabnya harus ada alasannya. Lalu, bersabar saja.

Kenapa kamu gampang marah?

Itu hanya pertanyaan sederhana. Boleh dijawab, boleh juga tidak dijawab. Karena benar-salahnya relatif. Hasil riset yang bilang, sebanyak 83 persen orang Indonesia pernah terlihat marah-marah. Bukan marah tapi marah-marah. Dan hebatnya, 63 persen dari mereka mengakui pernah lepas kontrol.

WA enggak dibaca marah. Internet lemot marah. Telepon gak diangkat marah. Dinasehatin sama atasan marah. Antre lama marah. Diomongin orang marah. Selalu ada saja sebab marah dan kemarahan, bukankah begitu?

Entah kenapa? Zaman now itu makin banyak orang jadi gampang marah. Marah-marah, bisa jadi hobi atau hanya ekspresi emosi. Di dunia nyata marah. Di dunia maya marah. Jadi rakyat marah. Jadi pemerintah marah. Mau bikin begini, marah. Mau bikin begitu, marah. Kaum pemarah pun saling bersahut-sahutan. Ramai dalam urusan marah. Kenapa ya?

Banyak orang makin gampang marah. Bawaannya marah-marah.

Tiba-tiba, sifat marah berubah jadi kebiasaan. Kadang pun tidak bisa diredam lagi. Hingga, orang lain pun terkena marah. Orang yang enggak salah dimarahin. Negara diomelin. Lalu lupa, cara mengakhiri kemarahan.

Marah itu kata sifat. Artinya, “sangat tidak senang”, berang atau gusar. Lalu berubah jadi kata kerja jika diulang jadi “marah-marah”, gampang marah atau doyan marah. Kerjanya gemar memarahi, senang marah-marah. Enggak ada alasannya pun marah, apalagi yang jelas ada alasannya.

Orang yang gampang marah. Pasti tidak boleh disanggah.

Pemarah itu tidak boleh dilarang. Karena katanya, marah itu manusiawi. Atau kita dibilang sok tahu, kayak engak pernah marah saja. Iya juga ya. Baca tulisan yang panjang kayak begini, pun bisa marah-marah. Karena capek bacanya. Giliran komen yang pendek-pendek di dunia maya pun marah-marah. Sungguh, kemarahan yang paripurna.

Kenapa kamu gampang marah?

Lagi-lagi, mungkin kamu kecewa. Bisa juga karena kesal atau takut. Bahkan mungkin kamu secara psikologis sedang “sakit”. Marah sih sekali-sekali bolehlah. Apalagi bila topiknya beda-beda. Tapi yang mengerikan itu, selalu marah namun topiknya itu-itu saja. Atau bawaannya pengen marah bila melihat tokoh atau orang yang itu-itu lagi. Maklum, akibat kebencian yang berlebihan. Dongkol banget sama orang yang itu-itu lagi. Marah kok terus-terusan, dari adzan subuh hingga maghrib.

Zaman now itu. Ada orang yang bila sudah marah susah banget redanya. Ada lagi yang cepat marah tapi cepat reda. Ada juga yang lambat marah lambat reda. Tapi kalau boleh milih, mungkin enakan yang “lambat marah tapi cepat reda.” Mungkin tidak seperti itu?

Marah itu memang manusiawi. Tapi sebab marah pula timbul permusuhan. Sebab marah pula ada caci-maki dan kebencian. Bahkan marah, perilakunya selalu ingin melawan atau menghindari. Jadi, apa sih untungnya orang yang gampang marah? Tidak marah saja belum tentu keadan lebih baik. Apalagi marah-marah, lalu siapa yang bikin keadaan lebih baik.

Manusia sering lupa. Orang kuat itu bukan orang yang jago berantem atau bergelut. Tapi orang yang jago mengelola marah, mampu kendalikan amarah.

Kenapa kamu gampang marah?

Menurut sejarah, Nabi Muhammad SAW itu tidak pernah sakit seumur hidupnya. Tahu kenapa? Karena beliau tidak pernah marah. Para ilmuwan pun menemukan. Bahwa orang yang sering marah-marah berumur lebih pendek dibandingksn orang-orang yang jarang marah. Itu berarti, kaum pemarah itu lebih gampang pula sakit bahkan lebih cepat meninggal dunia.

Marah itu boleh. Tapi tak usah terus-menerus. Apalagi yang dimarahi soal yang itu-itu lagi. Dari matahari terbit sampai terbenam, kok masih tetap marah. Lupa ya kata orang tua kita, “cuka itu merusak madu”. Bahwa marah itu bisa merusak amal.

Gimana, sekarang kamu sudah enggak gampang marah kan?

Alhamdulillah kalau begitu. Ketahuilah, orang yang marah itu pun belum tentu lebih baik daripada orang yang dimarahi. Jadi santuy saja ya. Enggak usah marah-marah melulu.

Karena hari ini, bangsa dan lingkungan kita hanya butuh ramah, bukan marah.

#BudayaLiterasi

Selanjutnya

Artikel Terkait