Jalan Pinggir

Jangan Ada Lagi Surau Roboh Pada Revolusi Mental Ini

Oleh: Sudono Syueb

Entah mengapa di tempatku, Lamongan dan mungkin daerah-daerah lain, musholla disebut Langgar, padahal diksi langgar itu artinya tidak menepati kesepakatan, perjanjian, perintah atau larangan.

Nah “Langgar” itu kan tempat untuk memenuhi janji hamba pada Tuhan, untuk melaksanakan perintah Tuhan. Lha kok dinamai Langgar, jan paradoks sekali.

Pernah sautu saat aku tanyakan pada emakku, ketika aku masih madrasah, Emakku geleng-geleng kepala sambil tersenyum dan bilang, “Emak ngertine cuma masak neng pawon thok nak dono”. Emakku betul ga tahu sejarah, lha wong Emak ga pernah sekolah karena Kakek dan Nenek ga punya uang cukup untuk bayar urunan sekolah. Jadi ya maklum Emak ga tahu sejarah munculnya diksi Langgar.

Memang serasa lebih enak disebut Surau dari pada Langgar dan Budayawan A.A. Navis telah berjasa mempopulerkan diksi Surau karena seluruh nusantara ini lewat bukunyanya “Robohnya Surau Kami” secara apik.

Robohnya Surau Kami adalah sebuah kumpulan cerpen sosio-religi karya A.A. Navis. Cerpen ini pertama kali terbit pada tahun 1956, yang menceritakan dialog Tuhan dengan Haji Saleh, seorang warga negara Indonesia yang selama hidupnya hanya beribadah dan beribadah. Cerpen ini dipandang sebagai salah satu karya monumental dalam dunia sastra Indonesia.

Buku Robohnya Surau Kami ini berisi 10 cerpen: Robohnya Surau Kami, Anak Kebanggaan, Nasihat-nasihat, Topi Helm, Datangnya dan Perginya, Pada Pemberontakan Terakhir, Angin dari Gunung, Menanti Kelahiran, Penolong, dan Dari Masa ke Masa.

Di dalam setiap cerpennya di buku ini, A.A. Navis menampilkan wajah Indonesia di zamannya dengan penuh kegetiran. Penuh dengan kata-kata satir dan cemoohan akan kekolotan pemikiran manusia Indonesia saat itu – yang masih relevan pada masa sekarang ini.

Cerpen “Robohnya Surau Kami” bercerita tentang kisah tragis matinya seorang kakek penjaga surau (masjid yang berukuran kecil) di kota kelahiran tokoh utama cerpen itu. Dia – si Kakek, meninggal dengan menggorok lehernya sendiri setelah mendapat cerita dari Ajo Sidi-si Pembual, tentang Haji Soleh yang masuk neraka walaupun pekerjaan sehari-harinya beribadah di Masjid, persis yang dilakukan oleh si Kakek.

Haji Soleh dalam cerita Ajo Sidi adalah orang yang rajin beribadah, semua ibadah dari A sampai Z ia laksanakan semua, dengan tekun. Tapi, saat “hari keputusan”, hari ditentukannya manusia masuk surga atau neraka, Haji Soleh malah dimasukkan ke neraka. Haji Soleh memprotes Tuhan, mungkin dia alpa pikirnya. Tapi, mana mungkin Tuhan alpa, maka dijelaskanlah alasan dia masuk neraka, “kamu tinggal di tanah Indonesia yang maha kaya raya, tapi, engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tetapi kau malas. Kau lebih suka beribadah saja, karena beribadah tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang.

“Merasa tersindir dan tertekan oleh cerita Ajo Sidi, Kakek memutuskan bunuh diri. Dan Ajo Sidi yang mengetahui kematian Kakek hanya berpesan kepada istrinya untuk membelikan kain kafan tujuh lapis untuk Kakek, lalu pergi kerja”.

Tags
Selanjutnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker