FeaturedJalan Pinggir

Ihwal ‘Seminar Kebangsaan’ yang ‘dicekal’ di UGM

Oleh Zaki Arrobi

Setelah mengumpulkan informasi yang berserak dari berbagai pihak dan mempertimbangkan beberapa hal, saya putuskan untuk menulis apa yang saya rasa perlu disampaikan terkait kekisruhan di seputar ‘Seminar Kebangsaan’ di Fakultas Peternakan UGM kemarin. Catatan ini juga sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan teman-teman yang sejak kemarin terus menanyakan seputar pembatalan seminar tersebut. Maklum, nama dan foto saya nampang sebagai salah satu pembicara pada seminar tersebut di luar dua nama yang paling disorot publik: Sudirman Said (SS) dan Ferry Mursyidan Baldan (FMB).

Sebelum sampai pada detil dan kronologi acara, saya ingin tegaskan posisi saya di sini: saya BUKAN bagian dari ‘Tim Sukses’ atau ‘Tim Kampanye Nasional’ dari kedua kubu yang sedang bertarung di perhelatan Pilpres, baik kubu Jokowi maupun kubu Prabowo. ‘Keberadaan’ saya di poster kegiatan tersebut juga tidak mewakili kubu apapun dalam kontestasi politik. Saya bersedia mengisi acara tersebut murni dalam kapasitas sebagai civitas akademika UGM yang dimintai tolong teman-teman mahasiswa karena salah satu pembicara dosen mereka tidak hadir menjelang hari-h kegiatan.

Seminar Kebangsaan dicekal
Poster Seminar Kebangsaan UGM (ist)

Beralih ke kronologi acara tersebut, saya dihubungi pihak panitia penyelenggara dua hari sebelum acara, mereka mengatakan bahwa saya diminta menggantikan seorang dosen UGM yang sejak awal bersedia mengisi acara namun tiba-tiba membatalkan kesediaannya h-2 acara. Respons awal saya menolak undangan itu. Bukan karena mencurigai bahwa acara itu adalah ‘kampanye terselubung’ sebagaimana dituduhkan banyak pihak. Namun, lebih kepada pertimbangan bahwa saya mengukur diri tidak sekaliber dengan dua pembicara lain (SS dan FMB) dari sisi pengalaman dan kepemimpinan publik. Pihak panitia bersikukuh dan mencoba meyakinkan bahwa saya hanya ‘pemain pengganti’ dan diharapkan memberi perspektif mengenai kepemimpinan anak muda di era milenial. Atas penjelasan itu, saya akhirnya menyanggupi dengan syarat bahwa saya hanya akan bicara mengenai kepemimpinan anak muda. Sebagai mantan aktivis mahasiswa, saya pernah merasakan berada di posisi sulit ketika salah seorang pembicara membatalkan kehadirannya di detik-detik akhir. Dan bagi saya menjalankan tugas sebagai ‘ban serep’ menggantikan pembicara di kegiatan mahasiswa adalah sebentuk solidaritas dan dukungan kecil kepada teman-teman aktivis mahasiswa.

Singkat cerita, ketika hari-h saya sudah bersiap untuk mengisi kegiatan tersebut tanpa kecurigaan apapun. Saya tidak mengetahui sebelumnya jika SS dan FMB datang ke Jogja bersama Sandiaga Uno untuk menggelar beberapa acara di sini yang pasti akan terkait dengan agenda pemenangan tim mereka. Selepas Jumatan di Fisipol, saya agak tercengang ketika diberi kabar oleh seorang teman mahasiswa di Fisipol bahwa selepas acara seminar itu akan digelar ‘Deklarasi Dukungan’ bagi Sandiaga Uno. Sontak, saya langsung mengontak panitia mengkonfirmasi kebenaran informasi tersebut. Saya pastikan tidak akan datang jika ada acara deklarasi itu di kampus. Panitia menjawab tidak benar informasi itu. Mereka mengatakan acara deklarasi memang ada tapi di luar kampus dan sama sekali tidak terkait dengan acara mereka.

Seminar Kebangssan dicekal di UGM
Seminar Kebangsaan dicekal di UGM (ist)

Tapi bukan tuduhan politisasi kampus yang panitia risaukan saat itu. Adalah pencabutan izin kegiatan dari kampus minus dua jam sebelum acara dimulai yang membuat mereka kalang kabut. Pihak Dekanat mencabut izin kegiatan dengan alasan seminar tersebut dinilai mengandung unsur politik praktis yang berpotensi mengundang kericuhan. Tidak berhenti disitu saja. Pihak panitia diancam akan di-DO jika tetap melangsungkan kegiatan tersebut. Ancaman itu ada dan nyata, disampaikan secara lisan kepada panitia sampai membuat sebagian dari mereka ketakutan.

Belakangan pihak fakultas membantah adanya ancaman tersebut dan menyebut pembatalan kegiatan ini karena seminar ini tidak diselenggarakan oleh BEM Fakultas Peternakan. Sesuatu yang ganjil karena ada bukti surat izin resmi kegiatan tersebut yang ditandatangani oleh Ketua BEM Fakultas Peternakan sebagai penyelenggara kegiatan dan pihak fakultas sebagai pemberi izin kegiatan jauh hari sebelum hari-h acara.

Kegiatan itu sendiri akhirnya batal diselenggarakan di kampus dan saya mendengar dialihkan di tempat lain di luar kampus. Saya sendiri akhirnya memutuskan untuk tidak datang karena acara dipindah ke luar kampus dan tidak terkejar secara waktu dari kampus.

Sampai di sini, beberapa pertanyaan penting untuk diajukan agar publik lebih jernih melihat persoalan ini: jika alasan pencabutan izin kegiatan ini karena dianggap bernuansa politik praktis –bukan karena alasan penyelenggara kegiatan dari ‘luar UGM’ sebagaimana rillis belakangan– mengapa tidak ‘dicegah’ sejak awal atau lebih bijaknya meminta panitia mengubah susunan pembicara agar lebih berimbang dan diskusi akademik tetap berjalan? Untuk apa pula ancaman akan men-DO panitia kegiatan jika bersikeras menyelenggarakan seminar ini? Bukankah kampus harus menjunjung tinggi kebebasan mimbar akademik dan mahasiswa bebas menggunakan kebebasan itu? Bukan zamannya lagi birokrat kampus main ancam & sanksi seperti di era Orde Baru!

Selain menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, ke depan saya rasa para pemegang otoritas tertinggi di kampus semestinya bisa lebih piawai dan bijak mengelola perbedaan-perbedaan politik yang ada, termasuk dalam soal kebijakan memberi (atau tidak memberi) mimbar akademik kepada semua kekuatan politik yang ada secara adil dan bijaksana agar marwah Gadjah Mada tetap terjaga..

(sumb: FB Zaki Arrobi)

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: