FeaturedJalan Pinggir

Habibie dan Gus Dur, Dua Pilot Saat Indonesia Turbulensi

Oleh : Taufik Lamade

Habibie dan Gus Dur memimpin Indonesia sangat singkat. Habibie hanya 17 bulan, Gus Dur 21 bulan 3 hari.

Keduanya menjadi pilot Indonesia saat negeri dalam kondisi turbulensi. Badai krisis menggoncang bangsa ini. Habibie mewarisi multikrisis dari Orde Baru. Krisis ekonomi, politik dan sosial. Gus Dur juga menghadapi persoalan yang pelik, termasuk semakin kuatnya tuntutan reformasi di tubuh militer.

Kurs dolar yang tembus Rp 16 ribu, adalah mimpi buruk yang menjadi nyata, saat Habibie mulai menduduki kursi Presiden. Harga barang dan suku bunga pun ikut melejit. Dengan jurus menata perbankan termasuk memisahkan BI dengan pemerintah, liarnya dolar dibuat jinak hingga Rp 6.500. Hebatnya, BBM tetap terjangkau oleh rakyat.

Di bidang politik terlalu banyak kenangannya, termasuk memberi ruang kebebasan pers. Tapi yang paling fenomenal, membuka kran demokrasi dengan mengizinkan Parpol Baru. Para tahanan politik juga dibebaskan. Sebuah kutipan yang akan dikenang selama lamanya dari Habibie : “Penjara tempat pelaku kriminal, bukan tempat orang berbeda pendapat.”

Ada lagi keteladanan yang layak ditiru. Mantan Menristek ini memperlihatkan gaya pemimpin yang tak egois. Sebagai Presiden, bisa saja menghidupkan kembali IPTN (sekarang PT DI) yang ditutup di akhir jabatan Soeharto. Tapi dia tetap membiarkan karyanya itu tertidur. Habibie mementingkan menyelesaikan ekonomi semrawut bin amburadul, buktinya mampu mengendalikan dolar.

Bangsa Indonesia juga harus berterimakasih kepada Gus Dur. Presiden ke 4 ini, membuat semua suku bangsa di Indonesia bersaudara. Masyarakat Papua merasa nyaman karena merasa dihargai, termasuk mengganti sebutan Irian Jaya dengan Papua. Begitu pun saudara keturunan Tionghoa bebas mengekspresikan budayanya.

Gus Dur juga melakukan perubahan di tubuh militer. TNI harus kembali ke barak, karena itu peran Dwifungsi pelan-pelan dihapus. Secara perlahan, militer mulai ditarik dari peran politik. Bakostranas yang sering mengawasi aktivitas politik masyarakat pun dibubarkan.

Sebelum menjadi Presiden, Gus Dur dikenal sebagai intelektual. Tulisannya tentang demokrasi, militer dan masyarakat sipil tersebar di berbagai media, termasuk di Prisma, buletin yang populer di kalangan aktivis dan ilmuwan. Karena itu, jangan heran bila mantan Ketum PB NU ini melakukan restrukturisasi militer saat berkuasa.

Jabatan Menhan dan Panglima TNI dipisahkan. Menhan yang fokus urusan kebijakan dan anggaran diberikan ke sipil, sementara tongkat komando Panglima TNI digilir antar matra. Urusan pertahanan dan keamanan masyarakat sipil juga dipisahkan, dengan skema pemisahan TNI dan Polri. Sebelumnya satu atap dalam ABRI.

Kedua presiden ini meninggalkan warisan yang kini menjadi pondasi Indonesia ke depan. Habibie meletakkan pondasi politik dan ekonomi. Gus Dur mewariskan tatanan hubungan militer dan sipil yang sehat, serta menanam akar multikultural.

Jangan dilihat berapa lama mereka berkuasa, tapi lihat sejauh mana berkarya. Keduanya memang memimpin singkat, tapi meninggal warisan yang hebat untuk bangsa ini. Sekaligus jadi pilot handal di saat negara turbulensi. (*)

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up