FeaturedJalan Pinggir

Dengan Pesawat Heli, Kawanan Orangutan Mudik ke Rimba Kalimantan

Oleh: Asep K Nur Zaman (Wartawan Veteran/Pernah Tinggal di Kalteng)

Mudik bukan cuma tradisi manusia yang pulang dari perantauan menuju kampung halaman, terutama di hari raya. Hewan primata semacam orangutan, juga bisa melakukannya. Mereka pun memiliki “rumah besar” dengan “menara-menara tinggi” di habitat yang membuatnya selalu rindu pulang kampung.

Bahkan, di Kalimantan Tengah (Kalteng), ada acara mudik bareng “para individu” mamalia bernama latin pongo pygmaeus itu dengan  menggunakan helikopter milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dalam suatu rombongan yang berlangsung beberapa waktu lalu, misalnya, jumlah yang ikut serta sebanyak delapan individu dewasa.

“Kawanan orangutan itu pulang kampung setelah ‘lulus sekolah’,” kata Agus Wibowo, kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, pada website resmi BNPB, Selasa (15/10).

Program mudik orangutan, menurut Agus, melibatkan tim beranggotakan manusia-manusia tangguh. Tentu saja, karena yang mereka kawal merupakan hewan liar yang dilindungi, bertenaga besar, dan mudah bersikap agresif.

Mereka berangkat dari lokasi karantina dan rehabilitasi Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Nyaru Menteng, Palangkaraya, Kalteng. Di tempat inilah, dalam jangka waktu selama yang dibutuhkan untuk rehabilitasi, para orangutan itu dikarantina.

Selesai Rehabilitasi

Awalnya, mereka dievakuasi ke BOSF dengan banyak alasan. Ada yang karena terusir dari habitatnya akibat pembalakan liar, kebakaran hutan, konflik dengan manusia yang bermukim atau berladang dekat habitat mereka, hingga terluka oleh senjata pemburu liar.

Di antara parang orangutan yang menjalani rehabilitasi juga banyak yang berstatus yatim piatu. Hal ini dibuktikan dengan data usia orangutan yang masuk ke Kawasan Konservasi BOSF Nyaru Menteng, yang rata-rata di bawah 11 tahun.

Padahal, secara alamiah, induk orangutan tidak akan melepaskan anaknya sebelum berusia 11 tahun, yaitu sebelum mereka siap bertahan hidup sendiri di alam liar. “Dengan banyaknya anak-anak orangutan di Nyaru Menteng itu, sekaligus menandakan bahwa para induk mereka telah mati. Penyebabnya, bisa jadi oleh perburuan atau mati karena faktor alam lainnya,” kata Agus.

Mereka yang dibawa mudik beberapa waktu lalu, adalah para primata endemik Kalimantan yang terpilih untuk dilepasliarkan setelah melalui proses karantina dan rehabilitasi yang panjang di Nyaru Menteng dan Pulau Salat. Inilah yang diistilahkan Agus, mereka telah “lulus sekolah”.

Dikandangi dan Dibius

Rombongan mudik kera besar itu diboyong menuju Bandara Kuala Kurun, Kabupaten Gunung Mas, melalui perjalanan darat. Mereka dibagi ke dalam empat kandang besar.

Prtugas mengeluarkan Orangutan dari kandang

Sesampainya di Kuala Kurun, bersama kandangnya, mereka dipindahkan ke lambung sebuah helikopter BNPB jenis MI 8 MTV-1 nomor registrasi UP-MI 852. Lalu, diterbangkan menuju Came Totat Zalu, kawasan hutan lindung seluas 35 ribu hektare di Bukit Batikap, Kecamatan Seribu Riam, Kabupaten Murung Raya.

Suara gemuruh mesin pemutar baling-baling helikopter tak membuat para orangutan itu panik ataupun ketakutan. Bukan karena terlena menikmati perjalanan udara, tetapi tim BOSF telah menyuntikkan obat bius agar mereka tertidur tak sadarkan diri alias pingsan selama dalam penerbangan.

Setelah mengudara selama kurang lebih satu jam, helikopter itu mendarat di tengah Hutan Lindung Bukit Batikap. Kandang-kandang berisi kawanan pongo itu diturunkan dari helikopter. Di kawasan jantung rimba, setelah siuman dari pengaruh obat bius, mereka dikeluarkan dari kandang untuk kembali ke  kampung halaman (habitat asli).

Itulah yang dinamakan pelepasliaran dalam acara “mudik bareng” orangutan. “Prosesnya berjalan sangat sederhana dan cepat, tapa kata-kata perisahan. Dilakukan secara simbolis melalui prosedur yang telah disesuaikan oleh Tim Pilot Helikopter dan Liaison Officer (LO) BNPB bersama Tim BOSF,” kata Agus Widodo.

Bak anak pingit yang dibukakan gerbang rumah, kawanan hewan yang paling mirip manusia itu langsung memanjat menara berupa pohon-pohon hutan perawan yang menjulang tinggi laksana hendak meninju langit. Mereka pun segera menghilang di antara rimbun dan gelapnya belantara rimba, sebagai rumah besar yang sempat mereka tinggalkan.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya
Scroll Up