Jalan Pinggir

Bekraf Nasional Inisiasi Literasi Seni Batik Suminagashi Laweyan

Belajar Teknik Marmer Tekstil Jepang

Kanigoro.com – Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif) Nasional bekerjasama dengan Komunitas Sejarah Laweyan, Solo, kini sedang mempersiapkan agenda khusus, Literasi Seni Batik Laweyan dengan Teknik Marmer Tekstil Jepang. Kegiatan yang direncanakan dilaksanakan pada 8 Agustus 2019 di Hotel Rolin, Solo, ini disambut baik oleh para pembatik tradisional dan modern yang berada di Laweyan khususnya serta kawasan Solo sekitarnya.

Antusiasme ini terlihat dari jumlah peserta yang mendaftar mengikuti acara sudah hampir 100 orang. Kegiatan literasi seni batik tersebut, nantinya akan membahas banyak hal terutama seni tradisional tekstil dari negeri sakura yang sangat unik ini. Beragam teknik dari Shibori, Katazome dan Suminagashi diharapkan bisa menambah kecintaan kita terhadap kekayaan seni tradisi ini.

Seni tekstil yang akan disoroti kali ini adalah seni tekstil Suminagashi, yakni teknik membuat dekorasi (baca: batik) pada kain seperti membuat tekstur marmer. “Tekstur marmer dihasilkan dari tinta khusus (marbling paint). Pertama-tama kita siapkan sebuah bak yang berisi air. Lalu kita celupkan kuas ke dalam warna yang diinginkan. Tinta menyebar dengan lembut pada permukaan air membentuk pola yang tidak sama,” jelas Setiawan, pembina sekaligus penanggungjawab kegiatan dari Komunitas Sejarah Laweyan.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Setiawan, bahwa jika diletakkan lagi tinta warna lain di atas tinta yang dibubuhkan pertama kali, maka warna tersebut akan membentuk lingkaran-lingkaran warna berselang-seling. “Lingkaran-lingkaran itu akan menyebar dengan indah. Kita dapat melakukannya berulang sampai mendapatkan bentuk yang sesuai dengan keinginan,” imbuhnya.

Teknik lain yang dapat digunakan menurut Setiawan adalah dengan menggoreskan bagian tekstur marmer tinta dengan suatu benda. “Tekstur akan membelah dan kembali menyebar. Kain yang ingin diaplikasikan dibentangkan dalam keadaan terbalik dan dengan cepat menyerap bentuk yang sudah ada di air. Kain akan memiliki motif unik,” papar Setiawan saat ditemui di rumahnya, daerah Laweyan, Solo.

Kegiatan literasi batik ini dijelaskan juga oleh Setiawan, merupakan bagian dari kegiatan pengembangan seni batik yang selama ini digeluti warga Laweyan. “Manfaatnya tentu sangat besar, karena proses kreatif seniman batik Laweyan jadi tertantang untuk membuat karya gabungan seni Batik Laweyan dengan seni Suminagashi dari Jepang,” ujarnya.

Setiawan menegaskan dibutuhkannya pembelajaran bagi seniman-seniman Batik Laweyan untuk keberlangsungan industri Batik Solo. “Sehingga pembatik Laweyan bisa survive menghadapi zaman yang serba cepat ini,” pungkasnya.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya
Scroll Up