Jalan Pinggir

Bekerjanya Konsep Takdir dalam Penentuan Juara Piala Dunia Sepakbola 2018

Oleh: Dr. Amam Fakhrur
(Wakil Kepala PA Jakarta Barat dan Alumni Pesantren YTP Kertosono)

Kini insan sepakbola dunia, tertuju kepada sepak bola Piala Dunia 2018, di Rusia, terlebih jelang laga semifinal, yang diikuti oleh tim Inggris, Perancis, Belgia dan Kroasia. Pertandingan-pertandingan sebelumnya, telah menyisakan ragam pertanyaan. Seolah tak percaya mengapa tim juara bertahan, Jerman tampil mlempem, mengapa tim Jepang telah unggul 2:0 atas Belgia, sampai menit ke 70, kemudian skor berbalik menjadi 3:2, mengapa tim tuan rumah Rusia, yang selama pertandingan dikepung oleh tim Spanyol bisa memenangkan pertandingan dengan adu pinalti.Tak hanya itu, seolah tak percaya juga Lionel Messi yang begitu lincah nan jagoan di klubnya, Barcelona, tak berkutik saat dikawal ketat pemain belakang Perancis, sehingga tim Argentina angkat koper sebelum 16 besar. Pemain seperkasa Ronaldopun tak seperti Ronaldo saat membela klubnya Real Madrid, tim Portugispun kemudian redup tiada bersinar. Pertanyaan senada juga akan terjadi setelah laga semifinal dan final nantinya. Segala kemungkinan akan terjadi, hasil pertandingan bisa di luar prediksi. Tak sedikit hasil suatu pertandingan, orang mengaitkan dengan takdir, dimana sih posisi takdir dan bagaimana cara kerjanya takdir dalam suatu pertandingan sepakbola?

Membicarakan bekerjanya takdir dalam suatu pertandingan sepakbola, mengingatkan saya akan aliran-aliran dalam teologi Islam (ilmu tentang ketuhanan). Ada aliran pemikiran yang berpandangan bahwa manusia itu seperti wayang orang yang hanya mengikuti kehendak sang dalang. Manusia tidak mempunyai kehendak apapun di dunia ini. Pandangan ini adalah pandangan kaum Jabbariyah (fatalisme) yang memandang, sesungguhnya segala apa yang terjadi adalah dari Tuhan, manusia tidak berdaya apa-apa, segala yang terjadi adalah skenario-Nya. Bila pandangan ini kita kontekstualulisasikan dalam pertandingan semifinal dan final sepakbola Piala Dunia 2018, menurut paham ini segala apa yang terjadi pada tim, bagaimana skill individu para pemain dan mengenai hasil akhir, menang atau kalah adalah memang sudah menjadi ketentuan dan kehendakNya. Manajer, offisial, pelatih dan pemain hanya menjalankan skenario Tuhan, kalah atau menang adalah ketentuanNya, mereka tak berkuasa apa- apa.

Jadwal Final piala dunia Sepakbola 2018

Pandangan ini bisa dikritisi, dengan mempertanyakan, dimana usaha dan pertanggungjawaban tim telah ditiadakan. Bila Tuhan sejak dahulu sudah menentukan siapa yang memenangkan dan tampil sebagai juara, berarti tak ada gunanya usaha berlatih dan tampil baik. Tim tak perlu dipuja ketika menang dan juara dan tak perlu dievaluasi, ketika tim keok dan menelan kekalahan, bukankah semua itu telah diskenariokan Tuhan?

Selain itu, dalam teologi Islam juga ada pandangan yang mengatakan, segala hasil akhir adalah ditentukan seberapa besar kehendak dan usaha manusia. Tuhan lepas tangan dan tidak mengintervensi terhadap perjalanan hidup manusia. Paham yang menempatkan manusia berotoritas penuh atas perjalanan hidupnya ini dianut kaum qodariyah.

Kontekstualisasi ajaran ini akan menghasilkan pandangan dimana suatu pertandingan sepak bola adalah drama yang dilakoni manusia di dunia, Tuhan tidak cawe-cawe sedikitpun terhadap suatu pertandingan, Ia tidak repot – repot mikirin dan tidak campur tangan, termasuk juga soal hasilnya.

Pandangan semacam ini, untuk konteks pertandingan sepakbola berarti hanya ditentukan oleh kehendak manusia, Tuhan telah disisihkan dan dan kemudian akal dihadirkan sebagai Tuhan.

Adapun Asy’ariyyah adalah paham yang pandangannya merupakan kompromi dari kedua pandangan tersebut di atas, dimana Tuhan telah menetapkan takdir untuk manusia, tetapi manusia masih berkesempatan untuk berusaha untuk mengubah kondisi obyektifnya, tetapi perubahan tetap atas kuasa Tuhan. Ini berarti secara insidentil Tuhan masih campur tangan atas perjalanan hidup manusia. Tim yang akan memenangkan pertandingan di laga semifinal dan lolos ke final dan tim yang akan tampil sebagai juara sejatinya sudah ditentukan Tuhan, akan tetapi masih ada kesempatan tim lain yang tidak ditentukan sebagai juara, bisa berubah menjadi juara atas kehendak-Nya. Agaknya pandangan ini bisa dinilai telah menempatkan cara berpikir berdasar kenyataan pergaulan manusia, akan tetapi masih berdasar norma berpikirnya. fatalisme Tuhan telah menskenario permainan dan hasil suatu pertandingan, tetapi di sisi yang lain, Tuhan dapat mengubah skenario itu, berdasar usaha-usaha yang dilakukan oleh tim.

Kalau kita telisik, sebenarnya takdir adalah ukuran, perhitungan, ketetapan atau keputusan. Sayapun teringat suatu penjelasan tentang takdir yang saya rasa lebih mathuk (merasa cocok) dan lebih nalar. Bila Tuhan telah mentakdirkan sesuatu mahluk, berarti Tuhan telah memberi ukuran tentang sesuatu mahluk tersebut, baik sifat maupun kemampuan maksimalnya. Untuk menjelaskan ini dapat kita contohkan dengan organ tubuh paru-paru, yang berarti Tuhan telah menciptakan paru-paru sekaligus dengan takdirnya, ukuran dan formulanya. Paru-paru suatu ketika akan tidak berfungsi sesuai dengan ukuran yang pasti dari Tuhan. Kalau paru-paru yang mempunyai daya maksimal, kemudian ditusuk dengan benda tajam atau terisi air yang tidak sesuai dengan kapasitasnya, maka paru – paru itu tidak dapat bekerja kemudian mempengaruhi organ jantung dan berakibat manusia tidak dapat bernafas. Berhentinya kerja paru-paru ditentukan oleh Tuhan dengan melekat takdirnya, ukurannya. Allah telah menjelaskan dalam Alquran surat Al-Qomar, ayat 49, dimana Ia telah menciptakan segala sesuatu berikut ukuran-ukurannya. Tuhan telah menciptakan kaki, kepala dan intelijensia Eden Hezard (pemain Belgia), Paul Pogba (pemain Perancis), Ivan Rakitic dan Ashley Young dan segenap pemain lainnya yang sejatinya perangkat-perangkat itu sudah ada ukuran-ukurannya, kemampuan maksimalnya yang disebut dengan takdir dari Tuhan. Adapun kaki tersebut dipergunakan untuk apa di tengah lapangan dan bagaimana menghadapi ketika berhadapan dengan sepak terjang pihak lawan adalah wilayah manusia, bagaimana mereka berusaha dan berkehendak.

Para pemain yang berkemampuan maksimal termasuk ketika beradu dengan kemampuan lawan, dan menghasilkan kondisi obyektif mutu suatu permainan seorang pemain, adalah rumus Tuhan sebagai takdir (ukuran).Takdir pada para pemain berikut dengan kemampuan maksimalnya yang tergabung dalam sebuah tim, akan menciptakan sejauhmana kemampuan bagi sebuah tim.

Adapun siapa yang menang dan lolos ke laga final dan tampil sebagai juara, adalah juga takdir (hasil akhir), sebagai buah usaha tim setelah mengeksplorasi takdir (ukuran) yang dimilikinya. Dalam perlombaan makan kerupuk, beragam kemampuan peserta untuk menyelesaikannya, ada yang mampu memakan 10 kerupuk, ada yang mampu menghabiskan 12 kerupuk atau lebih dari itu. Itulah kemampuan maksimal peserta setelah berlomba dengan segala sesuatu yang mempengaruhinya. Hal ini barangkali analogi sederhana tentang takdir sebagai hasil akhir.

Namun semua yang terjadi dalam pergaulan manusia termasuk pertandingan sepakbola dan segala sesuatu yang melingkupinya adalah atas pengetahuanNya, bahkan di dalam hatipun pasti diketahuiNya. Sebagaimana digambarkan dalam Alquran surat Al-Mujadilah, ayat 7, dimana Allah SWT, mengetahui apa yang ada hari kiamat, apa yang telah manusia kerjakan, karena memang Allah mengetahui segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.

Kita tidak dapat memastikan soal bagaimana para pemain dan tim berlaga dan siapa dari salah satu tim, baik Perancis, Inggris, Belgia atau Kroasia yang akan menerima suatu takdir (hasil akhir) memenangkan suatu pertandingan dan menjadi juara, sebelum ada fakta kejadian di lapangan dan terdapat hasil akhir suatu pertandingan. Ini berarti dalam suatu pertandingan masih akan terjadi kemungkinan dan ketidakpastian siapa yang memenangkan pertandingan dan berhasil menjadi juara Piala Dunia 2018. Pada akhirnya, mentalitas, skill pemain, kolektifitas tim akan mempengaruhi permainan dan siapa yang memenangkan pertandingan.

Memang di pertandingan sepakbola tidak ada yang pasti, yang pasti dalam sepakbola adalah ketidakpastian itu sendiri. Apapun nantinya hasil yang diterima oleh suatu tim, apakah menang atau kalah, juara atau tidak, itulah takdir (hasil akhir) yang harus diterima dan kemudian mencoba di waktu yang lain, menggapai takdir baru yang lebih berprestasi. Wallahu a’lam.

(Sudono Syueb/ed)

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait