Jalan Pinggir

Bau Dollar di Sampah Rumah Tangga

Sampah Rumah tangga di kota besar seperti Jakarta punya dua sisi problem atau berkah. Mengubah problem jadi berkah memerlukan Teknologi.

Rabu sore (13/12) saya kebetulan mewakili Panasonic Gobel untuk menjadi pembicara di Pertamina Energy Forum. Suatu konferensi para ahli energi, business man, NGO dan pemerhati energi setiap tahun. Kali ini berkenaan dengan 60 tahun Pertamina, tema Pertamina Energy Forum difokuskan pada Renewable Energy.

Kebetulan dalam sesi sore hari, sesi penutup yang dipandu oleh Timothy Marbun, penyiar kompas TV yang berusia 30 tahunan saya juga menjadi panelis tertua. Yang lain usianya separo dari saya. Ada Daniel S Purba dari Pertamina, Abishek Dangra dari S&P Global rating dan Dr. Eng Bayu Endrawan.

Bayu jadi bintang di antara kami. Semua audience tertarik dengan paparannya. Dalam session Q and A tak ada yg bertanya ke saya. Jadi bebas tugas.

Bayu ini memang figur menarik. Usia 26 tahun ia sudah memperoleh gelar PhD dari Tokyo Institute Technology. Top rank University di Jepang. Sekolah ternama dan tak mudah mendapatkan gelar Doktor disana.

Bidang keahlian yg dipilih juga tak lazim. Waste Energy. Teknologi pembangkit Energy dengan bahan baku sampah. Semua yang jadi limbah rumah tangga atau limbah industri menurutnya dapat diubah menjadi energi.

Setamat kuliah ia kembali ke Indonesia. Cita citanya satu, menemukan solusi energi terbarukan agar sampah rumah tangga kota Jakarta yang ribuan ton perhari bisa diubah jadi sumber tenaga listrik. Mengubah bau dalam sampah yang tidak bersahabat menjadi dollar dan problem solution untuk kebersihan lingkungan hidup. Proses Recycle dan Reuse untuk mentransformasikan sampah menjadi sumber penerang di rumah-rumah yang terletak di pinggiran.

Hampir 6 tahun ia mengetuk semua pintu investor dan pintu pengambil keputusan, ia berjalan kesana kemari sendirian hampir sia sia. Ketika ia dilanda rasa frustrasi Allah memberikan jalan tak terduga. Ikhtiarnya disambut oleh seorang investor.

Kini ia memiliki pabrik yang mengolah sampah jadi potongan bricket “batu pemantik energi” begitu ia sebut. Seolah ia menemukan “batu berkalori mirip batu bara” hasil proses penguraian sampah dan pembakaran menjadi serpihan bubuk homogen yang dipadatkan. Melalui pabrik ini ia kini berhasil menerapkan ilmu yang diperolehnya di Tokyo Institute Technology yakni Waste Energy. Ia bercerita tentang pengalaman dan suka dukanya dengan riang gembira. Karenanya pemaparannya jadi primadona.

Peserta lebih menyenangi topik yang ia sajikan dibanding topik saya Electric Storage Systems atau batere penyimpan hasil energi cell surya dan juga batere Lithium yang dikembangkan oleh Panasonic bersama Tesla di Gigafactory yang dibangun oleh Elon Musk di Nevada.

Saya jadi ikut terpesona pada kegigihan dan keahlian Bayu dalam bidang Waste Energy. Mengubah bau sampah yang busuk menjadi bau dollar sebagai revenue stream pembangkit energi listrik renewable.

Andaikata anak-anak muda seperti Bayu ini diberi kesempatan berinovasi, saya fikir masalah sampah di kota-kota besar akan mampu kita ubah jadi sumber energi. Bahan bakar fosil bisa dikurangi konsumsinya.

Jusman Syafii Djamal (FB)

Selanjutnya

Artikel Terkait

google.com, pub-7568899835703347, DIRECT, f08c47fec0942fa0