Jalan Pinggir

Antara Pemulung dan Koruptor

Oleh H. Muhammad Syubli. LN (Wakil Ketua PW KB PII SUMSEL)

Pada suatu malam yang saya lupa hari tanggal dan bulannya, tapi yang jelas di tahun 2014 yang lalu. Saya dengan seorang teman (sopir) menjemput Bapak Profesor Haji Jalaluddin, mantan Rektor IAIN Raden Patah Palembang, sekarang masih aktif menjadi Dosen di Pasca Sarjana UIN Raden Patah Palembang.

Kami menjemput beliau untuk minta kesediaannya memberikan ceramah pada suatu hajatan warga, yang semula warga itu tidak yakin bisa menghadirkan beliau, atau beliau mau datang ke rumahnya di kampung kecil, mengingat beliau orang besar dan berderajat tinggi, professor lagi. Begitulah anggapan orang awam.

Begitu juga teman (sopir) disamping saya, mengira beliau akan sulit diajak ngobrol, apa yang akan dibicarakan, takut tidak nyambung.Ternyata dugaan teman saya itu tidak benar atau meleset, karena ketika saya pancing beliau dengan satu pertanyaan, respon beliau enak diajak ngobrol, dan kami ngobrol santai sepanjang jalan.

Perjalanan dari rumah beliau hingga ke lokasi tempat acara kira-kira memakan waktu sekitar 25 menit, tapi di waktu yang cukup singkat itu banyak yang kami obrolkan, termasuklah soal Koruptor. Dan ketika membicarakan koruptor, beliau menghubungkannya dengan para pemulung yang sempat beliau perhatikan tata cara kerjanya.

Menurut beliau, Pemulung hina di mata manusia tapi mungkin lebih mulia di mata Allah. Mereka mengambil barang yang sudah dibuang orang yang sudah tidak berguna lagi, dan berada ditumpukan sampah. Itupun masih mereka pilah-pilih, tidak diambil semua. Mana yang kira-kira masih berguna, rusak, bisa diperbaiki, mereka ambil.Yang sekiranya tidak bisa lagi dipergunakan tidak bisa juga diperbaiki tidak diambil. Kerja merekapun transparan sekali, di alam terbuka bisa dilihat oleh siapapun dan kapanpun.

Mereka tidak mengambil makanan yang sudah basi, kotor dan bau. Mereka lebih baik mendekati rumah makan yang kadang membuang makanan yang masih bagus, dan masih layak untuk dimakan. Begitu kehidupan para pemulung, mereka tidak mau mencuri, apalagi untuk dimakan. Sebab mereka yakin itu akan menjadi darah daging. Menarik sekali apa diberitakan oleh salah satu harian, Selasa (24/3/15): Dahulu pemulung, kini pebisnis ulung. Cerita tentang Rizky, seorang mantan pemulung di Bandung.

Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.(QS.Al Baqoroh, 188)

Berbeda dengan para koruptor, kata beliau, mereka mengambil semua barang dan harta kekayaan negara yang berarti juga harta rakyat Indonesia. Apa yang bisa mereka ambil, disikat saja tak peduli halal atau haram. Mereka pantas juga disebut pencuri, perampok, penggarong. Ada yang merongrong lewat pajak yang tidak dibayarkan, ada yang lewat APBD yang disalah gunakan, ada yang membuat belanja fiktif, perjalanan fiktif, bantuan fiktif dan lain sebagainya yang serba fiktif. Semua untuk keuntungan pribadi.
Kerja mereka selalu tertutup, di ruang tertutup, tidak transparan, sembunyi-sembunyi. Mereka orang-orang itu yang maunya terhormat di mata sesama mereka, ada yang gila hormat dalam pandangan manusia tetapi belum tentu mulia dimata Allah; firman Allah dalam surat Al-Baqoroh ayat 212:

“Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rizki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas”.

Di tahun 2018 ini dari bulan Januari sampai akhir Juli saja sudah puluhan orang ditangkap tangan oleh KPK, setiap bulan pasti ada minimal satu orang, mulai dari Kepala Dinas, Bupati / Walikota, Gubernur dari beberapa daerah seluruh Indonesia, sampai KaLapas “Sukamiskin” (tapi tak mau miskin, karena disuap oleh para koruptor). Untunglah KPU mensyaratkan bacaleg 2019 tanpa bekas (NAPI) Koruptor.

Di ayat lain Allah mengingatkan kita tentang harta: “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sungguh Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS.Al Baqoroh,195)

Dalam satu riwayat dikemukakan bahwa ayat ini (QS.2:195) turun berkenaan dengan hukum nafkah. (HR.Bukhari dari Hudzaifah) Riwayat lain dikemukakan peristiwa sebagai berikut: Ketika Islam telah jaya dan berlimpah pengikutnya, kaum Anshar berbisik kepada sesamanya: “Harta kita telah habis, dan Allah telah menjayakan Islam. Bagaimana sekiranya kita membangun dan memperbaiki ekonomi kembali?”

Maka turunlah ayat di atas (QS.2: 195) sebagai teguran kepada mereka, jangan menjerumuskan diri pada “tahlukah”(meninggalkan kewajiban fisabilillah, berusaha menumpuk-numpuk harta) (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Hibban, al-Hakim dan lainnya, dari Abi Ayub al-Anshari. Menurut Tirmidzi hadits ini shahih).

Dari uraian di atas sangat pantas kita renungkan dan resapi akan kerja dilakukan oleh para pemulung itu. Mereka kerja cari nafkah untuk keluarga dengan cara halal dan baik, meski hina dina dalam pandangan manusia, di tempat yang kotor dan bau. Ada sang suami mencari nafkah untuk isteri dan anak-anaknya. Ada pula anak-anak mencari nafkah untuk ibu bapak mereka. Bila tiba waktunya mereka tidak lupa mengabdi kepada Allah, sholat lima waktu, puasa bulan Ramadhan berinfaq dan shodaqoh juga, maka derajat merekapun tinggi disisi Allah.

“Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya. (QS. Al Baqoroh, 215).

Wallohu alam.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait