Jalan Pinggir

Generasi Milenial dan Daya Kreatif untuk Pengembangan Produk Baru pada Tahun 2030

Oleh Jusman Syafii Djamal

Pada Tahun 2016 ada hasil Riset berjudul: “INDONESIA 2020: The Urban Middle-Class Millennials”, dari Alvara Research Center. Riset ini menarik. Karena dilakukan oleh peneliti Indonesia tentang Indonesia. Tak banyak peneliti di Indonesia yang mau bermain dan lakukan riset secara sistematis untuk mengolah data dan informasi tentang Indonesia.

Jarang kita bertemu prediksi, simulasi dan model ekonomi Indonesia di masa depan yang dilakukan oleh Pusat Kajian atau Think Tank yang terdiri atas ahli Indonesia. Ini merupakan salah satunya.

Menurut ALVARA Indonesia tahun 2020 akan sangat ditentukan pertemuan tiga entitas, yakni kombinasi antara masyarakat urban, kelas menengah, dan milenial.

Merekalah yang akan menjadi pelaku utama sejarah Indonesia di masa mendatang. Kita menyebut mereka sebagai The Urban Middle-Class Millennials.

Alvara Research Center mencoba untuk memprediksi jumlah populasi urban middle-class millennials dengan menggunakan data-data sekunder dari BPS dan BCG.

Proyeksi populasi urban middle-class millennials pada tahun 2020 sebesar 35 juta jiwa atau 13% dari jumlah penduduk Indonesia tahun 2020 yang diproyeksikan sebesar 271 juta jiwa.

Data BPS menunjukkan penduduk Indonesia mulai bergeser dari masyarakat pedesaan (rural) ke masyarakat perkotaan (urban).

Menurut Sensus Penduduk (SP) yang dilakukan BPS tahun 2010 komposisi penduduk Indonesia yang tinggal di kota mencapai 49.8 %.

Di tahun 2020 diproyeksikan jumlah penduduk perkotaan mencapai 56.7% dan di tahun 2035 akan mencapai 66.6 %. Tahun 2015 pengguna internet di Indonesia mencapai 93.4 juta pengguna (47.9 % dari populasi ).

Tahun 2019 diprediksi akan mencapai 133.5 juta pengguna.Tahun 2020 mencapai 140 juta pengguna.

Pada 2016, online shopper 8,7 juta orang dengan nilai transaksi sekitar 67 Trilyun Rupiah .

Pada 2007, ada 13.750 pasar tradisional. Pada 2011 pasar tradisional tinggal 9.950; 3.800 pasar lenyap; tiap tahun 950 shifting?

Dari data tersebut terlihat tren dan arah baru dalam transaksi. Ada pergeseran. Di sini pasar tradisional memerlukan perhatian agar mampu jadi penggerak ekonomi?

Jika dilihat dari sisi jumlah, berdasarkan estimasi Asian Development Bank dengan mengacu pada kriteria bahwa kelas menengah adalah mereka yang memiliki pengeluaran per kapita per hari antara $2 hingga $20, maka pada tahun 2020 hingga 2030 populasi kelas menengah Indonesia hanya kalah dari India dan China.

Boston Consulting Group membagi kelas menengah menjadi 4 kategori yaitu middle, upper middle, affluent dan elite.

Pergeseran middle class dari tahun 2012 ke tahun 2020 lebih banyak pada kategori middle dan upper middle yang semula untuk middle berjumlah 41.6 juta menjadi 68.2 juta dan upper middle dari 23.2 juta menjadi 49.3 juta.

Jika prediksi tersebut menjadi kenyataan maka jumlah kelas menengah Indonesia di tahun 2020 adalah 52%.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia usia 20 tahun hingga 40 tahun di tahun 2020 diduga berjumlah 83 juta jiwa atau 34% dari total penduduk Indonesia yang mencapai 271 juta jiwa.

Proporsi tersebut lebih besar dari proporsi generasi X yang sebesar 53 juta jiwa (20 %) maupun generasi baby boomer yang hanya tinggal 35 juta jiwa (13 %) saja.

Di tahun 2020 generasi millennial berada pada rentang usia 20 tahun hingga 40 tahun. Usia tersebut adalah usia produktif yang akan menjadi tulang punggung perekenomian Indonesia.

Prediksi yang dilakukan BPS menunjukkan di tahun 2020 penduduk kota akan mencapai 56,7% dan tahun 2035 akan mencapai 66,6%.

Prediksi BCG menyebutkan jumlah MAC (Middle-Class and Affluent Consumers) tahun 2020 mencapai 141 juta orang, sementara McKinsey memprediksikan kelas menengah Indonesia tahun 2030 mencapai 130 juta orang.

Jumlah generasi milenial Indonesia tahun 2020 tidak akan berbeda dari jumlah sekarang, bahkan cenderung konstan di angka 35%.

Milenials di tahun 2020 berada pada puncak keemasan kehidupan mereka baik dari sisi kehidupan pribadi maupun kehidupan masyarakatnya.

Generasi milenial adalah generasi yang “melek teknologi”. Hasil riset yang dirilis oleh Pew Research Center menjelaskan keunikan generasi milenial dibanding generasi-generasi sebelumnya.
Yang mencolok dari generasi milenial ini dibanding generasi sebelumnya adalah soal penggunaan teknologi dan budaya pop/musik.

Kehidupan generasi milenial tidak bisa dilepaskan dari teknologi terutama internet, entertainment/ hiburan sudah menjadi kebutuhan pokok bagi generasi ini.

Kegandrungan generasi milenial dengan teknologi sebetulnya merupakan kekuatan tersembunyi bagi para industriawan di Indonesia untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu Pusat Pengembangan Keahlian Engineering dan Design Center di Kawasan Asia.

Penguasaan IPTEK di Bumi Indonesia dapat berjalan jauh lebih cepat, jika potensi generasi milenial yang gandrung pada teknologi ini dapat didayagunakan dengan baik dan tepat sasaran.

Di masa kini dan masa depan arah pembangunan infrastruktur logistik yang selama ini dilaksanakan dengan giat mungkin dapat diubah komposisinya untuk menempatkan pembangunan infrastruktur iptek, berupa kawasan industri, kawasan inovasi, peremajaan dan modernisasi pusat riset di universitas sebagai salah satu ujung tombak. Leading Edge.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up