ArtikelFeatured

Sebuah Tafakkur Filosofis: Qurban sebagai Jalan Menuju Kesempurnaan dan Transformasi Moral

Rangkuman

  • Sang Ilahi melalui hari Raya Qurban ingin mendidik segenap manusia agar apa yang dicintainyai yaitu persoalan keduniaan (kesenangan kesenangan terbatas/sementara) dikorbankan/disembelih agar bisa meraih kebahagiaan hakiki yaitu kedekatan dengan sumber/pemilik kebahagiaan.

Oleh : Ahmad Ali Abdillah (Sang Musafir Kematian)

Kurban (Bahasa Arab: قربن, transliterasi: Qurban),yang berarti dekat atau mendekatkan atau disebut juga Udhhiyah atau Dhahiyyah secara harfiah berarti hewan sembelihan. Dengan demikian subtansi/hakikat/inti (ontologi) dari Qurban adalah kedekatan dengan sang ILAHI. Kemudian secara aksidental (dimensi aksiologi) diwujudkan dalam bentuk hewan sembelihan dengan mekanisme syar’i yang dicontohkan oleh Sang Nabi.

Namun ada sebuah pertanyaan epistemik yang patut di urai yaitu apa hubungan kausal (sebab akibat) antara “mengorbankan hewan sembelihan” secara ilmiah /lahir dengan “Kedekatan kepada Sang” sebagai orientasi filosofis/ makna batin?

Melihat manusia dalam kacamata psikologi islam manusia memiliki hirarki jiwa secara potensial dari jiwa mineral, Jiwa nabati/tumbuhan, jiwa hewani jiwa insani, hingga jiwa ruhani sebagai maqom tertinggi (aktualitas sifat ilahiyah). Aktualitas dari satu maqom jiwa ke maqom jiwa selanjutnya hingga Puncak kesempurnaan sebagai ciptaan (jiwa ruhaniyyah) di tentukan oleh intensitas gerak (kadar amal) setiap manusia.

Hewan sembelihan (Qurban Lahiriah) adalah alat edukasi/tarbiyah pribadi muslim. Bahwa di maqom jiwa hewani harus naik derajat ke derajat insani -ruhani. Manusia di maqom jiwa hewani hanya akan bergerak hanya mengejar fantasi /sensasi indrawi/ kesenangan fisik yang jika berlebihan/ melebih batas / lepas kontrol akan menimbulkan konsumerisme, serakah, hedonisme, individualisme, dan eksploitatif hingga terjebak di kebahagiaan artifisial (kebahagiaan semu).

Tentunya jika terjebak di maqom jiwa hewani dia akan jauh dari maqom jiwa ruhani yaitu kedekatan dengan hakikat eksistensi ( sumber segala kebahagiaan yang bersifat ruhani).

Alhasil, Sang Ilahi melalui hari Raya Qurban ingin mendidik segenap manusia agar apa yang dicintainyai yaitu persoalan keduniaan (kesenangan kesenangan terbatas/sementara) dikorbankan/disembelih agar bisa meraih kebahagiaan hakiki yaitu kedekatan dengan sumber/pemilik kebahagiaan. Dan sejarah mengukir bapak monoteis yaitu Nabi Ibrahim As diuji untuk mengorbankan apa yang amat di damba, ingin dan cintainya yaitu anaknya Nabi Ismail As.

Jika qurban berupa hewan sembelihan masih menggambarkan pribadi muslim di maqom jiwa hewani (menyembelih sifat sifat hewan negatif di dalam diri) dituntut untuk menggunakan harta hasil keringatnya lalu di bagikan kepada sesama (watak sosialis Islam) maka Nabi Ibrahim juga Sang Istri Siti Hajar di minta untuk mengorbankan anaknya (Cinta sesama/ orang terdekat) agar dia naik dari maqom insani (kemanusiaan) menuju maqom jiwa ruhani.

Alhasil Nabi Ibrahim As dan Istri aktual lah/bermanifestasi / wujudlah sifat sifat Alloh pada dirinya( maqom jiwa ruhani) sebagai konsekuensi kedekatan dengan-Nya (Qurban Batin). Itulah mungkin satu faktor sehingga dia bergelar Khalilulloh (Kekasih Ilahi). Karena dia telah menemukan hakikat Cinta yaitu pengorbanan segala sesuatu demi yang di Cinta.

Saudara Saudari sekalian, selamat hari Raya Qurban! Bagi yang memiliki kemampuan berkurban hewan sembelihan semoga juga mampu qurbankan/sembelih sifat sifat hewan yang negatif dalam diri, dan bagi yang belum mampu berkurban hewan sembelihan semoga Alloh swt bantu kurbankan sifat sifat hewani hingga kita semua mampu naik ke maqom insani hingga maqom ruhani yang merupakan Puncak Kebahagiaan.

Dan sejauh ini sang musafir kematian masih berpegang teguh pada keyakinan bahwa hanya dengan mengorbankan/menafikan diri yaitu perjumpaan dengan ” Kematian” (sesuatu yang amat di cintai) sebagai syarat mutlak menuju-Nya .

Tentu selain mempersiapkan diri kita hari ini, esok dan seterusnya kita harus belajar mengorbankan diri dari hal hal kecil dan sederhana yaitu egoisme dalam hidup keseharian baik itu kantor, keluarga ,komunitas, mesjid dan dimana saja kita berada .

Melalui spirit qurban ini semestinya kita mampu meraih kesempurnaan diri secara Individu (kedekatan dengan sumber kebahagiaan) dan juga kesempurnaan diri secara sosial (Eika sosial menuju humanisme transenden) yaitu pribadi yang kita mudah memaafkan dengan sesama, berdamai dalam batas kewajaran, berbagi dan mengutamakan orang lain daripada kepentingan sendiri. (Fn)

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up