FeaturedJalan Pinggir

Persiapan Silaturahim Nasional Lintas Generasi KBPII Yogbes

Sepenggal Kisah Tentang PII dari Habib Chirzin

Kanigoro.com – Persiapan pelaksanaan acara Silaturahim Nasional Lintas Generasi Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KBPII) Yogyakarta Besar terus digeber. Acara yang akan digelar di Stadion SMPIT Ikhsanul Fikri, Pabelan, Magelang pada Ahad, 30 Juni 2019 (26 Syawal 1440 H), pukul 09.00 WIB s.d selesai ditargetkan dihadiri 800 peserta.

Pada Jumat (21/6) lalu, SC yang terdiri dari: Halimi Djazim, Ananta Heri Pramono, Ridwan, Budi Prayitno dan Andi Mudhi’uddin mengunjungi Pabelan, mengecek persiapan acara. Kehadiran SC disambut OC antara lain: Wakil Ketua Panitia Fuad Bawazier, Jamaludin (Pembina Yayasan Ikhsanul Fikri) dan Khanifudin Zuhri (Kepala SMPIT Ikhsanul Fikri).

Dalam kesempatan tersebut Budi Prayitno melatih tim pengisi lagu-lagu PII, yakni Mars PII, Mars PII Wati dan Hymne PII. “Melanjutkan perjuangan lewat lagu-lagu PII mesti diajarkan notasinya terlebih dahulu sebelum menyanyikannya. Sehingga jiwa dan roh dari teks mars atau hymne perjuangan PII akan menyentuh perasaan para pelantun lagu,” jelasnya.

Perjalanan SC dilanjutkan dengan silaturahim ke tempat kediaman Habib Chirzin di Desa Ngrajek, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. Kepada SC, Habib berharap bisa menghadiri silaturahim lintas generasi tersebut.

SC Silaturahim Nasional Lintas Generasi KBPII Yogbes mengunjungi kediaman Habib Chirzin di Desa Ngrajek, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Habib Chirzin berbagi cerita pengalamannya dengan beberapa aktivis PII segenerasinya dan dua pesantren di Jawa Timur yang cukup populer di kalangan aktivis PII. Di masa Presiden Habibie, Habib Chirzin pernah mengantar cendekiawan muslim Mesir, Yusuf Qardhawi menemui Kepala BAKIN (sekarang BIN), ZA Maulani (mantan aktivis PII, generasi pertama peserta AFS). “Menurut ZA Maulani, stabilitas NKRI penting bagi kelangsungan persatuan umat,” ujar Habib mengenang pertemuan tersebut.

Tentang Pesantren Gontor dan Pesantren Ngabar di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Habib juga punya cerita. “Sesungguhnya amaliah santri Kulliyatul Mubalighin Mu’allimin Al Islamiyah (KMI) Gontor era sebelum 1979-an juga berpola pengkaderan Pelajar Islam Indonesia (PII),” jelasnya.

Sementara tetangga Gontor, Pesantren Ngabar, telah berdiri sendiri sebagai salah satu Pengurus Daerah (PD) PII di Jawa Timur. “Era PII sebelum 1967 berjaya di sana,” kenangnya.

Generasi seangkatan Habib antara lain almarhum Hamam Dja’far, Cholil Ridwan. “Ada juga Abdus Salam Panji Gumilang yang oleh sebagian orang dicap NII KW 59. Sebelum 1967 Panji Gumilang sudah keluar dari Gontor,” imbuhnya.

Habib Chirzin membenarkan, bahwa PII, HMI dan GPI (setelah GPII dibubarkan 1963, sekarang sudah dihidupkan kembali – red) merupakan wadah perjuangan anak-anak santri selepas dari Gontor. “Hal ini juga dibenarkan sendiri oleh Pak Sahal (KH Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor yang sekarang – red),” tambahnya.

Setiap generasi tentu punya cerita sendiri. Karena itu, pada ajang silaturahim nasional lintas generasi KBPII Yogbes tentunya akan lebih banyak cerita yang bergulir. Cerita dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi. Menunggu ada yang mau merekonstruksi menjadi cerita yang lebih utuh tentang PII dari generasi ke generasi.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up