FeaturedJalan Pinggir

Kunti: Menepuk Angin 1

Oleh: Choirul Aminuddin (Mantan Jurnalis Tempo)

Malam itu, sekitar pukul 23.00, Sarjan tampak berjaket tebal sembari mendekapkan kedua tangannya di ketiak kiri kanan. Dari kedua lubang hidungnya yang tak terlalu bangir terlihat asap putih saat dia menghembuskan udara. Sesekali Sarjan menggosokkan kedua telapak tangannya yang kepucatan, selanjutnya dimasukkan ke dalam kantong jaket kulit warna coklat yang mulai kusam.

Tak jauh dari Sarjan berdiri, berjarak sekitar lima meter, ada api unggun yang tak jelas siapa pembakarnya. Sarjan mendekat ke arah api unggun yang menyala angkuh dengan langkah tak terlalu bersemangat. Entah apa maksud Sarjan ke arah api itu, apakah untuk menghangatkan tubuh atau sekedar iseng bermain api dengan ranting kering yang rontok di sekitar pepohonan menjulang.

Jika dihitung waktu, Sarjan berada di pojok batu gunung itu sekitar dua jam. Pria yang sehari hari menjadi petani bunga potong di kawasan pegunungan Bukit Deret itu mulai cemas. Dia mengeluarkan sebatang rokok dan korek api dari kantong celana casual warna biru tua.

“Ini benar-benar gila, aku bediri sudah dua jam menunggu. Tapi dia tak terlihat batang hidungnya,” Sarjan menggumam di depan api unggun.

Pergelangan tangan kiri Sarjan yang dililit gelang akar bahar warna hitam didekatkan lagi ke arah jilatan api, sementara tangan kanannya menjepit sebatang rokok kretek tak bermerk tinggal separuh. “Ada apa dengan dia, sejak kapan dia ingkar janji, ataukah lari ke lain hati?”

Sesaat kemudian ada sekelebat bayangan di antara pepohonan trembesi. Jantung Sarjan mulai berdegub keras, jakun di batang lehernya naik turun dengan harapan gadis pujaannya yang terbiasa dia pangggil Kunti itu datang untuk berbagi rasa.

“Kunti, dirimukah itu? Ayooo, janganlah menyelinap, aku sudah lelah menunggumu di sini. Aku tak sabar ingin melihat wajah manismu, Kunti. Kemarilah sayang!”

Suara Sarjan yang sedikit serak menepuk angin. Tak ada jawaban dari gadis itu, kecuali suara nyanyian jangkrik dan kodok bersautan. Burung gagak hitam yang bertengger di atas ranting hanya sekali membelalakkan matanya, setelah itu mendengkur lagi di gelap malam.

Bersambung…

Tags
Selanjutnya