ArtikelFeatured

Ketahuan Pintar Sejak Awal Gabung Jawa Pos

Oleh : Theresia Oemiati (Mantan Sekretaris Redaksi Jawa Pos)

Sejak Pak Abror masuk Jawa Pos pada 1986 di kantor Jalan Kembang Jepun, Surabaya. Saya sudah menangkap kesan bahwa dia adalah sosok yang cerdas. Dari bentuk dahinya, saya melihat Pak Abror adalah lelaki yang pintar.

Ketika itu saya sudah punya feeling, kelak kariernya di Jawa Pos bakal moncer. Sebab, dia memang enerjik. Cekatan. Kemampuan berbahasa Inggrisnya juga bagus.

Prediksi saya pada akhirnya memang tidak salah. Pak Abror kemudian ditugaskan untuk membidangi Biro Yogyakarta. Kelak dari dukungan Biro Yogyakarta inilah nama Jawa Pos kian berkibar. Baik dari sisi keredaksionalan maupun marketing korannya.

Di kalangan akademisi dan cendikiawan top, nama Jawa Pos makin diperhitungkan. Karena banyak memuat opini dan artikel dari pakar di Yogyakarta, khususnya dari Universitas Gajah Mada (UGM).

Staff pemasaran juga makin bergairah menjual korannya, karena masing-masing penulis asal UGM punya penggemar yang berbeda. Dan, itu cukup mempengaruhi oplah Jawa Pos.

Karena saya menjadi sekretaris redaksi, maka saya tahu kalau Pak Abror selaku pemimpin redaksi, berusaha memudahkan urusan administrasi para wartawan dan redakturnya. Dia tidak pernah menolak klaim pengeluaran anak-buahnya. Semua kuitansi dan bukti pengeluaran untuk peliputan ke luar kota dan luar negeri yang diserahkan kepada Pak Abror, pasti disetujuinya.

Saya beranggapan Pak Abror punya talenta yang komplet sebagai pemimpin. Dia paham manajemen perusahaan. Jadi, Pak Abror bukan hanya nyambung jika diajak bicara urusan redaksi saja. Namun, dia juga connect kalau terlibat diskusi berat soal bagaimana meningkatkan kinerja keuangan perusahaan.

Jadi, tidak heran jika bos Jawa Pos, Dahlan Iskan, akhirnya jatuh hati kepada Pak Abror, lantas menjadikannya sebagai Pemimpin Redaksi Jawa Pos.

Apalagi Pak Abror juga luwes dalam bergaul. Istri Pak Abror (saya biasa memanggilnya dengan nama Arik) juga cukup akrab dengan saya. Beberapa kali saya di libatkan secara aktif dalam acara yang digelar keluarganya.

Dari acara keluarga yang saya ikuti tersebut, saya bisa menilai bahwa Pak Abror dan istrinya adalah pasangan yang berbahagia. Ketiga buah-hatinya: Zidny ‘Sydney’ Ilman, Jordan Fahmi (dokter muda Unair), Jericho Fikri (mahasiswa internasonal program Public Policy) juga sangat membanggakan hati Pak Abror. Begitu pula dengan cucu tunggalnya yang kini berusia 8 bulan: Byantara Muhammad Farzan.

Menangisi Ayah

Setahu saya, Pak Abror adalah anak ke-4 dari 7 bersaudara. Ayahnya bernama Djuraid Mahfud, sedangkan ibunya, Hj Mutmainnah. Ayah Pak Abror bekerja sebagai guru. Beliau yang mendirikan SD Muhammadiyah pertama di wilayah Surabaya Barat.

Saya masih ingat ketika menelepon Pak Abror pada suatu hari di tahun 1996. Ketika itu dia ditugaskan Jawa Pos di Sidney untuk mengomandani Biro Australia.

Ketika itu saya menginformasikan kepadanya, bahwa ayahnya meninggal, karena kanker paru. Ternyata Pak Abror sangat terkejut dan terpukul atas kepergian ayahnya. Gagang telepon langsung diberikan ke istrinya. Jadi, saya kemudian terlibat pembicaraan dengan Arik. “Mas Dhimam lagi menangis, Mbak. Jadi, maaf … teleponnya diserahkan ke saya,” ujar Arik di seberang sana.

Arik memang memanggil Pak Abror dengan panggilan sayang ‘Mas Dhimam’.

Saya sangat memahami perasaannya. Belakangan saya tahu, jika dia sangat dekat dengan ayahnya. Pak Abror kagum kepada almarhum karena etos kerja kerasnya. Pada malam hari, almarhum juga membiasakan diri untuk membaca dan menulis. Pak Djuraid Mahfud pernah mendapatkan penghargaan ‘Muhammadiyah Berkemajuan’ dari Prof Dr. H. Amien Rais, dan menjadi anggota Majelis Tarjih Muhammadiyah Surabaya.

Wakili Wartawan

Ketika tahu bahwa Pak Abror menjadi caleg DPR RI Dapil Jatim 1 (Surabaya dan Sidoarjo) nomor urut 2 dari Partai Amanat Nasional (PAN), saya ikut merasa bangga. Saya menilai Pak Abror mewakili kalangan pers di Jatim, khususnya Jawa Pos, untuk pencalegan DPR RI. Dulu Jawa Pos juga memiliki mantan wartawannya, almarhum Djoko Susilo, sebagai anggota DPR RI dari PAN.

Saya sangat yakin Pak Abror mampu menjadi anggota DPR RI, jika memang terpilih dalam Pileg 17 April nanti. Dia sangat kapabel. Pak Abror juga punya semangat yang sangat bagus untuk memajukan Dapilnya.

Saya tahu dia sosok yang punya disiplin tinggi dalam bekerja. Punya integritas yang sangat baik. Mampu berkomunikasi bagus dengan banyak kalangan. Jadi, sangat tepat untuk memilih dia! (Fn)

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya
Scroll Up