FeaturedJalan Pinggir

Keadilan dalam Prespektif Piola Isa

Rangkuman

  • Sosok Piola Isa menjadi tokoh yang memberi pelajaran pada semua penegak hukum di negeri tentang makna keadilan.
Oleh : Nurhadi Taha (Pegiat Literasi)

Piola Isa Lahir di Limboto, Gorontalo pada 11 Oktober 1923. Ia memulai karir di militer tahun 1950 dengan pangkat Letnan Dua. Pada tahun 1952 menjadi Perwira Mahasiswa Akademi Hukum Militer hingga mencapai karir sebagai Hakim Agung di Mahkamah Agung RI.

Sosok Piola Isa menjadi tokoh yang memberi pelajaran pada semua penegak hukum di negeri tentang makna keadilan. Ia adalah satu-satunya Hakim yang semasa hidupnya selalu menjaga nama baik dan reputasinya sebagai hakim yang adil. Tidak memandang siapa yang menjadi orang yang di hadapinya kalaupun ada yang berbuat salah pejabat maupun rakyat jelata. Ia selalu memutuskan perkara dengan cukup adil. Tak ada mafia hukum, juga budaya “Santa Claus ” bagi uang untuk hadiah dalam proses peradilan.

Kisahnya banyak diungkap di beberapa media hingga DR. Muhammad Isman Jusuf, SP.S.,S.KED. mengabadikan Piola Isa dalam bukunya berjudul “6 Tokoh Gorontalo Panutan Umat”, yang diterbitkan oleh UNG Press, Desember 2012. Sebagai tokoh yang patut menjadi panutan bagi para penegak hukum yang ada di negeri ini.

Ia adalah hakim yang selalu menegakkan hukum yang seadil-adilnya. Tak ada istilah hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Bila ada yang melakukan pelangaran hukum pasti menidaknya dengan tegas dan bila ada permainan dalam hukum, ia pun tak segan memberi sanksi bila ada penegak hukum yang salah dalam menegakkan aturan.

Pada era saat ini, kita tak banyak menemukan sosok hakim dan penegak hukum demikian. Kita (masyarakat) merasakan hukum saat ini hanya berlaku bagi mereka yang lemah. Sementara mereka yang kuat (kelompok kekuasaan) tak pernah tersentuh oleh hukum, atau di tindak hingga mereka ke jeruji besi (penjara). Semuanya pasti berakhir dengan istilah 86 dalam istilah kerennya “Diplomasi” dengan beberapa tawaran kekuasaan, uang, tahta dan lakon lainnya.

Selama menjadi Hakim Agung, ia pernah menangani sejumlah masalah kasus penting yang menjadi sorotan media Nasional. Antara lain, kasus korupsi Hakim Johanes Zinto Loudoe pada 1983, kasus pembunuhan Jaksa Gugun Hutapea di balik papan pada 1983, kasus pembunuhan Letnan Kolonel ( Penerbang) Steven Adam pada 1984, dan sejumlah kasus lainnya. Di antara semua kasus tersebut yang paling terkenal dan menghebohkan gorontalo pada masa itu adalah Kasus Malpraktik Dokter.

Kasus ini bermula di awal 1979. Suatu Sore dr. Setyanigrum menerima Pasien Ny. Rusmini (27 tahun) yang menderita radang tenggorokan. Sang Dokter mulai menginjeksi pasiennya dengan streptomicin, ternyata beberapa detik kemudian muntah.

Dokter Setyanigrum tersadar bahwa pasiennya alergi terhadap penisilin. Oleh karena ia segera menyutiknya dengan obat anti alergi. Karena dalam perawatannya, pasien ini tidak tertolong dan wafat. Suami pasien kemudian melaporkan kejadian itu ke polisi.

Pada proses perkara ini Kepolisian Menggunakan Pasal 359 KUHP yang berbicara perihal kematian akibat kelalaian. Hal ini membuat para dokter melaui Ikatan Dokter Indonesia melakukan protes bahwa tidak ada unsur malpraktik dalam kasus itu. Namun usaha ini tak membuahkan hasil dr. Setyanigrum bersalah dan di hukum 3 bulan dengan masa percobaan 10 Bulan.

Hakim Pengadilan Negeri Pati berkesimpulan bahwa dr. Setyaningrum melakukan kealpaan sehingga pasiennya meninggal dunia dengan berbagai alasan dan argumentasi dari para saksi.

Kasus ini akhirnya hingga kasasi. Mahkamah Agung justru membatalkan putusan tersebut. Piola Isa yang menjadi ketua Majelis Hakim Agung yakin bahwa dr. Setyaningrum sudah melaksanakan kewajibannya. Dokter sudah menolong pasiennya itu dengan maksimal. Soal tindakan medis lainnya yang tidak dilakukan ini karena keterbatasan fasilitas.

Bagi Piola Isa, seorang hakim dalam memutuskan perkara tidak cuma mendengarkan keterangan saja, tetapi harus pakai logika. Pada perkara ini Piola Isa mengusulkan adanya undang-undang yang mencangkup masalah kedokteran dan hukumnya.

Harapan Piola Isa tersebut akhirnya terwujud 21 Tahun Kemudian Lahirnya Undang – Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang praktik Kedokteran.

Ada banyak karya monumentalnya di Gorontalo, salah satunya Rumah sakit islam Gorontalo yang diinsiasinya melalui pendirian yayasan yang bergerak di bidang kesehatan, sosial dan pendidikan yang diberi nama “Yayasan Umat Hasanah”. Kini Rumah sakit Islam Gorontalo. Pada 2 Mei 1991 diresmikan oleh Prof BJ Habibie yang waktu itu menjabat sebagai Menristek.

Piola Isa tidak sekedar menjadi seorang hakim yang adil. Ia juga sosok yang Hakim yang peduli akan warganya. Kita saat ini sangat langka menemukan Hakim yang tegas menumpas kejahatan dan mengadili dengan nurani, tanpa emosi, dan angkara murka. Ia adalah sosok teladan bagi kita. Gorontalo bangga memiliki Seorang Putra Lokal yang dibangakan karena karya-karyanya dan nama baiknya. Bukan karena kekuasaan dan hartanya.

Semoga kita dapat mengikuti jejak seorang Piola Isa yang dikenal karena karyanya dan selalu menjaga kehormatan dan nama baiknya. (Fn)

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up