FeaturedJalan Pinggir

Jilbab Ungu

Oleh: Choirul Aminuddin (Mantan Jurnalis Tempo)

Ketika menjejakkan kaki pertama kali di Hungaria pada 2016, keinginan utamaku adalah sholat sunnah dan fardhu di masjid yang dibangun oleh kekaisaran Turki Usmani di negara Eropa Timur.

Keinginan itu rasanya tak berlebihan, meskipun aku punya tugas membawa atlet selam berlatih di sebuah kota kecil Gyongyos. Aku juga merasa animo tersebut tidak menggebu menyusul cerita seorang perempuan Hungaria mengenai negerinya yang pernah dijajah oleh Turki selama lebih dari 400 tahun.

“Turki meninggalkan masjid di sini saat Hungaria dijajah Kaisar Usmani,” ucapnya kepadaku saat kami dalam perjalanan menyusuri Sungai Danube di Budapest dengan bus air, kendaraan yang bisa mengapung di air selain berjalan di darat.

Sayangnya, aku tak menemukan masjid tersebut setidaknya untuk sholat sunnah, meskipun aku sudah mengubek Budapest selama 10 hari. Kecewa? Iya. Aku kecewa, karena keinginan tesebut tak terwujud.

Namun hatiku agak riang ketika menjumpai beberapa perempuan berjilbab di Hungaria. Perempuan itu berasal dari Libanon dan Palestina di dalam Katedral Basilica, sebuah gereja yang dibangun pada abad 17. Sangat kuno, tetapi menawarkan arsitektur aduhai….

Kedua perempuan itu, termasuk aku, berada di dalam gereja bukan untuk mengikuti misa atau peribadatan melainkan ingin melihat keindahan bangunan sebagaimana wisatawan mancanegara lainnya. Menurut warga setempat, katedral tak lagi menjadi tempat ibadah. “Kami menggunakannya sebagai tempat perkawinan atau menjadikannya sebagai situs sejarah.”

Sementara itu, kunjunganku berikutnya ke Hungaria pada 2019 ini dengan misi yang sama yakni membawa atlet selam berlatih. Kali ini, aku sempatkan jalan-jalan muteri Budapest sebagai guide para atlet. Perjalananku mengitari kota juga punya kenginan yang sama seperti tiga tahun lalu yakni mencari masjid peninggalan Turki. Tetapi tak ketemu.

Hatiku agak nelangsa ketika seorang kawan dari Indonesia yang tinggal di Hungaria selama 32 ahun bercerita bahwa seluruh peninggalan Turki hancur di negeri ini. “Seluruhnya diratakan dengan tanah saat Turki kalah perang, menyusul kekalahan umat Islam dalam Perang Salib. Menara masjid yang tinggi dianggap mengganggu,” ucap pria yang baru setahun menjadi mualaf ini.

Aku menyimak cerita dia. Rasa gundaku sepertinya terobati saat berada di Wina, ibu kota Austria, kendati tak menemukan masjid. Namun Allah mempertemukanku dengan kaum perempuan berjilbab. Jika dihitung, aku menemukan lebih dari 25 orang. “Alhamdulillah, di negeri berpaham sosialis komunis masih ada perempuan berjilbab di tengah kota. Mereka bangga dengan identitas muslimnya.”

Salah seorang di antara mereka, perempuan berusia sekitar 40-an tahun yang sedang mendorong kursi roda orang tuanya, kutemui di pelataran plaza. “Assalamualaikum, hallo saya muslim dari Indonesia. Anda tentu muslim kan?”

“Oh ya, saya muslimah dari Turki. Saya tinggal di Austria lebih dari 15 tahun,” ujarnya tersenyum dengan bahasa Inggris yang fasih.

“Alhamdulillah, saya senang bisa bertemu dengan Anda,” balasku.

“Saya juga gembira kita bisa bertemu dengan takdir Allah. Sudah berapa lama Anda tinggal di Austria,” perempuan itu bertanya.

“Oh saya hanya sehari saja di sini, cuma ingin tahu keramaian Kota Wina. Besok pagi (Jumat), saya harus kembali ke Hungaria,” ujarku membalas.

“Oh iya, singat sekali. Jika agak lama, kita bisa jalan-jalan mengitari kota. Tapi, okaylah. Terima kasih kita bisa berkenalan,” tuturnya dengan senyum.

Selanjutnya kami berpisah usai berbicara ringan di antara gedung dan pelataran plaza Austria. Dari jarak 10 meter perempuan berjilbab ungu itu melambai seraya berucap, “Assalamualaikum saudaraku byeee…!” (Fn)

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait

Check Also

Close
Scroll Up