ArtikelFeatured

Inikah Gelombang Keempat Pendobrak Pertahanan Jokowi?

Oleh: Supriyatno Yudi (Praktisi Komunikasi Publik)

Rame ing hadirin, sepi ing survei. Begitulah ungkapan yang menggambarkan kegiatan Prabowo-Sandi. Sebaliknya, Jokowi-Maruf: rame ing survei, sepi ing hadirin. Tampaknya itulah pertahanan terakhir 01: survei. Namun, pertahanan ini sepertinya akan terdobrak oleh gelombang keempat.

Setidaknya ada tiga gelombang yang telah memporak-porandakan pertahanan Jokowi. Kini, sedang berproses, ada riak baru yang akan kembali menjadi gelombang keempat. Apakah gelombang keempat itu, dan bagaimana peran gelombang satu, dua, dan tiga?

Tiga gelombang pertama diyakini menjadi pondasi kemenangan 02. Ketiga gelombang ini dinilai sudah mendobrak pertahanan 01. Kini sedang memberi jalan lahirnya gelombang keempat. Perlahan mari kita uraikan masing-masing gelombang.

Gelombang Pertama

Inilah gelombang dukungan yang paling penting. Kita tahu bahwa pada pilpres 2014, jualan utama Jokowi-JK adalah kedekatan dan kesederhanaan. “Jokowi-JK adalah kita.” Serta gambar Jokowi berbaju, celana, dan sepatu 100 ribuan.

Setelah jadi presiden kedekatan itu tidak dirasakan publik. Rakyat menyadari bahwa kedekatan adalah kebijakan yang memihak mereka. Kedekatan bukan blusukan. Ke sawah, namun beras impor. Ke pantai, tapi garam impor. Dekat di mata, tapi jauh di kebijakan.

Rasa menjadi kata kunci. Publik tak merasakan kehadiran pemerintah dalam setiap denyuk kehidupan. Blusukan hanya melahirkan kekecewaan. Rasa inilah yang setiap hari makin membuncah, menyatu menjadi riak.

Tagar #2019GantiPresiden menyatukan riak-riak itu. Kegiatan ini dimana-mana dihambat dan dipersekusi. Semakin dihambat, semakin menumbuhkan keberanian. Reuni 212 mengubah riak gelombang dukungan. Jumlah massa yang lebih besar ketimbang 212 semakin menggugah keberanian publik.

Sandiaga getol berkeliling menjadi tumpahan rasa yang selama ini membuncah. Ini pun tak luput dari beberapa intimidasi. Justru tak menyurutkan mereka untuk berekspresi. Salam dua jari dimana-mana, termasuk di depan presiden.

Gelombang ekspresi semakin besar dengan Prabowo turut berkeliling menyapa warga. Kerumunan masa yang mengular dan bergelombang menularkan keberanian kepada yang lain untuk tidak takut berekspresi. Pemecatan dan penjara bahkan tak menyurutkan mereka untuk kreatif. Termasuk viralnya gaya dua jari sambil menutup muka atau kepala dengan peralatan dapur.

Bak air, semakin ditekan dan disumbat, maka daya perlawanannya semakin kuat dan muncrat. Benteng pertama kedekatan yang dibangun Jokowi pada 2014 jebol. Kedekatan kini milik Prabowo-Sandi. Solusi perekonomian yang ditawarkan 02 menjadi perekat dengan apa yang dirasakan rakyat.

Gelombang Kedua

Reuni 212 adalah terbukanya kedok media. Betapa media sudah terkooptasi penguasa saat itu. Hingga wartawan senior, Hersubeno Arief, menyebut sebagai bunuh diri masal. Apa pasal? Dengan kacamata teori media apapun harusnya peristiwa reuni 212 layak jadi headline media. Sayangnya, kala itu hanya tvOne yang konsisten menegakkan prinsip jurnalistik.

Namun, kooptasi media itu tampaknya tak berlangsung lama. Gelombang ekspresi rasa publik lah yang mendobrak. Benteng kedua Jokowi berupa kooptasi media ini pun tak berdaya dihadapan selera publik. Rating pemirsa yang menyadarkan media, terutama TV.

Berita atau tayangan mengenai Prabowo selalu berating tinggi, bahkan hingga tembus 20%. Kondisi inilah yang membuka mata media bahwa publik menyukai berita 02. “Kami sekarang sudah bisa memberitakan 02, kata bos asal berimbang saja pemberitaanya,” begitu bocoran awak media.

Meski media memberitakan sesuai kaidah jurnalistik, tapi bagi 02 itu tentu menjadi berkah tersendiri. Betapa tidak, TV yang punya kekuatan menjangkau sampai ke bawah dan pelosok menjadi ujung tombak sosialisasi. Tembok pertahanan Jokowi dengan mengkooptasi media pun jebol.

Media kembali harus menjalankan fungsi jurnalistik dan berkiblat pada selera pemirsa atau pembaca. Meski bos media punya afiliasi politik tertentu, media harus kembali ke khittah. Setidaknya, tidak menutup sama sekali saluran publik untuk pesaing politiknya.

Gelombang Ketiga

Pasangan Prabowo-Sandi berulangkali menyatakan diri sebagai paket hemat. Tak memiliki uang banyak untuk kampanye. Dana menjadi kendala. Walhasil, salah satunya, spanduk 02 jarang terlihat di jalanan.

Aksi penggalangan dana pun dilakukan. Jumat, 7 Desember 2018, komunitas Tionghoa di Jakarta mengadakan pertemuan: http://bit.ly/2OrLsrH . Terkumpul Rp 460 juta untuk tim Prabowo-Sandi. Tidak lama setelah acara itu, pengusaha yang menyumbang mengaku ada yang mengintimidasi. Entah siapa.

Dampaknya, pengusaha yang ingin memberikan dukungan secara terbuka pun diliputi rasa takut. Di tengah tersumbatnya dukungan para pengusaha. Lagi-lagi gerakan rakyat mendobrak dengan caranya sendiri. Sumbangan recehan mengalir dari rakyat.

Tak terhitung. Entah berapakali Sandiaga diberitakan menangis menerima sumbangan para pendukung tatkala berkeling Indonesia. Begitupun dengan Prabowo, ia tak kuasa menahan air mata ketika anak SD secara ikhlas menyerahkan celengannya.

Tak hanya itu. Sumbangan logistik pun bukan hanya berupa uang. Pendukung dan simpatisan dengan gotong royong membuat spanduk rakyat. Bahan yang digunakan seadanya. Dari karung bekas dan cat murahan.

Gelombang logistik rakyat inilah kemudian menggugah para pengusaha yang sudah lama bersimpati. Adalah Erwin Aksa yang kemudian secara terbuka mengumumkan dukungan ke 02.

“Kita tahu banyak yang sungkan dan takut… Kita ingin sampaikan ke Bang Sandi, kawan-kawan kita ini tidak ada yang takut, tidak ada yang ragu. Kita bersatu dan kita melakukan satu persahabatan untuk menggalang kemenangan untuk Indonesia adil dan makmur.” ujar Erwin kala bersama 1.000 pengusaha menyatakan dukungan ke 02.

Dukungan Erwin adalah simbol dari bebasnya belenggu rasa takut. Takut tidak akan dapat proyek. Takut izin usaha dicabut. Dan ketakutan lainnya yang sengaja diciptakan meski tidak masuk akal. Erwin menjadi pendobrak. Ia pun langsung membuktikan: Kampanye terbuka Prabowo di kawasan Indonesia timur membludak.

Gelombang Keempat

Kekuatan rakyat (people power) yang menggerakan aksi massa, netraitas media, dan dukungan pengusaha, apakah cukup untuk mengantarkan kemenangan? Belum tentu. Jokowi masih punya benteng lain yang kokoh: survei. Meski gelombang dukungan mengalir ke 02, ia tetap dinyatakan pemenang oleh lembaga survei.

Di tengah kedigdayaan 01 di beberapa lembaga survei. Litbang Kompas mempublikasikan hasil survei yang berbeda: http://bit.ly/2CEkM2c . Jokowi-Ma’ruf meski masih unggul namun elektabilitas di bawah 50%, yakni sebesar 49,25. Sedangkan Prabowo-Sandi naik menjadi 37,4%. Selisih 11,85%.

Tren elektabilitas Jokowi turun. Prabowo naik. Ini bak petir disiang bolong. Kontan memancing reaksi lembaga survei lain yang selalu menempatkan Jokowi di atas 50% dengan tren stabil bahkan naik. Kompas yang selama ini dikenal mendukung Jokowi, tiba-tiba dituduh migrasi mendukung Prabowo.

Akankah hasil survei Litbang Kompas mampu memantik bahkan mendobrak pertahanan Jokowi bernama hasil survei. Tampaknya tidak akan mudah. Selang lima hari, pada 25 Maret, setidaknya ada tiga lembaga survei yang merilis elektabilitas Jokowi dan Prabowo: Jaringan Suara Indonesia (JSI), Charta Politika, dan Vox Populi. Rata-rata. Selisih elektabilitas keduanya 22,8% dengan kemenangan untuk Jokowi: http://bit.ly/2Ov5D8q.

Hasil survei tiga lembaga itu seolah ingin menutup hasil survei Litbang Kompas. Tembok pertahanan survei Jokowi begitu kuat, meski realitas di lapangan Prabowo Ramai dan Jokowi sepi. Akankah gelombang keempat berupa hasil survei yang objektif meluncur sebelum pemungutan suara? Lagi-lagi people power yang kini dimiliki Prabowo-Sandi yang akan menjawabnya.

Manakah yang lebih tangguh: Elektabilitas publik akan digiring lembaga survei? Ataukan lembaga survei yang akan digulung gelombang dukungan publik? Kalau yang kedua terjadi, maka ini adalah kematian keempat lembaga survei, setelah sebelumnya gagal membaca publik ada pilkada Jakarta, Jabar, dan Jateng.

Pilihannya adalah jujur mempublikasikan suara publik seperti Litbang Kompas, ataukah tetap menjadi tim yang bertugas untuk menggiring suara publik. Jika memilih yang kedua, maka bersiaplah melawan gelombang suara rakyat.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up