FeaturedJalan Pinggir

Buku Impor dan Tips Orang Tua dalam Memilih Buku Bacaan Anak

Oleh: Syarifudin Yunus, Pegiat Literasi dan Pendiri TBM Lentera Pustaka

Belakangan ini banyak event “pesta buku impor” di berbagai kota di Indonesia. Namun pada saat yang sama, muncul keluhan dari kalangan orang tua. Buku impor, katanya mengajarkan LGBT atau nilai karakter tokoh fiktif yang bertentangan dengan budaya Indonesia. Bahkan tidak sedikiti konten buku-buku impor ceritanya tidak sesuai dengan nilai-nilai dalam keluarga. Maka di sini ujian bagi orang tua, mampu atau tidak lebih selektif dalam memilih buku bacaan anak?

Maka penting orang tua untuk tahu literasi dalam memilih buku bacaan anak di tengah gelombang buku impor. Agar orang tua tidak tergoda diskon besar dan konten global dari buku impor yang dipamerkan. Tapi harus selektif dalam memilih buku bacaan untuk anak-anak.

Soal minat baca anak tidak perlu khawatir. Anak-anak Indonesia mulai bangkit minat bacanya seiring makin derasnya arus informasi. Terbukti setiap bazar buku atau pameran buku selalu dipadati pengunjung. Anak dan orang tua rela berdesak-desakan untuk datang dan membeli buku. Jelas sudah ada kesadaran akan pentingnya membaca buku. Karena itu, minat baca anak tidak akan pernah mati.

Hanya saja, untuk menjaga pengaruh buruk dari buku impor. Maka orang tua perlu waspada, perlu hati-hati. Karena tidak semua buku impor cocok dengan kultur dan nilai-nilai yang justru mau dibangun orang tua di dalam keluarag. Untuk itu, berikut tips sederhana bagi orang tua dalam memilih buku bacaan anak.

Pertama, terapkan metode “edutainment” dalam memilih buku. Artinya, jadikan membaca buku sebagai kegiatan yang edukatif dan menyenangkan bagi anak. Maka buku yang dipilih harus sesuai dengan minat anak. Orang tua perlu observasi buku yang cocok untuk anak. Apapun bukunya, orang tua harus bisa mengubah pesan membaca menjadi kegiatan edukatif dan menyenangkan anak.

Kedua, bila orang tua tergolong sibuk akibat bekerja dan terbiasa menitipkan anak kepada pengasuh. Maka buku bacaan yang dipilih adalah buku-buku moralitas agar dapat menanamkan karakter anak. Pilih buku yang pesannya tentang nilai moral atau karakter anak. Bukan buku-buku yang ingin menjadikan anak pintar atau bertambah pengetahuan semata.

Ketiga, maraknya buku-buku berbasis digital seperti e-book. Tidak sepenuhnya baik dan tepat untuk anak. Orang tua harus paham, bahwa e-book bisa mengganggu fokus membaca si anak. Anak malah terkesima pada teknologi bukan isi bacaan. Maka sebaiknya, selagi anak masih usia sekolah sebaiknya membaca buku manual atau konvensional.
Empat, perlunya hati-hati orang tua dengan konten buku impor yang menyajikan tokoh fiktif dan berkarakter tidak cocok untuk kepribadian anak Indonesia. Buku impor tidak selalu baik. Orang tua perlu hati-hati. Karena buku impor biasanya 1) nilai karakter tokohnya tidak cocok, 2) memicu imajinasi anak yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia, dan 3) pesan moralnya sering bertentangan dengan agama dan budaya Indonesia.

Dan kelima, demi pentingnya literasi dalam memilih buku bacaan anak. Orang tua harus terlibat aktif dan mau menemani anak saat membaca buku. Biasakan anak membaca bersuara, bukan membaca dalam hati. Agar orang tua tahu isi buku bacaannya. Bila perlu di rumah, orang tua menjadi ‘story teller’ yang ikut memaknakan isi bacaan kepada anaknya.

Patut diketahui, di era digital, di era revolusi industri sekarang ini. Kelemahan terbesar dalam literasi anak adalah orang tua justru tidak mau lagi menemani anak saat membaca buku. Inilah titik kritis literasi anak. Sehingga buku bisa jadi kontraproduktif dengan harapan orang tua. Dan yang terpenting dalam literasi anak. Adalah kepedulian orang tua terhadap budaya literasi. Jangan anaknya disuruh membaca buku, tapi orang tua malah main gawai.

Suka tidak suka, orang tua harus terlibat aktif dalam membangun tradisi baca anak. Jadikan anak akrab dengan buku bacaan. Karena tanpa baca, masa depan anak bisa merana. Salam literasi anak.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya
Scroll Up