Dunia Islam

Sofyan Djalil: Islam Tidak Homogen

Jakarta, Kanigoro.com – “Sesungguhnya Islam itu tidak homogen tapi heterogen, karena itu muncul beberapa madzhab dalam Islam yang antara lain dipengaruhi kondisi masyarakatnya. Madzhab Hambali dikenal lebih puritan karena berkembang di tengah masyarakat yang relatif homogen. Berbeda dengan madzhab Hanafi yang berkembang di tengah masyarakat yang sangat heterogen, terkesan lebih liberal.” Demikian pendapat Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil ketika menyampaikan ceramah pada Ifthar Jamai (Buka Puasa Bersama) yang dilaksanakan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB PII) di rumah dinasnya, Rabu (7/6) malam.

Sofyan agak prihatin dengan kecenderungan sebagian umat Islam sekarang yang terkesan hendak menampilkan Islam yang homogen. Padahal menurutnya, keberadaan Islam yang heterogen itu telah memberikan kontribusi yang besar dalam civilization (peradaban dunia).

“Ketika ingat firman Allah SWT yang artinya kurang lebih … berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan … saya teringat sejarah Andalusia atau Spanyol,” ujar Sofyan seraya mengutip surat Ali Imran ayat 137.

Sejarah Andalusia, menurut Sofyan mencapai puncak kejayaannya pada abad X s.d XIII. Di masa itu umat Islam sangat toleran, banyak merekrut orang Yahudi dan Nasrani sebagai ilmuwan dan duta besar.

“Masa itu umat Islam Andalusia mencapai puncak kejayaannya, memberikan kontribusi paling banyak dalam civilization dan menjembatani lahirnya renaisans di Eropa. Bukti peninggalan civilization kejayaan Islam adalah Istana Alhambra, sebuah bangunan yang terbukti tahan gempa,” jelas Sofyan.

Kejayaan umat Islam Andalusia menurut Sofyan mampu diraih karena penguasa muslim masa itu mau menerima orang apa adanya dan tidak memaksakan homogenitas masyarakat. Ketika kemudian mulai ada upaya mewujudkan homogenitas, kejayaan itu melemah. Orang-orang Nasrani dan Yahudi banyak yang kemudian berpindah ke Eropa melahirkan renaisans. Masa itu orang Eropa baru mulai mengenali pemikir-pemikir Yunani, padahal di Andalusia justru sudah banyak diterjemahkan karya-karya mereka. Perpindahan orang-orang Nasrani dan Yahudi ke Eropa ikut mendorong diterimanya karya-karya pemikir Yunani tersebut, yang pada gilirannya melahirkan renaisans di Eropa.

Keadaan sebaliknya terjadi di Andalusia, upaya penciptaan homogenitas masyarakat berujung pada berkembangnya tindak kekerasan dan perebutan kekuasaan.

“Kalau mau dibuat periodesasi sederhana, 800 tahun Islam menguasai Andalausia, maka selama 500 tahun, berhasil mewujudkan great civilization. Selanjutnya 200 tahun berikutnya memeunculkan banyak tindak kekerasan akibat pemaksaan homogenitas masyarakat. Dan 100 tahun terakhir, saling berebut kekuasaan. Selama masa 100 tahun terakhir itu, dari 24 orang penguasa, hanya 2 orang yang meninggal normal, 22 orang penguasa lainnya meninggal karena terbunuh,” papar Sofyan sembari mengajak hadirin melakukan kilas balik perjalanan sejarah umat Islam.

Ifthar Jama’i di rumah dinas Menteri ATR Sofyan Djalil merupakan kegiatan kelima kalinya yang dilaksanakan KBPII pada tahun 20017 di bawah kepemimpinan Nasrullah Larada. Sebelumnya berturut-turut telah dilaksanakan di Rumah KBPII (Rabu, 31/5), rumah Prof Ryaas Rasyid (Sabtu, 3/6), YAPI Sunan Giri, Rawamangun (Sabtu, 4/6) dan rumah dinas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy (Selasa, 6/6). Kegiatan selanjutnya akan dilaksanakan di rumah Mayjen (Purn) Muhdi Pr, pada Jumat (9/6).

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya
Scroll Up