Dunia IslamFeatured

Siapa Ulama Sejati Penerus Nabi?

Oleh: Sabrur R Soenardi (alumnus PPWI Petanahan Kebumen & PPs UIN Sunan Kalijaga, eksponen PII wilayah Yogyakarta Besar)

Ulama itu sebutan bagi orang yang memiliki pengetahun, memiliki ilmu. Ulama (‘ulama’)  itu bentuk jamaknya, bentuk singularnya, sedang bentuk tunggal (mufrad)-nya adalah ‘alim. Baik ‘ulama’ atau ‘alim (dengan ‘ain panjang), keduanya sama-sama isim fa’il, yang berarti subyek, orang, pelaku. Allah, Tuhan, sendiri juga disebut sebagai ‘alim (baik dengan ‘ain panjang atau lam panjang), yakni Zat yang Mahatahu. Tuhan, misalnya, disebut memiliki sifat ‘Alim al-Ghaib, artinya bahwa Dia mengetahui hal-hal yang tidak kasat mata, yang tersembunyi di balik realitas lahiriah.

Jika merujuk definisi secara kebahasaan (etimologis), yakni bahwa ulama adalah “orang-orang yang tahu”  atau “orang-orang yang berpengetahuan”, maka ulama itu tidak hanya mencakup orang-orang yang tahu atau paham pada masalah-masalah keagamaan saja (terutama soal akidah, fikih, dan sebagainya). Siapa pun orangnya yang menguasai bidang ilmu tertentu secara mendalam, memahaminya dengan lebih baik ketimbang orang awam, maka ia pantas disebut orang yang alim, layak disebut ulama, dalam bidang yang bersangkutan.

Memang, Nabi Saw pernah berkata bahwa, “Ulama adalah pewaris para nabi”. Sementara, Nabi Muhammad Saw sendiri, misalnya, lebih identik sebagai pusat otoritas dalam pengetahuan-pengetahuan agama (Islam), sebagaimana pengakuan beliau bahwa kita, umatnya, lebih tahu dengan urusan duniawiah kita sendiri ketimbang beliau (Antum a’lamu bi umuri dunyakum). Hadis inilah, mungkin, yang mendasari pengerucutan makna ulama sebatas berkaitan dengan ilmu-ilmu keagamaan. Ketika ulama dikatakan sebagai pewaris para nabi, sementara Nabi Muhammad (nabi terakhir) lebih diidentifikasi sebagai sumber pengetahuan-pengetahuan keagaaman (al-‘ulum al-diniyyah),  maka ulama juga kemudian dimaknai di dalam kerangka demikian.

Meski demikian, sesungguhnya tidak penting membahas soal cakupan ilmu yang dimiliki oleh ulama, karena itu hanya soal definisi. Lebih mendasar dari itu, poin pertama, dalam perspektif Islam, ilmu apa pun yang dimiliki oleh ulama, orientasinya harus semata-mata demi mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam pandangan Islam, ilmu apa pun (baik kegamaan ataupun keduniaan) jika tidak semakin mendekatkan pemiliknya, umatnya, kepada Tuhan, maka ilmu itu sia-sia belaka, tak ada guna. Nabi Saw bersabda, “Siapa yang bertambah ilmunya, tetapi tidak bertambah hidayahnya (dari Allah), maka sesungguhnya ia tidak mendapat apa pun dari Allah kecuali semakin jauh (dari-Nya)” [Man iztada ‘ilman walam yaztad hudan, lam yaztad min Allah illa bu’dan].

Poin kedua, dalam perspektif Islam, ulama atau seseorang yang memiliki pengetahuan sesungguhnya bukan karena usahanya sendiri, tetapi merupakan anugerah dari Allah sebagai Zat pemilik segala pengetahuan. Alquran menyebutnya sebagai, alladzina utu al-‘ilm, “orang-orang yang diberi pengetahuan” (QS Al-Mujadilah: 11). Sehingga, karena pada dasarnya segenap pengetahuan yang dipunyainya hanya atas karunia Allah, maka seyogianya ulama tidak sombong, angkuh, arogan kepada yang awam, apalagi sampai menggunakan ilmunya untuk menipu masyarakat awam. Tentang hal ini (keharusan ulama untuk tawaduk), Maulana Rumi pernah membuat tamsil melalui kisah Qabil yang bingung sehabis membunuh saudaranya, Habil. “Untuk mengubur saja manusia harus belajar kepada burung, apa yang hendak disombongkan?” sindir sufi Anatolia itu.

Poin ketiga, karena pengetahuan hanyalah karunia dari Allah, maka ulama tidak boleh menyembunyikannya; sebaliknya, ia wajib menyampaikannya kepada umat. Ia tidak boleh egois dengan mencukupkan ilmu pengetahuan hanya bagi dirinya saja, sementara umat di sekitarnya tenggelam dalam kejahilan. Ulama harus menjadi pelita bagi masyarakat sekelilingnya, membawa umat kepada hidayah, mengeluarkan mereka dari gelap menuju cahaya. Para nabi dan rasul, dalam sejarahnya, tak pernah menyembunyikan kebenaran; sebaliknya, mereka sampaikan pengetahuan yang mereka terima dari Allah (melalui Jibril) kepada umat dengan apa adanya, tanpa ditambah atau dikurangi, baik manis ataupun pahit. Maka dari itulah,  Nabi Saw sendiri mengecam ulama yang menyembunyikan pengetahuan (kitman al-‘ilm). Dalam sebuah hadis, diriwayatkan Nabi Saw berkata, “Siapa yang ditanya suatu kebenaran tetapi ia menyembunyikannya, maka kelak di hari kiamat, mulutnya akan dikekang dengan kekangan yang terbuat dari api neraka” (HR Al-Baihaqi). Jadi, seorang ulama sejati akan menyampaikan apa yang diketahuinya, yakni kebenaran, tanpa tedheng aling-aling, sepahit apa pun, tanpa takut akan risiko; bukan sebaliknya, ia justru takut menyuarakan kebenaran karena takut dengan penguasa atau kehilangan dunia.

Poin keempat, sebagai waratsah al-anbiya’ (pewaris nabi-nabi), ulama harus meneruskan tradisi profetik yang telah diteladankan oleh para nabi. Dalam sejarahnya, jalan hidup para nabi adalah dakwah anti kemapanan, anti main-stream, atau bisa juga disebut radikal. Sunnah para nabi adalah berdakwah menentang kemapanan yang cenderung korups dan zalim. Kita bisa sebutkan beberapa nabi besar: Ibrahim menentang Namrud yang absolutis dan zalim, Musa menentang Firaun yang arogan dan menindas, Isa menentang pemuka-pemuka agama (Yahudi) yang jorok dan manipulatif, Muhammad menentang kaum elit Quraisy yang eksploitatif dan borjuis. Dalam sejarahnya, nabi-nabi besar tidak ada yang larut dalam kekuasaan, tetapi sebaliknya, mereka bersikap kritis dan bahkan menentang kekuasaan yang menyimpang dan bobrok. Mereka berdiri sebaris dengan orang-orang yang terpinggirkan dan terlemahkan (al-mustadl’afin). Maka, ulama sejati bukan ulama yang menganggukkan kepala kepada penguasa, dekat dengan penguasa, apalagi mengemis-ngemis jabatan dan kekuasaan. Ulama sejati bukan yang justru menjadi “stempel” bagi perilaku dan kecenderungan menyimpang yang dilakukan penguasa. Sebaliknya, ulama sejati pewaris nabi-nabi adalah ulama yang kritis kepada kekuasaan demi membela kepentingan umat. Ulama sejati adalah ulama yang berada di garda depan, memimpin umat, bersikap kritis kepada kekuasaan, bukan malah meninabobokan umat, dengan fatwa-fatwanya, agar umat diam dan menerima saja atas perilaku menyimpang penguasa. Wallahu a’lam.

 

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up