Dunia Islam

Sesudah Dipotong Makin Bercabang, Sebuah Inspirasi Perjuangan dari Buya M Natsir

Oleh Badrut Tamam Haffas

Secarik kertas bertuliskan “Sesudah dipotong makin bercabang” menjadi buah goresan pena yang seringkali diselipkan dari balik dinding tahanan semasa Buya M Natsir menjalani Karantina Politik di Batu Malang pada tahun 1963. “Sesudah dipotong makin bercabang” boleh jadi adalah kalimat sederhana namun hakikatnya mengandung spirit yang luar biasa.

Saya pernah membaca Biografi KH Misbach, secara tidak langsung terungkap betapa besarnya pengaruh kalimat sederhana tersebut.
Pada periode itu para pemimpin umat banyak yang harus mendiami rumah tahanan yang tersebar di Batu, Malang, Ambarawa, atau Wisma Keagungan di Jakarta. Penahanan tersebut ternyata berdampak luar biasa bagi pergerakan karena setiap gerak-gerik dimata-matai sementara rongrongan PKI terasa kian menguatkan cengkeramannya hingga di pusat kekuasaan.

KH Misbach dan generasi pemandu umat seangkatannya memaknai pesan Buya M Natsir tersebut sebagai momentum untuk tampil ke muka. Di tengah umat yang saat itu menjadi sasaran utama agitasi, adu domba dan tindak anarki dari kekuatan merah yang berupaya terus menerus memprovokasi agar umat Islam makin “merasa” terpinggirkan dan “terpancing” untuk bergesekan dengan pemerintah sehingga dengan mudah PKI menjadi pemantik api dan meraih keuntungan politik dari peristiwa ini.

Tausyiah Buya Natsir kepada KH Misbach adalah amanat untuk menghimpunkan kader umat yang cerai-berai dan kesulitan bergerak lantaran terus-menerus dimata-matai oleh Badan Pusat Intelijen (BPI) yang pro PKI, saat itu ada kebuntuan komunikasi antara Pengurus Masyumi dan GPII dari Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jogjakarta.

KH Misbach segera merealisasikan konsolidasi dengan kamuflase pernikahan adik Kiai Chumaidi Jombang dengan seorang pemuda GPII asal Jawa Tengah.

Acara dikemas rapi dan pertemuan keluarga pihak mempelai tidak lain adalah para tokoh Masyumi dan GPII sejumlah sekitar 15 orang dari Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jogjakarta.

Acara inti adalah mendengarkan tausyiah Pak Natsir yang ada di tahanan Batu Malang yang disampaikan oleh KH Misbach antara lain :

~ Melakukan hubungan yang kompak antara kader umat di Jawa Timur dan Jawa Tengah dengan membentuk poros Surabaya – Solo

~ Hubungan yang dilakukan kedua provinsi jangan sampai putus

~ Tegakkan selalu yang menjadi kehendak kita yaitu menegakkan Syariat Islam orang seorang, kepada umat, masyarakat maupun terhadap negara RI.

~ Gunakanlah selalu daya upaya untuk memperkuat silaturrahmi seerat-eratnya

~ Jangan lupa setiap malam sunyi untuk bertaqorrub kepada Allah.

Sementara itu Serangkaian tindakan anarkisme PKI di Jawa Timur bermuara pada penculikan tokoh masyarakat yang sebagian di antaranya adalah kyai/ulama, pengrusakan sejumlah tempat ibadah dan pelecehan Kitab Suci Alquran sebagaimana peristiwa Kanigoro alias Kanigoro Affair.

Saat itu ratusan anggota PII (Pelajar Islam Indonesia) dari seluruh daerah di Jawa Timur yang sedang mengikuti Mental Training di Masjid At Taqwa, usai salat subuh tiba-tiba datang segerombolan orang berpakaian hitam-hitam menyerang, mereka adalah aktivis dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) berpakaian hitam-hitam dengan jumlah ribuan orang langsung menyeruak ke dalam masjid membubarkan acara PII tersebut. Pelajar yang berjumlah 120-an orang itupun hanya lunglai getir tak kuasa melawan. Dengan kaki kotor bekas lumpur sawah mereka menginjak-injak masjid, menjarah barang-barang, mengobrak-abrik dokumen-dokumen penting, dan menyobek-nyobek Alquran.

Shubuh itu pun segera berubah menjadi pagi kelabu. Dengan sangat keji masa komunis menangkap dan mengikat para pemuda PII. KH. Jauhari – ayahanda Gus Maksum Lirboyo yang saat itu ikut serta juga sempat dipukul dan diludahi. Jerit tangis pun menyeruak seketika dari ruang asrama putri. Orang-orang komunis secara beringas melakukan pelecehan seksual terhadap kader-kader perempuan PII.

Dengan tangan terikat antara satu dengan yang lainnya, mereka digelandang ke kantor kecamatan dan kantor polisi, melewati rute panjang area persawahan. Sepanjang perjalanan, mereka dibombardir dengan teror dan caci maki. Dengan suara memekakkan orang-orang komunis itu berteriak: Inilah antek-antek Nekolim. Inilah antek-antek Masyumi. Ayo bunuh saja! Utang kita di Madiun, utang kita di Jombang, bayar saja sekarang. Mari kita tuntaskan dendam luka lama. Kita habisi saja mereka sekarang! Dan Memang para pelajar itu mengalami penyiksaan hebat dan bahkan beberapa diantaranya syahid dalam peristiwa tersebut.

(Petikan Kesaksian Bapak Moh. Ibrahim Rais)

Saat peristiwa itu terjadi, PKI telah menguasai seluruh pelosok Kediri, bahkan pejabat pemerintahan, kepolisian, dan tentara dikuasai oleh orang-orang dari partai pimpinan DN Aidit itu, saat itu PKI sedang giat-giatnya memberangus orang-orang Masyumi. Mereka berkeyakinan bahwa PII sebagai underbouw dari Masyumi

Sesudah dipotong makin bercabang membuktikan jati dirinya, pasca peristiwa Kanigoro itu para pelajar terus bergerak, kader dan simpatisan Masyumi turun serta memback up para pelajar hingga terjadilah demontrasi besar-besaran Januari 1965 di Kediri dengan sebuah tuntutan Lantang “Bubarkan PKI”.

Sesudah dipotong makin bercabang juga bermakna ajakan agar kita berkaca dari rangkaian peristiwa di atas betapa kebangkitan itu adalah harga mati di atas momentum untuk meraih kembali vitalitas umat Islam di tengah kehidupan nyata bermasyarakat, berbangsa dan bernegara…

Wallahua’lam

* Penulis adalah seorang Blogger Independen, tinggal di Lumajang

Sumber Pustaka: Buku 80 Tahun KH. Misbach, Ulama Pejuang Pejuang Ulama. Dari Guru Ngaji, Masyumi sampai MUI, (Penerbit Bina Ilmu Surabaya 1994, Cetakan Ke-1, Disusun Oleh Herry Mohammad dan Akbar Muzakki)

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Check Also

Close
Scroll Up