Dunia Islam

Sekali Lagi tentang Islam Nusantara

Oleh Yusuf Sastraatmaja

Sampai hari ini kegaduhan dari isu munculnya Islam Nusantara, masih menjadi trending topic. Baik yang membela, yang menentang, bahkan yang mencoba netral, masing-masing mengeluarkan argumentasinya.

Narasi yang disampaikan dalam menjelaskan Islam Nusantara yang kita dengar, adalah Islam rahmatan lil ‘alamin, yang mengamalkan sikap toleransi, saling santun dan mengakomodir budaya lokal yang sesuai dengan ajaran Islam.

Konsep Islam Nusantara, sebagaimana narasi di atas, bukanlah hal yang aneh. Apalagi dalam konsepnya, Islam Nusantara disebut ber-aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Itu artinya apa-apa yang diusung oleh Islam Nusantara sama dengan yang difahami dan dilakukan selama ini oleh Nahdatul Ulama (NU), dan gerakan Islam lainnya di Indonesia. Dan yang lebih utama adalah sama dengan Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.,

Melihat hal tersebut, muncul pertanyaan, jika apa yang diusung oleh Islam Nusantara sama dengan apa yang sudah difahami dan dilakukan oleh umat Islam Indonesia, khususnya NU, tidakkah keberadaan Islam Nusantara menjadi tidak perlu?! Kecuali dimunculkannya Islam Nusantara membawa misi tersembunyi (hidden agenda).

Apalagi, ditemukan perbedaan yang diametral, antara narasi yang diklaim sebagai konsep Islam Nusantara dengan penjelasan verbal yang disampaikan oleh para pengusungnya, dalam hal ini KH Aqil Shiraj dana atau Yahya Staquf

KH. Aqil Siraj dan Yahya Staquf dalam beberapa kesempatan, sering membandingkan antara Islam Nusantara dengan Islam Arab. Seolah mereka ingin mengatakan bahwa Islam Nusantara dengan Islam Arab, memiliki perbedaan prinsipil. Bahkan ketika membandingkan Islam Nusantara dengan Islam di Timur Tengah (Arab), menyebut bahwa Islam Nusantara lah yang diklaim sebagai Islam yang sejati. Dititik inilah kita mulai dapat melihat keanehan dimunculkannya Islam Nusantara. Apalagi jika dilihat dari tokoh-tokoh pengusungnya, adalah juga orang-orang yang selama ini mendorong gerakan liberalisasi Islam, atau lebih dikenal dengan Islam Liberal.

Ajaran Islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, menitahkan kepada kita untuk berlaku adil, memberi kasih sayang dan manfaat kepada seluruh manusia, menebarkan kedamaian, menghormati dan boleh menjalankan budaya lokal suatu daerah selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Dengan kata lain, Islam di seluruh dunia adalah Islam rahmatan lil ‘alamin. Dan itu juga berarti tanpa dimunculkan Islam Nusantara, Islam di seluruh dunia, baik di timur maupun barat, adalah Islam yang mengajarkan keadilan, kasih sayang, kedamaian, menghormati dan boleh menjalankan budaya lokal suatu daerah selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam, yakni rahmatan lil ‘alamin

Adapun kekerasan yang terjadi di beberapa komunitas atau negara muslim, terutama di Timur tengah, yang sering dijadikan pembanding dengan Islam Nusantara, seharusnya dibaca secara cerdas. Bahwa konflik yang terjadi di sana adalah bagian dari permainan politik barat yang memiliki tujuan ekonomi dan politik. Sebagian hal besar yang menjadi tujuan barat adalah penguasaan terhadap sumberdaya alam yang sangat besar.

Islam adalah agama yang sesuai dengan sifat dan sikap dasar manusia. Baik manusia di barat maupun di timur. Dan setiap manusia yang menjalankan Islam, dapat dipastikan adalah manusia yang memiliki kasih sayang, mencintai dan menebar kedamaian, bertoleransi kepada agama dan budaya selain Islam. Kalaupun terjadi konflik dan kekerasan di suatu komunitas, dalam hal ini muslim Timur tengah muslim, tidak bisa langsung disimpulkan bahwa Islam yang difahami oleh komunitas muslim berbeda dengan Islam yang kita fahami. Kita harus melihat apa yang melatar belakangi konflik tersebut.

Konflik yang terjadi di Timur tengah hari ini tidak terjadi tiba-tiba. Ada proses yang menjadi latar belakangnya. Dan kalau mau jujur, proses yg pernah terjadi, yang membuat negara-negara Arab (timteng) rusuh seperti hari ini, juga sedang terjadi juga di Indonesia. Mulai dari infiltrasi dalam perubahan undang-undang, ekstensifikasi korupsi, sampai pada politik pecah belah, gerakan liberalisasi Islam, pembenturan antar mazhab, dan sebagainya, membuat bangsa Indonesia sibuk dengan konflik dan abai menjaga kekayaan negara.

Dan akhirnya semua berujung pada penguasaan sumberdaya alam dan kekuasaan (politik) negeri ini oleh kepentingan asing. Inilah yang dikenal sebagai perang asimetris.

Dan hari ini, penguasaan kekayaan indonesia oleh asing sudah sampai pada titik kritis. Bank Dunia mencatat, sebanyak 10 persen orang terkaya Indonesia menguasai 77 persen kekayaan nasional pada tahun 2015. 79 persen dunia minyak dan gas Indonesia dikuasai oleh asing. Kalau mau jujur, sesungguhnya Indonesia tidak lagi menjadi negara berdaulat. Kita telah dikuasai asing.

Dalam sejarahnya, persatuan umat Islam, mampu melindungi bangsa Indonesia dari berbagai penguasaan asing (penjajahan), dan sejarah juga telah memberi pelajaran, bahwa kegaduhan di antara umat Islam akan mengendorkan pertahanan bangsa. Membuat umat Islam sibuk dengan hal-hal sepele, dan berseteru dengan sesamanya, akan membuat asing dengan mudah menguasai. Itulah yang terjadi di Timur tengah

Akhirnya menjadi wajar jika orang melihat, konsep Islam nusantara hanyalah kamuflase dari ide sesungguhnya, yakni gerakan menjauhkan umat dari Islam yang sesungguhnya dan sekaligus merupakan gerakan membenturkan antar umat Islam.

Saran saya, agar kita umat Islam berhenti bergaduh, dan dapat menata persatuan (yang sudah mulai bisa terjalin melalui 212), mari kita mulai fokus pada apa-apa yang bisa mempersatukan umat Islam, dan mengabaikan apa-apa yang dapat merusak persatuan umat Islam.

Hubungannya dengan Islam Nusantara, jika apa yang diusung Islam Nusantara sama dengan apa yang diusung oleh organisasi-organisasi Islam di Indonesia, mari memakai yang sudah ada, dengan kebenaran yang sudah jelas, dan tak perlu memunculkan hal baru yang hanya akan membuat gaduh.

Wallahu a’lam

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya