Dunia Islam

Refleksi Tiga Zaman PII Wati Yogbes

Kanigoro.com – Koordinator Wilayah bersama segenap Keluarga Besar PII Wati Yogyakarta Besar, Ahad (12/8) melaksanakan peringatan Hari Lahir PII Wati ke-54 dengan tema ‘Refleksi Tiga Zaman’ yakni zaman lahir periode 1964-1998, zaman vakum periode 1998-2018 dan zaman bangkit yang baru saja terbentuk pada Mei 2018 lalu.

Momentum kelahiran ini bukan hanya diperingati sebagai ritual tahunan namun juga sebagai wujud rasa syukur yang mendalam atas kembalinya Korps PII Wati di Yogyakarta besar setelah 20 tahun melewati masa vakumnya.

Kebahagian ini dirasakan oleh aktivis Pelajar Islam Indonesia Yogyakarta besar, dukungan dan ucapan terus berdatangan mulai dari PW KB PII, KB PII Wati, Koordinator Pusat Korps PII Wati, Pengurus Wilayah dan seluruh kader PII di Yogyakarta Besar. Hal ini juga disampaikan oleh Kanda Abdul Karim An-Naqib, yang merupakan KB-PII asal Jawa Tengah, beliau adalah pencipta ‘Mars PII Wati’ beliau menyampaikan harapan agar PII Wati di Jogbes mampu menjadi contoh, karena Korps PII Wati itu lahir di Yogyakarta besar ini, dan kader PII Wati harus siap di segala bidang dan di setiap waktu.

“Apa yang terjadi selama 20 Tahun ini tidak akan pernah terulang kembali”, pesan Abdul Karim An-Naqib. Di akhir sambutan beliau menyanyikan lagu ‘Mars PII Wati’ dan ternyata ‘Mars PII Wati’ yang selama ini dinyanyikan kader PII ada lirik yang salah. hal itu juga beliau jelaskan ketika ‘Mars PII Wati’ direkam oleh Pengurus Besar PII.

Selanjutnya, sambutan luar biasa juga disampaikan oleh Ketua Umum Pengurus Wilayah Yogbes periode 2018-2020 oleh M. Azzam Al-Ghazali, dalam sambutannya ia merasakan atmosfir yang berbeda ketika Gedung YKU baru-baru ini ada sentuhan karya PII Wati, harapannya kegiatan Refleksi 3 Zaman ini tidak hanya diperingati sebagai reunian semata tetapi ada output yang diambil yaitu ghiroh dan semangat pejuangannya. Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Umum PW KBPII Jogbes Kanda Moch. Halimi semoga PII Wati Yogbes mampu berperan dan memberikan kontribusi secara sosial dan akademik, menjadikan perjuangan sebagai rangkaian proses menuju masa depan.

Acara ini menghadirkan konsep seperti diskusi panel dengan mempertemukan tiga generasi yang berbeda, dalam perjalanannya Wilayah Yogyakarta besar telah mewariskan sejarah yang beragam. Diskusi ‘Refleksi Tiga Zaman’ ini di pandu oleh Yunda Atika Hanum Falihah selaku Ketua Divisi Pembinaan dan kursus Korwil Yogbes, dengan menghadirkan Dr. Dra. Trias Setiawati, M.Si dan Dr. Sarjilah, M. Pd sebagai perwakilan dari zaman Lahir, Hanum Aryani, S.H dan Arina Rahmatika, S.Sos sebagai perwakilan masa vakum, St. Nur Aulia Suwaibah Putri dan Aisyah Chairil sebagai aktor kebangkitan Korwil PII Wati di Jogbes.

Setiap perempuan memiliki kiprah untuk umatnya, tidaklah cukup kita lahir dan hidup di dunia ini hanya untuk mengurusi kehidupan pribadi saja karena sejatinya kita hidup untuk akhirat, jadilah manusia yang semangat untuk fastabikul khairat, kita adalah umat terbaik yang diciptakan Allah di muka bumi, dan yang terbaik di antara kamu adalah yang bermanfaat bagi manusia.

Fitrah itu sudah jelas tapi dalam kiprahnya kita harus mampu menjadi pelayan bagi umat karena dalam sebuah keluarga tidak akan hanya menemukan permata tetapi kadang kita akan meneteskan air mata, maka PII Wati harus kuat dengan itu. Semoga PII Wati di Yogyakarta besar tetap kokoh dan mampu berperan untuk menjaga ukhuwah islamiyah, itulah semangat yang diwariskan oleh Yunda Trias khususnya kepada Korwil PII Wati hari ini.

Untuk merealisasikan peran dan lahan garap PII Wati, Yunda Sarjilah menyampaiakan bahwa PII Wati dapat bersinergi dengan Pemerintah khususnya dalam bidang Pendidikan dan bekerja sama dengan Ormas lainnya seperti Kohati, Ipmawati dan Nasyi’atul Aisyiyah. Sebagai langkah awal kebangkitan PII Wati Jogbes, kita harus mampu menjadi agen kreatif dalam rangka mengembangkan eksistensi secara eksternal dengan program-program yang kreatif untuk menggait kerjasama dengan berbagai stakeholder.

Dalam situasi yang berbeda, Yunda hanum sebagai salah seorang saksi sejarah divakumkannya korwil PII Wati Jogbes pada tahun 1998. Ia menyampaiakan bahwa sebagai seorang kader PII Wati, kita memiliki kewajiban moral untuk memperjuangkan semakin baiknya organisasi, vakumnya PII Wati di wilayah merupakan sejarah yang memilukan di Yogyakarta Besar. Namun, kita tetap punya kesempatan untuk mempertahankan PII Wati walaupun bukan dalam bentuk struktural Badan Otonom, karena generasi itu dilahirkan walaupun dalam realitanya kita membutuhkan waktu 20 tahun lamanya untuk mengembalikan Korwil PII Wati di Yogyakarta Besar.

Sebagai Pengurus Wilayah tahun 2000-an, yang ikut merasakan atmosfir perjalanan PII tanpa adanya Badan Otonom Korps PII Wati, memberikan dampak psikologi yang cukup kuat bagi PII Wati dalam menghadapi dinamika struktur yang didominasi oleh kader PII Wan. Maka tak heran, banyak Pengurus Wilayah lain dan Pengurus Besar di nasional memberikan komentar bahwa PII Wati yang mampu bertahan di Yogyakarta besar adalah PII Wati yang tangguh.

Sebab, PII Wati yang hadir di Jogbes kebanyakan secara kultural bukanlah asli orang Yogbes. Sehingga survivenya PII Wati benar-benar diuji dalam struktural PW Jogbes tanpa adanya Korwil. Diakhir paparannya, Yunda Arina menutup dengan sangat manis melalui pembacaan puisinya;

Padamu PII Wati
PII Wati
Sebuah kata tanpa makna
Yang tak bias dilukiskan dengan kata-kata
Namun terpatri dalam jiwa

Ia melodi indah penerang PII
Ia alunan langkah kecil namun pasti
Ia bersemi dalam lingkaran suci
Hingga suatu waktu
Ia meredup…
Seiring awan yang menutup
Menyiratkan awan gelap tak bernyawa

Namun kini,,,
Tersenyumanlah
Awan itu telah pergi, bersma tiupan angin
Cahayamu… kini bersinar terang
Seterang aura wajahmu, yang siap menerangi kembali PII

Sejalan dengan apa yang disampaikan oleh yunda Arina, ternyata hal ini berdampak pada beberapa daerah yang ketua umumnya diketuai oleh PII Wati diantaranya Atika Hanum Falihah sebagai ketua PD Kota Yogyakarta, Bemy Oktavia sebagai Ketua Umum PD Bantul dan Adelina sebagai Ketua PD Sleman.

Yunda Lia yang merupakan Pengurus Wilayah periode 2016-2018 sekaligus sebagai salah satu penggagas terbentuknya kembali Korwil PII Wati Jogbes melakukan rekonsiliasi bersama Tim Steering Committee Konferensi Wilayah-26 Yogyakarta besar yang dilaksanakan di Kabupaten Purworejo, mereka adalah Eka Roviani selaku Ketua SC, Ana Lukman Hudin selaku Sekretaris, Alfy inayati, Aisyah Chairil, Rizki Aulia Muslim dan Sigit sebagai Anggota.

Melakukan langkah kongkrit, SC merumuskan draf Muswil ke 17 dalam Konwil ke-26 Yogyakrta besar. Sehingga pada hari Sabtu, 12 Mei 2018 bertepatan dengan 27 Sya’ban 1439 H pukul 03.30 WIB terpilihlah yunda Aisyah Chairil sebagai Ketua Formatur Korps PII Wati Jogbes periode 2018-2020.

Terakhir Yunda Aisyah Chairil selaku Ketua Korwil PII Wati Jogbes menyampaikan bahwa misi terdekat Korwil adalah pembentukan Korda di Pengurus Daerah, dalam waktu terdekat ini ada tiga Pengurus Daerah yang memungkinkan dibentuknya Korda PII Wati sehingga menjadi sebuah harapan agar antara Pengurus Daerah yang datang di refleksi ini dapat bersinergi dengan KB PII Wati yang ada di setiap Cabang.

Selain itu, Upaya meningkatkan eksistensi PII Wati dilakukan dengan kerjasama dengan organisasi perempuan setingkat dan bersinergi dengan Pemerintah Provinsi. Sehingga PII Wati mampu berjalan mengikuti perkembangan zaman. Kekuatan yang dimiliki saat ini adalah Dukungan dari Keluarga Besar PII Wati baik dalam bentuk pengetahuan dan pengalaman ataupun bentuk logistik dan anggaran. Syukur yang tak terhingga atas kebersamaan Keluarga Besar PII Wati dalam mendukung Kegiatan Korwil PII Yogyakarta besar.

Semoga Harlah PII Wati kedepannya dapat diperingati sebagai Hari Bangkit PII Wati Jogbes, yang senantiasa berjuang walau seorang. ‘Tanggang ke gelanggang walau seorang’ semoga kedepannya dapat diupayakan menjadi ‘tanggang ke gelanggang bareng-bareng’.

Laporan ; Aisyah Chairil dan Nur Aulia Suwaibah Putri ; Korwil PII Wati Yogbes.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait