Dunia IslamFeatured

Refleksi Hari Sumpah Pemuda: PII Wati Yogyakarta Adakan Diskusi Post Truth

Kanigoro.com – Dalam rangka memperingati hari sumpah pemuda, Badan Otonom (BO) Korps PII Wati Yogyakarta Besar mengadakan diskusi seputar Post Truth. Diskusi yang diadakan pada Ahad (27/10) menghadirkan pakar Psikologi Universitas Islam Indonesia, Dr. Phil Emi Zulaifah, M.Sc.

Pada kesempatan ini, BO Korps PII Wati Yogyakarta Besar juga mengundang perwakilan organisasi perempuan di Yogyakarta bersama membangun silaturrahim antar aktifis Muslimah di DIY.

Sebuah momentum dalam menjawab kegelisahan muslimah hari ini, PII Wati juga merasakan dilema dan kegelisahan dalam merespon informasi dan berita yang masif di media. Steve tesich, pengguna pertama istilah Post Truth pada tahun 1992, merupakan seorang penulis keturunan Serbia-Amerika yang hidup di masa pemerintahan dimana masyarakatnya menerima berita-berita buruk dan mengabaikan berita dan data yang sifatnya objektif. Dan dalam prediksinya Post Truth merupakan International word of year, karena akan bersinggungan dengan intensitas politik, terutama pasca 2016 Indonesia menjadi bagian negara yang mengalami situasi tersebut.

“Hari ini kita berada pada Fenomena buih. Gelombang besar yang di atasnya ada buih yang dengan mudahnya tersapu air. Sistem pendidikan yang seharusnya menjadi dasar kekuatan hari ini juga terlihat seperti buih. Sesuatu yang kuat tidak akan terbentuk dengan instan, karena peradaban kuat dan mulia itu dibentuk dengan istiqomah, istiqomah yang tidak hanya sebatas pada konsisten, namun juga membangun eksistensi, bersungguh-sungguh dalam bertindak, berkolaborasi membangun kekuatan dengan sesama.” kata Aisyah, ketua BO Korps PII Wati Yogyakarta Besar.

Post Truth menjadi sebuah nestapa yang tidak mampu untuk dibendung dan memang menjadi isu kita bersama karena ada pertarungan wacana. Post truth secara sederhana dapat diartikan sebagai sebuah situasi dimana adanya manipulasi atas kebenaran atau dapat dipahami seni dalam berbohong. Sehingga informasi yang dibuat tidak lagi berdasarkan objektifitas. Konteksnya adalah ketika ada data bagus, tapi tidak dapat digunakan untuk mempengaruhi orang lain dikarenakan adanya kebohongan atau manipulasi dalam membingkai informasi. Hal ini bisa berupa penjajahan opini (menjamurnya Hoax), pengalihan isu, penggiringan opini, akibatnya objektivitas dan kebenaran yang sesungguhnya ditinggalkan, karena keputusan dan kebijakan yang dihasilkan lebih cenderung diambil alih oleh emosi yang menjurus pada kebenaran subjektivitas, berdasarkan atas suka tidak suka sehingga kebenaran bukan berangkat dari evidence, data dan objektivitas.

Aisyah menambahkan, “Kita patut berhati-hati, karena perdebatan di fenomena buih Indonesia bisa jadi ada yang untung. Nanum muslim tersibukkan dan juga terjebak dengan fenomena buih, jadi terlupa atau tidak sempat dengan sesuatu yang sifatnya konkrit yang seharusnya turun langsung ke lapangan dengan mengkomunikasikan pemikiran real isu untuk menandingi informasi yang beredar atau dengan melakukan apa yang bisa kita lakukan, jangan sampai kita menari di gendangan yang salah.”

Ada tiga hal penting yang disampaikan oleh Emi Zulaifah di closing diskusi, sebagai bekal para aktivis muslimah di era Post Truth ini. Pertama, membangun konsep yang berbasis evidence, konsep yang baik dan berbasis data bukan pada kepentingan dan keuntungan. Kedua, menuntut ilmu yang melewati proses tazkiah (penyucian) sehingga mengantarkan kita pada hikmah, karena kelemahan kita di Indonesia hari ini adalah sedikit sekali di negeri ini yang mampu mengambil hikmah, sehingga wajar bencana alam terjadi dimana-mana padahal tugas kita adalah untuk menjaga lingkungan dan bumi ini (Khalifah). Ketiga, kesuksesan dan kemenangan tidak akan diperoleh kalau tidak menyucikan jiwa kita, kalau Tazkiyah itu ada, maka kita akan cenderung menjadi orang yang berhati-hati, tidak termakan opini yang salah apalagi terjebak pada berita yang salah.

“Beruntunglah masih bisa bersinggungan dengan kehidupan sosial masyarakat, karena sesuatu yang kuat tidak akan pernah dibangun dari cara yang instan, maka nikmati dan maksimalkanlah proses selama menjadi aktivis. Karena masa depan kita yang menentukan.” ungkap Emi Zulaifah. (AC/Fn)

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up